Selasa, 28 April 2015

Infeksi Neonatus



KATA PENGANTAR

Alhamdulillahirobbil’alamin, puji syukur saya panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan tahmad, taufik, serta hidayah-Nya, sehingga kami dapat menyelesaikan laporan tentang Asuhan Kebidanan pada bayi “A” dengan neonates infeksi di ruang perinatologi RSUD DR. R. Koesma Tuban
Dalam pembuatan laporan ini tentunya tekah melibatkan banyak pihak, untuk itu saya mengucapkan terima kasih kepada yang terhormat :
1.    Bapak H. Miftahul Munir, SKM. , M. Kes. Selaku direktur STIKES NU Tuban yang telah memepercayakan anak didiknya untuk terjun langsung ke lahan praktek.
2.    Bapak Dr. Zainul Arifin, selaku Direktur RSUD Dr. R. Koesma Tuban yang telah memberikan kesempatan untuk saya mengaplikasikan langsung teori yang saya dapatkan di pendidikan ke lahan praktek.
3.    Ibu Sri Hariani, S.Kep. Ns selaku kepala ruangan perinatologi RSUD Dr. R. Koesma Tuban.
4.    Ibu Tin Dwi K. , S.Kep. Ns selaku pembimbing praktek klinik ruangan perinalotogu RSUD Dr. R. Koesma Tuban yang telah memberikan kesempatan dan membimbing saya dalam melaksanakan praktek di RSUD Dr. R. Koesma Tuban.
5.    Ibu Erna Ika Wijayanti, S.ST selaku pembimbing akademik Prodi DIII Kebidanan yang telah membimbing saya dalam melaksanakan praktek di ruangan bayi RSUD Dr. R. Koesma Tuban.
6.    Semua pegawai di ruang perinatologi RSUD Dr. R. Koesma Tuban. Yang telah membantu saya dalam melaksanakan praktek di ruang perinatologi RSUD Dr. R. Koesma Tuban.
7.    Kedua orangtua yang selalu mendukung dan mendo’akan atas kesuksesan saya.



Demikian pembuatan laporan ini yang dapat saya buat dan saya menyadari bahwa laporan ini jauh dari sempurna. Oleh sebab karena itu, saya sangat mengharapkan kritik serta saran yang dapat membangun demi kesempurnaan laporan asuhan kebidanan ini.

Tuban, 16 Agustus 2014


Penulis























BAB I
PENDAHULUAN

1.1         Latar Belakang
Berdasarkan perkiraan World Health Organization (WHO) hampir semua (98%) dari lima juta kematian neonatal terjadi di Negara berkembang. Lebih dari dua per tiga kematian itu terjadi pada periode neonatal dini dan 42% kematian neonatal disebabkan infeksi seperti : infeksi, tetanus neonatorum, meningitis, pneumonia, dan diare (Imran chair, 2007).
Laporan WHO tahun 2005 angka kematian bayi baru lahir di Indonesia adalah 20 per 1000 kelahiran hidup. Jika angka kelahiran hidup di Indonesia sekitar 5 juta per tahun dan angka kematian bayi 20 per 1000 kelahiran hidup, berarti sama halnya dengan setiap hari 246 bayi meninggal, setiap 1 jam 10 bayi di Indonesia meninggal. Jadi setiap 6 menit  1 bayi meninggal. (Roesli Utami, 2008)
Infeksi pada neonates merupakan sebab yang penting terhadap terjadiny morbiditas dan mortalitas selam periode ini yaitu kurang lebih 2 % janin dapat terinfeksi in utero dan 10% bayi baru lahir terinfeksi selama persalinan atau dalam bulan pertama kehidupan.
Infeksi neonatus adalah infeksi yang terjadi pada neonatus, dapat terjadi pada masa antenatal, perinatal, dan post partum. Angka kejadian infeksi neonatal masih cukup tinggi dan merupakan penyebab kematian utama pada neonatus. Hal ini dikarenakan neonatus rentan terhadap infeksi. Kerentanan neonatus terhadap infeksi dipengaruhi oleh berbagai faktor, antara lain kulit dan selaput lendir yang tipis dan mudah rusak, kemampuan fogositosis dan leukosit immunitas masih rendah. Immunoglobilin yang kurang efisien ndan luka umbilicus yang belum sembuh. (Surasmi, 2008).
Infeksi pada neonatus lebih sering ditemukan pada BBLR. Infeksi sering ditemukan pada bayi yang lahir di rumah sakit di bandingkan dengan bayi yang lahir di luar rumah sakit. Dalam hal ini tidak termasuk bayi yang lahir dengn cara septic. Segala bentuk infeksi pada bayi merupakan hal yang lebih berbahaya dibandingkan dengan infeksi yang terjadi pada anak atau dewasa. Ini merupakan alas an mengapa bayi baru lahir harus dirawat dengan ketat bila dicurigai mengalami infeksi.
Infeksi pada bayi baru lahir (BBL) sering sekali menjalar infeksi umum sehingga gejala umum tidak menonjol lagi. Beberapa gejala tingkah laku BBL diatas adalah malas minum, gelisah, atau mungkin tampak letargi, frekuensi pernapasan meningkat, berat badan tiba-tiba menurun, muntah dan diare.

1.2         Tujuan
1.2.1   Tujuan umum
Setelah mempelajari, memahami dan penggunaan managemen kebidanan ini diharapkan dapat mengaplikasikan teori yang telah di dapatkan dengan kasusu yang ada di lapangan, sehingga mampu memberikan pelayanan yang bermutu dan mendukung peran, tugas dan tanggung jawab bidan pada neonatus dengan infeksi.
1.2.2   Tujuan khusus
·      Mahasiswa dapat melakukan pengkajian terhadap\ kasus yang masih diambil.
·      Mahasiswa dapat menetapkan diagnosa dari pengkajian yang dilakukan.
·      Mahasiswa dapat menetapkan tindakan yang harus segera dilakukan sesuai dengan diagnosa yang ditetapkan.
·      Mahasiswa mampu melaksanakan asuahn yang sudah direncanakan.
·      Mahasiswa dapat melakukan evaluasi asuhan dilakukan berdasarkan SOAP.

1.3         Ruang Lingkup
Dalam laporan ini pembahasan dibatasi pada asuhan kebidanan pada bayi / neonatus dengan infeksi atau infeksi neonatus di ruang bayi RSUD Dr. R. Koesma Tuban.

1.4  Metode Penulisan
1.    Praktek lapangan
Metode ini dibuat berdasarkan kasus yang ditemukan pada praktek lapangan.
2.    Teknik pengumpulan data
a.    Wawancara / anamnesa
Data diambil dengan melakukan Tanya jawab dengan keluarga bayi.
b.    Observasi dan pemeriksaan fisik
Data diperoleh dari teknik inspeksi, palpasi, auskultasi dan perkusi.
c.    Pemeriksaan penunjang
Data diperoleh dari hasil pemeriksaan Laboratorium
3.    Tinjauan Pustaka
Dibuat berdasarkan sumber buku yang ada dan disesuaikan dengan kasus lapangan.

1.5         Pelaksanaan
Praktek lapangan dilaksanakan di ruang neonatus RSUD Dr. R. Koesma Tuban mulai tanggal 11 agustus 2014 sampai tanggal 23 agustus 2014.

1.6         Sistematika Penulisan
BAB I
Berisi pebdahuluan yang terdiri atas latar belakang, tujuan umum, tujuan khusus, ruang lingkup, dan sistematika penulisan.
BAB II
Berisikan tinjauan pustaka yang terjadi daei konsep dasar bayi dengan infeksi dan konsep dasar asuhan kebidanan menurut Hellen Varney
BAB III
Berisikan tinjauan kasus yang terjadi dari pengumpulan data, identifikasi, diagnosa / masalah, identifikasi diagnosa potensial, identifikasi tindakan segera atau kolaborasi, intervensi, implementasi dan evaluasi.
BAB IV
Terdiri dari kesimpulan dan saran
DAFTAR PUSTAKA




BAB II
LANDASAN TEORI

2.1     Konsep Dasar Infeksi Neonatus
2.1.1 Definisi
Infeksi neonatus adalah infeksi yang terjadi pada neonatus, dapat terjadi pada masa antenatal, perinatal dan post partum.
Infeksi neonatorum atau infeksi adalah infeksi bakteri umum generalista yang biasanya terjadi pada bulan pertama kehidupan yang menyebar ke seluruh tubuh bayi baru lahir. Infeksi adalah sindroma yang dikarakteristikkan oelh tanda-tanda klinis dan gejala-gejala infeksi yang parah yang dapat berkembang ke arah septisemia dan syok septic (Doenges, Marlyn E, 2000). Septemia menunjukkan munculnya infeksi sistemik pada darah bayi yang disebabkan oleh penggandaan mikroorganisme secara cepat dan zat-zat racunnya yang mengakibatkan perubahan psikologis yang sangat besar.
Infeksi merupakan respon tubuh terhadap infeksi yang menyebar melalui darah dan jaringan lain. Infeksi terjadi pada kurang dari 1% bayi baru lahir tetapi merupakan penyebab dari 30% kematian pada bayi baru lahir.
2.1.2 Etiologi
a. Menurut Blane (1961) infeksi pada neonatus bisa melalui beberapa cara :
1. Infeksi antenatal
Kuman mencapai janin melalui peredaran darah ibu ke placenta. Kuman melewati placenta dan mengadakan intervilositas masuk ke vena umbilicus samapi ke janin kuman teresebut seperti : virus : rubella, poliomelisis, koksakie, variola, dll. Spirokaeta : sifilis. Bakteri : jarang sekali kecuali E. Colli dan listeria.
2. Infeksi intranatal
·  Pemeriksaan vaginal yang terlalu sering
·  Partus yang lama
3.    Infeksi post partum
     Penggunaan alat-alat perawatan yang tidak steril

4.    Cross infection
Infeksi yang telah ada di rumah sakit.
b. Menurut jenis infeksi
1.Infeksi bacterial
Banyak bakteri yang dapat menyebabkan infeksi sistemik dengan infeksi dapat bersifat congenital maupun di dapat seperti : Lysiteria app., Mycobacterium tubercolosis, E. Collli, pnemokokus, enterokokus, streptokokus (sering grup B stertococus / GBS) dan stofilococus, pseudomonas spp. Dan klesiella. Selain menyebabkan infeksi sistematik, infeksipun dapat bersifat local seperti terjadinya infeksi kulit, pneumonia, osteomielitis, artitis, ototis media, infeksi pada saluran pencernaan dan uorgenital.
2. Infeksi virus
Yang sering menyebabkan infeksi congenital / transplacenta antara lain CMV / cytomegallo virus, Rubella, parvo virus, HIV. Sedangkan yang sering menyebabkan infeksi yang di dapat antara lain Herpes simplex virus, varicella zoster virus, hepatitis B RSV / Respiratory Sycncial Virus.
3.                Infeksi parasit / jamur
Sering disebabka oleh kandida yang dapat bersifat infeksi local maupun sistemik. Infeksi biasanya adalah infeksi yang di dapat. Infeksi congenital yang sering ditemukan adalah toxoplasma dan syphilis, keduanya sering menimbulkan kelainan/ cacat congenital.
2.1.3 Pembagian Infeksi
1. Infeksi dini
Terjadi 7 hari pertama kehidupan
Karakteristik : sumber organisme pada saluran genital ibu dan atau cairan amnion, biasanya fulminan dengan angka mortalitas tinggi.
2. Infeksi lanjutan / nosokomial
Yaitu terjadi setelah minggu pertama kehidupan dan di dapat dari lingkungan pasca lahir.
Karakteristik : di dapat dari kontak langsung atau tak langsung dengan organisme yang ditemukan dari lingkungan tempat perawatan bayi, sering mengalami komplikasi.
2.1.4 Klasifikasi
1. Infeksi berat (Major Infection)
a. Sifilis Congenital
     Biasanya terjadi pada masa antenatal, yang di sebabkan oleh Treponemapallidum. Akibat sifilis terhadap ibu dan janin tergantung pada berat infeksi pada ibu, bilamana pada masa kehamilan terjadi infeksi, pengobatan yang diberikan selama hamil infeksi pada janin timbul sesudah kehamilan 14 minggu karena spirokaeta tidak dapat melintasi lapisan sel langhans pada placenta muda.
b. Sepsis neonatorum
     Dapat terjadi pada antenatal dan postnatal. Sepsis merupakan keberadaaan mikroorganisme atau toksinnya di dalam darah atau jaringan lainnya.
c.    Meningitis
     Biasanya di dahului sepsis, penyebab utamanya adalah E. Colli pneumokokus, stafilococcus, dan sebagainya.
d.    Pneumonia congenital
     Terjadi pada masa intranatal karena adanya aspirasi likuor amnion yang septic. Pneumonia harus dicurigai kalau ketuban pecah lama, air ketuban keruh berbau, dan terdapat kesulitan bernafas pada saat bayi baru lahir.
e.    Pneumonia aspirasi
f.      Terjadi pada masa post natal, merupakan penyebab kematian utama pada BBLR, terjadi aspirasi pada saat pemberian makanan karena reflek menelan dan batuk yang belum sempurna.
g.    Pneumonia stafilokokus
     Biasanya terjadi pada neonatus yang lahir di rumah sakit. Penyebabnya yaitu stafilokokus yang terdapat di suatu tempat di badan, kemudian menyebar ke paru.
h.    Diare epidemic
     Infeksi yang menyebabkan kematian yang tinggi, disebabkan oleh salmonelasisi, gastroenteristis E. Colli yang bersifat pathogen.
i.      Pidonefritis
     Infeksi yang mengenai ginjal bayi.
j.      Ostitis akut
     Disebabkan oleh metatastis sarang infeksi stafilokokus
k.    Tetanus nenatorum
l.      Disebabkan oleh clostridium tetani nyang bersifat anaerob dan mengeluarkan eksotopin yang neurotropik.
2. Infeksi ringan
a. Pemfrigus neonatorum
     Gelembung jernih yang kemudian berisi nanah lalu kemudian di kelilingi daerah kemerahan pada kulit disebabkan oleh stafilokokus. Gelembung ini dapat terjadi berupa ganda menyebabkan gejala-gejala umum yang berat, kadang-kadang kulit terkelupas dna terjadu dermatitis.
b. Oftalmia neonatorum
     Infeksi ogenokokus pada konjungtiva waktu melewati jalan lahir. Selain itu penyakit ini dapat ditularkan melalui tangan perawat yang kadang terkontaminasi kuman.
c.    Infeksi pusat
     Disebabkan oleh stafilokokus aereus sehingga menimbulkan nanah, edema dan kemerahan pada ujung pusat.
d.    Moniliasis kandida albikans
     Merupakan jamur yang sering ditemukan pada bayi yang dapat menyebabkan stomatitis, diare, dermatitis, dan lain-lain. Jamur ini secara cepat menimbulkan infeksi ketika daya tahan  tubuh bayi turun.
2.1.5 Patofisiologi
Infeksi dimulai dengan invasi bakteri dan kontaminasi sistemik. Pelepasan endoskrin oleh bakteri menyebabkan perubahan fungsi miokardium, perubahan ambilan dan penggunaan oksigen, terhambatnya fungsi mitokondria, dan kekacauan metabolic yang progresif. Pada infeksi yang tiba-tiba dan berat, complement cascade menimbulkan banyak kematian dan kerusakan sel. Akibatnya adalah penurunan fungsi jaringan, asidosis metabolic dan syok. Yang menyebabkan disseminated Intravaskuler Coagulation (DIC) dan kematian.     Faktor-faktor yang mempengaruhi kemungkinan infeksi secara umum berasal dari tiga kelompok, yaitu :
1.      Faktor maternal
a.       Status social ekonomi ibu, ras dan latar belakang. Mempengaruhi kecenderungan terjadinya infeksi dengan alas an yang tidak diketahi sepenuhnya. Ibu yang berstatus social ekonomi rendah mungkin nutrisinya buruk dan tempat tinggalnya padat dan tidak higienis.
b.      Status paritas
Wanita multipara atau gravid lebih dari 3 dan umur ibu kurang dari 20 tahun atau lebih dari 30 tahun.
c.       Kurangnya perawatan prenatal
d.      Ketuban pecah dini
e.       Prosedur selama persalinan
2.      Faktor Neonatal
a.       Prematuritas (berat badan bayi kurang dari 1500 gram)
Merupakan faktor resiko utama untuk infeksi neonatal. Umumnya immunitas bayi kurang bulan lebih rndah dari pada bayi cukup bulan. Transfor immunoglobulin melalui placenta terutama terjadi pada paruh terakhir trisemester ketiga. Setelah lahir, konsentrasi immunoglobulin serum terus menurun, menyebabkan hipogamaglobulinemia berat. Imaturitas kulit juga melemahkan pertahanan kulit.
b.      Definisi imun
Neonatus bisa mengalami kekurangan IgG spesifik, khususnya terhadap streptokokus atau haemophilus influenza. IgG dan IgA tidak melewati placenta dan hampir tidak terdeteksi dalam darah tali pusat. Dengan adanya hal tersebut aktivitas lintasan komplemen terhambat, dan C3 serta faktor B tidak diproduksi sebagai respon terhadap lipopolisakarida. Kombinasi antara defisiensi imun dan penururnan antibodi total dan spesifik bersama dengan penurunan fibronektin, menyebabkan sebagian besar penurunan aktivitas opsonisasi.
c.       Laki-laki dan kehamilan kembar
Insiden infeksi pada bayi laki-laki empat kali lebih besar dari pada bayi perempuan.
3.      Faktor lingkungan
a.       Pada defisiensi imun bayi cenderung mudah sakit sehingga sering memerlukan prosedur invasive, dan memerlukan waktu perawatan dirumah sakit lebih lama. Penggunaan kateter vena/arteri maupun kateter nutrisi parental merupakan tempat masuk bagi mikroorganisme pada kulit yang luka. Bayi juga mungkin terinfeksi akibat alat yang terkontaminasi.
b.      Paparan terhadap obat-obatan tertentu, seperti steroid, bisa menimbulkan resiko pada nonatus yang melebihi resiko penggunaan antibiotic spectrum luas, sehingga menyebabkan kolonisasi spectrum luas, sehingga menyebabkan resisten berlipat ganda.
c.       Kadang-kadang di ruang perawatan terhadap epidemic penyebaran mikroorganisme yang berasal dari petugas (infeksi nosokomial), paling sering akibat kontak tangan.
d.      Pada bayi yang minum ASI, spesies lactobacillus dan E. Colli di temukan hanya di dominasi oleh E. Colli saja.
Mikroorganisme atau kuman penyebab infeksi dapat mencapai neonatus melalui beberapa cara, yaitu :
·         Pada masa antenatal atau sebelum lahir pada masa antenatal kuman dari ibu setelah melewati placenta dan umbrilikus masuk ke dalam tubuh bayi melalui sirkulasi darah janin. Kuman penyebab infeksi adalah kuman yang dapat menembus placenta, antara lain virus vubella, herpes, sitomegalo, koksaki, hepatitis, influenza, parotitis. Bakteri yang dapat melalui jalur ini antara lain malaria, sifilis, dan toxplasma.
·         Pada masa intranatal atau saat persalinan infeksi saat persalinan terjadi karena kuman yang ada pada vagina dan serviks naik mencapai korion dan amnion. Akibatnya, terjadi amnonitis dan korionitis , selanjutnya kuman melalui umbilicus masuk ke tubuh bayi. Cara lain yaitu saat persalinan, cairan amnion yang sudah terinfeksi dapat terinhalasi oleh bayi dan masuk ke dalam traktus digestives dan traktus respiratoris, kemudian menyebabkan infeksi pada lokasi tersebut. Selain melalui cara tersebut diatas infeksi pada janin dapat melalui kulit bayi atau “ port de entre” lain saat bayi melewati jalan lahir yang terkontaminasi oleh kuman (misal : herpes genetalis, candida albican dan gonorrhea)
·         Infeksi pascanatal atau sesudah persalinan. Infeksi yang terjadi sesudah persalinan/ kelahiran umunya terjadi akibat infeksi nosokomial dari lingkungan di luar rahin (misal : melalui alat-alat pengisap lendir, selang endotrakea, infus, selang nasagastrik, botol minuman, atau dst). Perawat atau profesi lain yang ikut menangani bayi dapat menyebabkan terjadinya infeksi nosokomial.
2.1.6 Tanda dan gejala
1. Umum : panas, hipoermia, tampak tidak sehat, malas minum, letargi, sklerema.
2. Saluran cerna : distensi abdomen, anoreksia, muntah, hipotomegali.
3. Saluran nafas : apnea, dispnea, takspnea, retraksi, nafas cuping hidung, merintih sianosis.
4. Sistem kardiovaskuler : pucat, sianosis, kulit marmoratu, kulit lembab, hipotensi, takikardi, bradikardia.
5. Sistem saraf pusat : invitabilitas, tremor, kejang, hiporeflerksi, malas minum, pernapasan tidak teratur, ubun-ubun menonjol, high pitched cry
6. Hematologi : Ikterus, splenomegali, pucat, petekie, purpura, perdarahan
(Kapita Selekta Kedokteran Jilid II)
Gejala infeksi yang terjadi pada neonatus anatar lain, bayi tampak lesu, tidak kuat menghisap, denyut jantung lambat, suhu tubuh naik turun. Gejala –gejala lainnya dapat berupa gangguan pernapasan, kejang, jaundice, muntah, diare, dan perut kembung,
Gejala dan infeksi neonatorum juga tergantung kepada sumbber infeksi dan penyebaran :
-                                                                   Infeksi pada tali pusat (omfalitis) menyebabkan keluarnya nanah atau
darah dari pusar.
-  Infeksi pada selaput otak (meningitis) atau abses otak menyebabkan koma, kejang, epsitotonus (posisi tubuh melengkung ke depan) atau penonjolan pada ubun-ubun.
-  Infeksi pada tulang (ostemiolisis) menyebabkan terbatasnya pergerakan pada lengan atau tungkai yang terkena
-                                                                   Infeksi pada persendian menyebabkan pembengkakan, kemerahan, nyeri
tekan dan sendi yang terkena teraba hangat.
-                                                                   Infeksi pada selaput perut (perilositis) menyebabkan pembengkakan perut
dan diare berdarah.
2.1.7 Komplikasi
1. Meningitis
2. Hipogikemia, asidosis metabolic
3. Koagulopati, gagal ginjal, disfungsi miokard, perdarahan intracranial
   4. Ikterus / kernik terus
2.1.8 Manifestasi klinis
Manifestasi klinis dari infeksi neonatus dimulai tanpa gejala, tanda-tanda ringan, menggigil, irirtabel,letargi, gelisah, dan keinginan menyusu yang kurang dapat menjadi tanda-tanda utaam. Temperatur yang tidak stabil dapat meninggi atau kurang dari normal (biasanya hipotermia pada BBLR). Perubahan warna kulit, lambatnya waktu pengisian kapiler, perubahan denyut jantung, frekuensi napas, berat badan tiba-tiba turun, pergerakan kurang, muntah dan diare menjadi nyata pada keadaan penyakit yang progresif. Selain itu dapat terjadi edema, salerema purpura atau perdarahan, ikterus, hepatosplenomegali, dan kejang umumnya dapat dikatakan bila bayi itu “not doing well” kemungkinan besar dia menderita infeksi. Manifestasi lainnnya adalah data laboratorium yang tidak stabil khususnya hipoglikenial dan netropenia.
2.1.9 Diagnosa
Diagnosa dapat dikonfirmasikanm dengan kultur darah yang positif. Kultu ini dapat memakan waktu 48 jam. Sedangkan perjalanan sepsis dapat mengakibatkan kematian dalam beberapa jam. Oleh karena itu kita harus memulai terapi antibiotic secepatnya. Antibiotik dapat tidak dilanjutkan bila kultur darah negative atau bayi tidak menunjukkan gejala sepsis.
Neonatus teutama BBLR yang dapat tetap hidup selama 72 jam pertama bayi tersebut menunjukkan gejala penyakit atau menderita penyakit congenital tertentu. Namun tingkat lakunya berubah dapat dicurigai terjadi infeksi. (Hutchinson , 1972).
Penegakan diagnosis sangat penting, yaitu disamping untuk kepentingan bayi itu sendiri juga lebih penting lagi untuk kamar bersalin dan ruang perawatan nya. Diagnosis infeksi perinatal tidaklah mudah. Tanda khas seperti yang terdapat pada bayi sering kali tidak ditemukan.Biasanya diagnosis yang ditegakkan dengan observasi yang teliti, serta akhirnya dengan pemeriksaan fisik laboratorium.
Infeksi pada neonatus cepat sekali menjalar menjadi infeksi umum, sehingga gejala infeksi local tidak menonjol lagi. Walaupun demikian, diagnosis dini dapat kita tegakkan jika kita cukup waspada terhadap tingkah laku neonatus yang sebagai pertanda awal dari permulaan infeksi umum. Menegakkan diagnosis sepsis perlu dilakukan pemeriksaan penunjang sebagai berikut :
1.    Hitung darah lengkap dengan turunannya
Yang terpenting adalah jumlah sel darah merah. Septic neonatus biasanya menunjukkan penurunan jumlah cel darah putih, yaitu kurang dari 500 mm. Hitung jenis darah juga menunjukkan banyak sel darah putih tidak matang dalam aliran darah. Banyaknya darah tidak matang dihubungkan dengan total jumlah sel drah putih diidentifikasikan bahwa bayi mengalamai respon signifikan.
2.    Platelet biasanya 150.000 sampai 300.000 pada keadaan sepsis platelet menurun, kultur darah gram negative atau positif , dan tes sensitivitas. Hasil dari kultur harus tersedia  dalam beberapa jam dan akan mengidentifikasikan juumlah dan jenis bakteri kultur darah atau sensitivitas membutuhkan waktu 24-48 jam untuk mengembangkan dan mengidentifikasikan jenis pathogen serta antibiotic yang sesuai.
3.    Lumbal pungsi untuk kultur dan tes esnsitivitas pada cairan serebrospinal. Hal ini dilakukan jika ada indikasi infeksi neuron.
4.    Kultur urinea Kultur permukaan (Surface culture) untuk mengidentifikasi kolonisasi, tidak spesifik untuk infeksi bakteri.
2.1.10 Pencegahan Infeksi Pada Neonatus
Cara pencegahan pada neonatus dapat dibagi menjadi sebagai berikut : Pencegahan infeksi neonatus sudah harus dimulai dari :
1.    Cara umum periode antenatal
Infeksi ibu harus diobati dengan baik, misalnya infeksi umum, lekorea dan lain-lain. Dikamar bersalin harus ada pemisah yang sempurna antara bagian yang sepsis dengan asepttik. Pemisah ini mencakup mangan, tenaga perawatan, serta alat kedokteran dan alat keperawatan. Ibu yang akan melahirkan sebelumnya masuk kamar bersalin. Pada kelahiran bayi, pertolongan harus dilakukan secara aseptic. Suasan dikamar bersalin harus sama dengan suasana di kamar bayi yang baru lahir. Apabila operasi alat yang digunakan harus steril. Harus ada pemisah yang sempurna untuk bayi yang baru lahir dengan partus aseptic dan partus septic. Pemisahan ini mencakup personalia, fasilitas keperawatan, dan alat yang digunakan. Selain itu juga dilakukan pemisah terhadap bayi yang menderita penyakit menular. Perawat harus mendapatkan pendidikan khusus dan mutu pelayanan harus baik, apalagi bila kamar perawatan bayi berupa satu kamar perawatan yang khusus. Sebelum dan sesudah memegang bayi harus cuci tangan. Mencuci tangan dengan sabun antiseptic.
2.    Cara khusus pada beberapa keadaan, misalnya ketuban pecah lama(lebih dari 12 jam) air ketuban keruh, infeksi sistemik pada ibu, partus yang lama dan banyak manipulasi intraviginal. Resusitasi dengan penggunaan antibiotic yang banyak dan tidak terarah dapat menimbulkan jamur yang berlebihan, seperti kandida albikans. Sebaliknya bila terlambat memberikan antibiotic  pada penyakit infeksi neonatus, sering berakibat kematian. Hal ini dapat disimpulkan sebagai berikut : bila kemampuan pengawasan klinis dan laboratoirum cukup baik, sebaiknya tidak memberikan antibiotic profilaksis, antibiotika baru diberikan kalu sudah terdapat tanda infeksi.
2.1.11                                                                     Pelaksanaan
1.    Suportif
-       Lakukan monitoring cairan elektrolit dan glukosa
-       Berikan koreksi jika terjadi hipovdemia, hipokalsemia dan hipoglikemia.
-       Bila terjadi SIADN (Syndrome of Inappropiate Anti Dieuretik Hormon) batasi cairan
-       Atasi syok, hipoksia, dan asidosis metabolic
-       Awasi adanya hiperbilirubinemia
-       Lakukan transfuse tukar bila perlu
-       Pertimbangkan nutrisi parenteral bila pasien tidak dapat menerima nutrisi enteral.
2.    Kausatif
Antibiotik diberikan sebelum kuman penyebab diketahui. Biasanya digunakan golongan penicillin seperti ampicilin ditambah tminoglileosida seperti Gentamicin. Pada infeksi nosokomial, antibiotic diberikan dengan mempertimbangkan flora di ruang perawatan, namun sebagai terapi inisial biasanya di berikan van komisin dan aminoglikosida atau sefalosforin  generasi ketiga.Setelah dapat hasil biakan dan uji sistematis di berikan antibiotic yang sesuai. Terapi dilakukan selama 10 – 14 hari. Bila terjadi meningitis, antibiotic diberikan selama 14 – 21 hari dengan dosis sesuai untuk meningitis. Pada masa antenatal meliputi pemeriksaan kesehatan ibu secara berkala, imunisasi, pengobatan, terhadap penyakit infeksi yang diderita ibu. Asupan gizi yang memadai, penanganan segera terhadap keadaan yang dapat menurunkan kesehatan ibu dan janin. Rujuk ke tempat pusat kesehatan bila diperlukan. Pada masa persalinan, perawatan ibu selama persalinan dilakukan secara akseptic. Pada masa pasca persalinan rawta gabung bila bayi normal, pemberian ASI secepatnya, juag lingkungan dan peralatan tetap bersih, perawatan lukan umbilicus secara steril.

2.2       Konsep Dasar Oligohidramnion
2.2.1   Definisi
Oligohidramnion adalah suatu keadaan dimana air ketuban kurang dari normal, yaitu kurang dari 500 cc.
Oligohidramnion adalah kondisi dimana cairan ketuban terlalu sedikit, yang didefinisikan sebagai indeks cairan amnion (AFI, Amnion Fluid Index), di bawah persentil. Volume cairan ketuban meningkat selama masa kehamilan, dengan volume sekitar 30 ml pada 10 minggu kehamilan dan puncaknya sekita 1 L di 34-36 minggu kehamilan.
2.2.2   Etiologi
Etiologi belum jelas, tetapi disangka ada kaitannya dengan renal agenosis janin. Etiologi primer lainnya mungkin karena amnion kurang baik pertumbuhannya dan etiologi sekunder lainnya, misalnya pada ketuban pecah dini.
Oligohidramnion biasanya dikaitkan dengan salah satu kondisi berikut :
1.    Pecahnya membrane ketuban
2.    Masalah congenital tidak adanya jaringan ginjal fungsional atau uropati obstruktif seperti kondisi yang mencegah pembentukan urine atau masuknya urine ke dalam kantung ketuban dan malformasi saluran kemih janin.
3.    Penurunan perfusi ginjal yang menyebabkan produksi urine berkurang
4.    Kehamilan post term
5.    Gangguan pertumbuhan janin
6.    Kelainan ginjal bawaan pada janin sehingga produksi urin sedikit.        Padahal urine termasuk sumber utama air ketuban
7.    Kehamilan lewat waktu sehingga fungsi placenta atau ari-ari menurun
8.    Penyakit ibu, seperti darah tinggi, diabetes, gangguan pembekuan darah           dan penyakit otoimun seperti lupus.
2.2.3   Patofisiologis
Sindroma potter dan fenotip potter adalah suatu keadaan kompleks yang berhubungan denganoligohidramnion (cairan ketuban yang sedikit).
Fenotip potter digambarkan sebagai suatu keadaan khas pada bayi baru lahir diman cairan ketuban sangat sedikit atau tidak ada. Oligohidramnion menyebabkan bayi tidak memiliki bantalan terhadap dinding rahim. Tekanan dari dinding rahim menyebabkan gambaran wajah yang khas (wajah potter). Selain itu karena ruangan di dalam rahim sempit,maka anggota gerakan tubuh menjadi abnormal atau mengalami kontraktur dan terpaku pada posisi abnormal.
Oligohidramnionjuga menyebabkan terhentinya perkembangan paru-paru (paru-paru hipoplastik). Sehingga pada saat lahir paru-paru tidak berfungsi sebagaimana mestinya.
Pada sindroma potter, kelainan yang utama adalah gagal ginjal bawaan, baik karena kegagalan pembentukan ginjal ( agenesis ginjal bilateral) maupun karena penyakit lain pada ginjal yang menyrbabkan ginjal gagal berfungsi.
Dalam keadaan normal, ginjal membentuk cairan ketuban (sebagai air kemih) dan tidak adanya cairan ketuban menyebabkan gambaran yang khas dari sindroma potter.
Gejala sindroma potter berupa :
1.    Wajah potter (kedua mata terpisah jauh, terdapat lipatan epilenatus, pangkal hidung yang melebar, telinga yang rendah, dan dagu yang tertarik ke belakang).
2.    Tidak terbentuk air kemih
3.    Gawat pernapasan, wanita dengan kondisi berikut memiliki insiden olihidramnion yang tinggi :
a.    Anomali congenital ( misalnya : agenosis ginjal, sindroma potter)
b.    Retardasi pertumbuhan intra uterin
c.    Ketuban pecah dini (24-36 minggu)
d.    Sindroma paska maturitas
2.2.4                                                                                                 Gambaran klinis / gejala
a.    Uterus tampak lebih kecil dari usia kehamilan dan tidak ada ballotemen
b.    Ibu merasa nyeri diperut pada setiap pergerakan anak
c.    Sering berakhir pada partus prematurus
d.    Bunyi jantung anak sudah terdengar mulai bulan kelima dan terdengar lebih jelas.
e.    Persalinan lebih lama dari biasanya
f.      Sewaktu his akan sakit sekali
g.    Bila ketuban pecah, air ketuban sedikit sekali bahkan tidak ada yang keluar.
h.    Janin mudah berpindah tempat dan perlambatan tinggi fundus
i.      Perlambatan tinggi fundus
2.2.5   Pemeriksaan Penunjang
Pemeriksaan penunjang yang masa dilakukan :
1.    USG ibu (menunjukkan oligohidramnion serta tidak adanya ginjal janin atau ginjal yang sangat abnormal)
2.    Rontgen perut bayi
3.    Rontgen paru-paru bayi
4.    Analisa gas darah
     Cara mengeceknya :
Dengan memeriksa indeks cairan ketuban, yakni jumlah pengukuran kedalaman gambar-gambar ait ketuban di empat sisi kuadran perut ibu. Dilakukan lewat USG. Nilai nominalnya berkisar antara 10-20 cm. Bila kurang dari 10 cm disebut air ketuban telah berkurang jika kurang dari 5 cm, inilah yang disebut oligohidramnion.
2.2.6   Akibat Oligohidramnion
a.    Bila terjadi pada permulaan kehamilan makan janin akan menderita cacat bawaan, keguguran, janin meninggal dan janin pertumbuhannya dapat terganggu bahkan bisa terjadi partus prematurus yaitu picak seperti kertas kusut karena janin mengalami tekanan dinding rahim.
b.    Jika terjadi pada trisemester kedua kehamilan, akan amat mengganggu pertumbuh kembang janin
c.    Bila terjadi pada kehamilan yang lebih lanjut akan terjadi cacat bawaan seperti club foot
d.    Jika terjadi pada menjelang persalinan meningkstkan resiko terjadinya komplikasi selama kelahiran. Seperti tidak efektifnya kontraksi rahim akibat tekanan di dalam rahim yang tidak seragam ke segala arah, yang berakir dengan persalinan lama.
2.2.7   Tindakan Konservatif
1.    Tirah baring atau nistirahat yang cukup
2.    Hidrasi
3.    Perbaikan nutrisi
4.    Pemanfaatan kesejahteraan janin ( hitung pergerakan janin, NST, BPP)]
5.    Pemeriksaan USG yang umum dari volume cairan amnion
6.    Amnion infusion
7.    Induksi dan kelahiran
2.2.8   Prognosis
Prognosis janin buruk pada oligohidramnion awitan dini dan hanya separuh janin  yang hidup sering terjadi persalinan premature dan kematian neonatus. Oligohidramnion dilaporkan berkaitan dengan pelekatan antara amnion dan baggian-bagian janin serta dapat menyebabkan cacat serius termasuk amputasi. Selain itu dengan tidak adanya cairan amnion, janin mengalami tekanan dan semua sisi dan menunjukkan penampilan yang aneh disertai cacat musculoskeletal seperti jari tubuh.
2.2.9   Diagnosis Oligohidramnion
Untuk mengetahui oligohidramnion dengan jelas dapat dilakukan tindakan omnioskopi dengan alat khusus amnioskop
Indikasi amnioskop adalah :
1.    Usia kehamilan sudah diatas 37 minggu
2.    Terdapat pre-eklampsia berat dan eklampsia
3.    Bad obstetric history
4.    Terdapat kemungkinan IUGR
5.    Kelainan ginjal
6.    Kehamilan post date
Hasil yang diharapkan adalah :
1.        Kekeruhan air ketuban
2.        Pewarnaan dengan mekonium
Komplikasi tindakan amnioskop adalah :
1.    Terjadi persalinan premature
2.    Ketuban pecah menimbulkan persalinan premature
3.    Terjadi perdarahan perlukaan kanaks serviks
4.    Terjadi infeksi asendens

2.3         Konsep Dasar Kehamilan Lewat Waktu (Post date)
2.3.1   Definisi
Kehamilan adalah pertemuan sel-sel telur dengan sperma ( konsepsi/pembuahan) yang kemudian menempel pada endometrium (nidasi). Tumbuh dan berkembang menjadi janin yang mana membutuhkan waktu selama 40 minggu.
Kehamilan lewat waktu (post date) adalah kehamilan yang berlangsung selama lebih dari 42 minggu dihitugn berdasarkan rumus Neegle dengan siklus haid rata-rata 28 hari.
2.3.2   Etiologi
Etiologi pasti belum diketahui. Faktor yang mempengaruhi adalah hormonal yaitu kadar progesterone tidak dapat cepat turun walaupun kehamilannya telah cukup bulan sehingga uterus terhadap oksitiosin berkurang. Faktor lain adalah faktor heredite karena post maturitas sering dijumpai pada keluarga tertentu.
2.3.3   Diagnosis
a.    Bila HPHT di cacat dan diketahui wanita hamil diagnosis tidak sukar
b.    Bila wanita tidak tahu, lupa, atau tidak ingat atau sejak melahirkan yang lalu tidak dapat haid  dan kemudian menjadi hamil, hal ini akan sukar memastikannya hanyalah dengan pemeriksaan antenatal  yang teratur dapat diketahui tinggi dan naiknya fundus uteri, mulai gerakan janin dan besarnya janin dapat membantu diagnosis.
c.    Pemeriksaan BB ibu diikuti kapan menjadi berkurang begitu pula lingkaran perut dan jumlah air ketuban apakah berkurang
d.    Amnioskopi : melihat derajat kekeruhan air ketuban
e.    Kardiotografi :mengawasi dan membaca denyut jantung janin
f.      Uji oksitosin
g.    Pemeriksaan estriol dalam urine
h.    Pemeriksaan Ph darah kepala janin
i.      Pemeriksaan sitologi vagina
2.3.4   Pengaruh terhadap ibu dan janin
a.    Terhadap ibu
Persalinan  post matur dapat menyebabkan dostusia, karena :
·      Aksi uterus tidak terkoordinir
·      Janin besar
·      Moulding (molage) kepala ruang
Maka akan dijumpai partus lama, kesalahan letak, inersia uteri, distusia bahu dan perdarahan post partum
b.    Terhadap janin
Jumlah kematian janin/bayi pada kehamilan 43 minggu 3 kali lebih besar darikehamilan 40 minggu karena psot maturitas / post date akan menambah bahaya pada janin, pengaruh post date pada janin bervariasi : BB janin dapat bertambah besar, tetap, dan ada yang berkurang sesudah kehamilan 42 minggu.
2.3.5   Manifestasi Klinis
a.   Keadaan klinis yang dapat ditemukan jarang lalah gerakan janin yang jarang , yaitu secara subjektif kurang dari 7 kali per 30 menit atau secara objrktif dengan KTE kurang dari 10kali per 30 menit.
b.   Pada bayi akan ditemukan tanda-tanda lewat waktu sebagai berikut :
·      Stadium I, kulit kehilangan vernik kaseola dan terjadi maserasi sehingga kulit kering, rapuh dan mudah mengelupas.
·      Stadium II, seperti stadium I disertai pewarnaan mekonium, kehijauan dikulit.
·      Stadium III, seperti stadium I disertai pewarnaan kekuningan pada kuku, kulit dan tali pusat.
2.3.6   Pemeriksaan Penunjang
a.    USG untuk menilai usia kehamilan, oligohidramnion, dan derajat maturitas plasenta.
b.    Penilaian warna air ketuban dengan amnioskopi atau amniotomi (tes tanpa tekanan dinilai apakah reaktif atau tidak dan tes tekanan oksitosin).
c.    Pemeriksaan sitologi vagina dengan indeks kanopiknotik > 20%
2.3.7   Penatalaksanaan
a.    Setelah usia kehamilan lebih dari 40 – 42 mg yang penting adalah monitoring janin sebaik-baiknya.
b.    Apabila tidak ada tanda-tanda infusiensi placenta, persalinan spontan ditunggu dengan pengawasan ketat.
c.    Lakukan PD untuk melihat kematangan serviks, kalau sudah matang boleh melakukan dengan induksi persalinan.
d.    Dapat juga dilakukan SC

2.4         Konsep Dasar Manajemen Asuhan Kebidanan Menurut Hellen Varney
2.4.1   Pengkajian atau pengumpulan data
1.    Data subjektif
a.    Biodata / identitas klien :
1.                                                              Nama pasien
    Agar dapat mengenal atau memanggil sesuai nama dan tidak keliru dengan yang lain
2.                                                              Umur
 Untuk mempermudah komunikasi, menentukan dosis obat dan terapi
3.                                                              Suku/bangsa
  Untuk mempermudah komunikasi, kebiasaan dan tradisi
4.                                                              Pekerjaan
   Mengetahui social ekonominya
5.                                                              Pendidikan
Agar motivasi yang diberikan petugas dapat sesuai dengan tingkat pengetahuaannya.
6.                                                              Agama
  Berhubungan dengan perawatan klien.
7.                                                              Alamat
   Untuk memperjelas kelengkapan identitas klien
2.    Data Objektif
a.    Pemeriksaan umum meliputi TTU keadaan umum
b.    Pemeriksaan kebidanan meliputi :
o  Inspeksi
-       Rambut : bagaimana keadaan kulit kepala, adakah kelainan
-       Wajah    : bagaimana keadaan wajahnya tampak pucat atau tidak
-       Hidung    : bagaimana hidungnya ada polip atau tidak
-       Mulut      : bagaimana mulutnya apa ada bibir kering dan berwarna  
  merah atau tidak
-       Telinga    : apakah ada serumen bagaimana kebersihannya
-       Leher      : adakah pembesaran pada kelenjar tiroid, limfe dan vena jugularis atau tidak
-       Dada      : adakah lajerasi atau tidak
-       Abdomen : bagaimana bentuk dari abdomen
-       Genetalia       : adakah kelainan atau tidak
-       Ekstremitas    : bagaimana keadaan ekstremitas atas dan bawah

o  Palpasi
-       Paru-paru adakah nyeri tekan atau tidak
-       Abdomen adakah nyeri tekan atau tidak
-       Hidung adakah fraktur atau tidak, adakah pernapasan cuping hidung atau tidak
-       Leher adakah pembesaran pada kelenjar limfe tiroid vena jugularis atau tidak


o  Auskultasi
-       Dada apa ada suara nafas rhonky, whisisngstider atau tidak
2.4.2   Antisipasi diagnosa oleh masalah potensial
          Langkah ini berdasarkan diagnosa masalah yang sudah teridentifikasi yaitu merupakan pencegahan atau penanganan
2.4.3   Identifikasi kebutuhan segera
Yaitu pelayanan yang segera dilakukan demi keselamatan jiwa sang ibu dan anak.
2.4.4   Intervensi
Langkah ini lanjutan setelah diagnosa kebidanan ditegakkan yang mencakup tujuan, criteria, langkah-langkah yang akan dilakukan serta rasional tindakan dalam melakukan untervensi untuk memecahkan masalah klien dan criteria yang dicapai.
2.4.5   Implementasi
Implementasi merupakan penyelesaian suatu rencana kebidanan yang dilakukan bidan secara mandiri, kolaborasi maupun rujukan selama bidan mengawasi dan memonitor kemajuan klien
2.4.6   Evaluasi
Adakah tindakan pengukuran antara keberhasilan dan rencana tindakan yang brtujuan untuk mengetahui sejauh mana keberhasikan tindakan kebidanan yang dilakukan sesuai criteria yang di tetapkan.
Berdasarkan evaluasi selanjutnya asuhan kebidanan di tuliskan dalam catatan peerkembangan yang mencakup SOAP :
o  S (Subjektif)       : data yang didapat dari pertanyaan klien secara langsugn maupun keluarga
o  O (Obyektif)      : data yang diperoleh dari hasil observasi dan pemeriksaan
o  A (Assesment)    : pernyataan gangguan yang terjadi atas data 1 dan data 0
o  P (Planing)          : Perencanaan yang ditentukan sesuai dengan masalah
  yang terjadi.


BAB III
TINJAUAN KASUS

3.1         Pengkajian Data
Anamnesa tanggal :     agustus 2014         jam :    Oleh : Siti Sundari
3.1.1   Pengumpulan Data (Subjektif)
1.    Identitas / Biodata
Nama bayi                 : bayi A
Umur bayi                  :
Tgl/jam/lahir               : 12 agustus 2014         jam : 16.15 wib
Jenis kelamin  : Perempuan
No. reg                      : 10.14.61
Berat badan               : 4100 gram
Panjang badan            : 51 cm

Nama Ibu       : Ny. A                         Nama Ayah      : Tn. I
Umur             : 35 tahun                     Umur                : 3 tahun
Suku/bangsa   : Jawa/Indonesia           Suku/bangsa     : Jawa/Indonesia
Agama           : Islam                          Agama             : Islam
Pendidikan     :                                   Pendidikan       :
Pekerjaan       :                                   Pekerjaan         :
Alamat           : Jl. Hayam Wuruk        Alamat             : Jalan Hayam Wuruk
        RT. 03 RW. 04                                    RT. 03 RW. 04
        DS. Bejagung                         DS. Bejagung
        Semanding Tuban                               Semanding Tuban
2.    Keluhan utama
Ibu pasien mengatakan bahwa anaknya telah lahir pada hari selasa tanggal 12 agustus 2014 jam 16.15 wib di RSUD dr. R. Koesma Tuban dengan kehamilan lewat waktu

3.    Riwayat pengakuan kehamilan
Perdarahan                 : tidak ada
Pre-eklampsia            : tidak ada
Eklampsia                  : tidak ada
Penyakit kelamin        : tidak ada
Lain-lain                     : tidak ada

4.    Kebidanan waktu hamil
Makan     : nasi, sayur, lauk pauk, makan 3x sehari dengan porsi sedang
Minum obat-obatan / jamu : Ibu mengatakan tidak pernah minum obat-
                                              obatan/ jamu selain dari bidan.
Merokok : tidak pernah
Lain-lain   : tidak ada

5.    Riwayat persalinan sekarang
§  Jenis persalinan                        : spontan
§  Ditolong oleh                           : bidan
§  Lama persalinan
-       Kala I                                 :
-       Kala II                                :
§  Ketuban pecah :
Warna : kehijauan                         bau : tidak
§  Komplikasi persalinan
§  Ibu                                          : Oligohidramnion
Bayi                                         :
§  Keadaan bayi baru lahir
Nilai APGAR                          : 8-9
6.    Riwayat penyakit yang pernah di derita
     Ibu mengatakan tidak menderita penyakit kronis seperti jantung, hipertensi, asma, hepatitis, dan DM
7.    Riwayat penyakit keturunan/keluarga
     Ibu mengatakan dari keluarga Ibu tidak pernah menderita penyakit kronis seperti diabetes militus, jantung, asma, hipertensi, dan tidak ada riwayat keturunan kembar.
8.    Pola kebiasaan
a.    Pola nutrisi : bayi A minum ASI + susu formula + 60 ml / 3 jam
b.    Pola eliminasi         : BAB 2x  dalam 7 jam
                                    BAK 4x dalam 7 jam
c.    Istirahat/ tidur        : bayi sering tidur dan bangun saat lapar dan haus   
              serta saat BAK/BAB
d.    Personal Hygiene   : bayi dimandikan 2x sehari setiap pagi dan sore  
              hari
e.    Aktivitas                : bayi bergerak aktif, emnangis

9.    Riwayat imunisasi
Bayi A telh mendapatkan injeksi vitamin K pada paha kiri sesat setelah lahir (IM), Hbo dan salep mata.
3.1.2   Data obyektif
1.    Pemeriksaan umum
KU                : Cukup                        GDA    : 48 mg/dl
Suhu              : 37 °C
RR                 : 40 x / menit
HR                 : 140 x / menit
BB                 : 4100 gram
PB                 : 51 cm
JK                 : Perempuan
2.    Peemriksaan fisik secara sistematik
a.      Inspeksi
§              Kepala dan wajah  : Ukuran proporsional dengan bentuk ubuh tidak
  terdapat benjolan, waran rambut hitam, ubun-
  ubun belum menutup, wajah tidak pucat.
§              Mata          : Simetris antara kanan dan kiri, konjungtiva
  tidak anemis, sclera tidak ikterus
§              Telinga       : Simetris antara kanan dan kiri, serumen tidak  
  ada
§              Hidung       : Lubang hidung sebelah kanan dan kiri
 simetris, tidak ada polip.
§              Gigi dan mulut        : tidak ada stomatitis, bibir tidak kering, lidah  
 tidak kotor.
§              Leher         : Tidak ada pembesaran kelenjar limfe, kelenjar tiroid dan vena jugularis
§              Dada          : simetris
§              Tali pusat dan abdomen      : Belum lepas, masih basah, tidak ada tanda-tanda infeksi tali pusat, abdomen silindris
§              Punggung   : Simetris, tidak ada kelainan tulang punggung, seperti spina bivida, skoliosis, lordosis, kifosis, dan lanugo.
§              Ekstremtas : Tidak ada kelainan jumlah jari (anadaktili, sindaktili, poli daktili)
§              Genetalia    : Labia mayora menutup labia minora, klitoris sudah terbentuk sempurna
§              Anus          : tidak ada kelainan (atresia ani)
b.    Palpasi
§          Hidung    : tidak ada fraktur, tidak ada pernapasan cuping  
  hidung
§          Leher      : tidak ada pembesaran vena tugularis, kelenjar limfe
  dan kelenjar tiroid
§          Dada       : tidak ada pembesaran jantung, pada paru-paru tidak
  ada nyeri tekan
§          Abdomen            : tidak ada nyeri tekan, tidak ada pembengkakan hepar
  (hepatomegali)
§          Ekstremitas          : akral hangat, tidak ada odema
§          Kulit        : turgor kulit baik
c.    Auskultasi
§          Dada       : - Jantung : ritme terdengar keras dan cepat, terdengar
    bunyi lup dup
-  Paru-paru : tidak ada bunyi rhonky, whising dan stledor
§            Abdomen         : tidak ada bising usus
3.    Pemeriksaan khusus
a.    Antropometri
·                                                       Lingkar kepala  :
·                                                       SOB                :
·                                                       MO                  :
·                                                       FO                   :
·                                                       Lingar dada                  :
·                                                       Lingkar lengan atas       :
b.    Reflek
Reflek moro            : bayi kaget dan bergerak aktif saat diberi
                                 rangsangan
Reflek rooting         : bayi menoleh kearah sentuhan saat wajah diberi
                                 rangsangan
Reflek graphs/plantar         : bayi menggenggam saat diberi rangsangan  
                                           sentuhan
Reflek siching          : bayi segera menghisap
Refleck tonic neck   : bayi melawan arah saat salah satu sisi kepala
                                 ditolehkan
c.    Perkembangan anak
·                                                       Gerakan motorik kasar : belum tampak
·                                                       Gerakan motorik halus :
·                                                       Komunikasi pasif          :
·                                                       Komunikasi aktif           :
·                                                       Kecerdasan                  : belum tampak
·                                                       Menolong diri sendiri    : bayi mnangis ketika lapar/haus dan ketika  
              BAB dan BAK
·                                                       Tingkah laku social       : belum tampak
4.    Pemeriksaan penunjang
Tanggal : 13 agustus 2014
GDA : 48 ml/dl

3.2         Intresprestasi Data
Diagnosa : Neonatus aterm + BMK + neonatus infeksi
DS          :
DO         : KU : Cukup
Pemfis     : # TTV  :  S     : 37°C
                                   HR  : 140 x / menit
                                   RR  : 40 x / menit
# BB bayi       : 4100 gram
# PB bayi       : 51 cm
# bayi sering menangis
#Perut tidak kembung
#Akral teraba hangat
·      Masalah                       : bayi rewel dan sering menangis
Riwayat kehamilan      : PD + Oligohidramnion
Riwayat partus            : partus sama +lilitan tali pusat 2x, ketuban keruh.

3.3         Antisipasi Diagnosa / Masalah Potensial
Diagnosa    : Neonatus aterm + BMK + neonatal infeksi
DS     : -
DO    : - PD UK 41 – 42 minggu
-       Oligohidramnion
-       Partus lama + lilitan tali pusat 2x
-       Ketuban keruh

3.4         Tindakan Segera
-       Kolaborasi dengan dokter SP.A
-       Injeksi ampicillin 2 x 210 mg
-       Berikan ASI

3.5         Rencana Asuhan yang Intervensi / Menyeluruh
Tujuan      : Neonatal, infeksi dapat teratasi
Ktiteria     : KU bayi baik

Tanda-tanda vital dalam batas normal
INTERVENSI
RASIONAL
ü Cuci tangan sebelum dan sesudah melakukan tindakan
ü  Mencegah terjadinya infeksi yang lebih parah
ü Berikan nutrisi pada bayi
ü  Memenuhi kebutuhan nutrisi pada bayi
ü Jaga personal Hygiene
ü  Untuk menjaga kebersihan bayi
ü Observasi TTV
ü  Memantau keadaan pasien
ü Observasi intake dan output
ü  Agar kebutuhan nutrisi terpenuhi
ü Lakukan perawatan tali pusat
ü  Mencegah tejadinya infrksi pada tali pusat
ü Lakukan kolaborasi dengan dokter untuk memberikan terapi :
# Injeksi ampicillin 2 x 210mg
# Foto terapi
ü  Memberikan penanganan dan perawatan yang tepat sesuai kebutuhan bayi
ü Lakukan pencatatan hasil pemeriksaan
ü  Agar setiap pemeriksaan dapat diketahui dan dapat di pantau perkembangannya











3.6         Implementasi / Pelaksanaan
Tanggal : 14 agustus 2014
No
Tanggal / jam
Implementasi
TTD
1
14 agt 2014
Jam : 04.00
Mencuci tangan dengan sabun dan air mengalir dengan 7 langkah

2
04.15
Mencuci botol susu bayi dengan air DDT

3
05.00
Memandikan bayi dan mengganti popok
Serta baju bayi dan perwawatna tali pusat

4
05.10
Menghangatkan bayi dan mengembalikan ke box

5
05.30
Observasi TTV dan keadaan umum bayi

6
05.40
Menyiapkan susu dalam botol

7
06.00
Memberikan susu dalam bayi

8
06.10
Mencatat semua hasil pemeriksaan:
·       TTU : S : 37°C
          HR : 140 x / menit
          RR : 40 x / menit
·       Berikan ASI : 30 – 60 ml / 3 jam
·       Timbang feces : 50 cc

9
08.00
Berikan injeksi ampicillin 2 x 210 mg


3.7         Evaluasi
Tanggal 14 agustus 2014                         jam : 14.00 wib
S : -
O : KU : baik
      S    : 37°C
      HR : 140 x / menit
      RR : 40 x / menit
      Bayi tidak muntah
      BAB dan BAK lancer
     Bayi menghisap dengan kuat
     Bayi tenang
     Aliral hangat
A : NA + BMK + Neonatal infeksi usia 2 hari
P : # jam 14.30 : - memandikan bayi
-       Mengganti popok
-       Observasi ttu
-       Berikan dif (ASI)
     #Terapi lanjutan : - Injeksi ampicillin 2 x 210 mg jam :    
     20.00 wib
-       Foto terapi 1 x 24 jam
-       Berikan ASI

3.8         Catatan Perkembangan
Tanggal : 14 agustus 2014           jam : 20 wib
S : -
O : KU : baik
      S    : 37°C
      HR : 140 x / menit
      RR : 40 x / menit
      Bayi menghisap dengan kuat
      Bayi tidak muntah
      Bayi tidak kembung
      BAB / BAK lancer
      Injeksi ampicillin 2 x 210 mg sudah di berikan dan foto terapi
A : NA + BMK + Neonatal infeksi usia 2 hari
P : # jam 21.30 : - Mengganti popok
-       Observasi ttu
-       Berikan dif (ASI)
# jam 05.00 : - memandikan bayi
-       Observasi ttu
-       Berikan dit (ASI)
3.9         Catatan Perkembangan
Tanggal 15 agustus 2014             jam : 06.00 wib
S : -
O : KU : baik
      S    : 36,9°C
      HR : 140 x / menit
      RR : 40 x / menit
      Bayi tidak muntah
      BAB dan BAK lancer
     Bayi menghisap dengan kuat
A : NA + BMK + Neonatal infeksi usia 3 hari
P : # jam 08.00 : - Mengganti popok
-       Observasi ttu
-       Berikan dif (ASI)
                          -   Injeksi ampicillin 2 x 210 mg jam : 20.00 wib
-       Foto terapi 1 x 24 jam

3.10     Catatan Perkembangan
Tanggal 15 agustus 2014                         jam : 14.00
S : -
O : KU : baik
      S    : 36,9°C
      HR : 140 x / menit
      RR : 40 x / menit
      Bayi menghisap dengan kuat
      Bayi tidak muntah
      BAB / BAK lancar
A : NA + BMK + Neonatal infeksi + ikterus neonatorum
P : # jam 14.30 : - memandikan bayi
-                                                                                                            Mengganti popok
-                                                                                                            Observasi ttu
-                                                                                                            Berikan dif (ASI)
- Injeksi ampicillin 2 x 210 mg jam : 20.00 wib
# jam 16.00 : -    injeksi ampicillin 2 x 210 mg dihentikan
-       Foto terapi dihentikan
-       Berikan dit (ASI)
-       Bayi pulang jam 17.00 wib
-       Kontrol ulang 3 hari lagi tanggal 18 agustus 2014 di  poli anak RSUD dr. R. koesma Tuban

























BAB IV
PENUTUP

4.1         Kesimpulan
Oligohidramnion adalah suatu keadaan dimana air ketuban kurng dari normal, yaitu kurang dari 500 cc. Kehamilan lewat waktu adalah kehamilan yang berlangsung lebih lama dari 42 minggu dihitung berdasarkan rumus neegle deengan siklus haid rata-rata 28 hari.
Infeksi merupakan respon tubuh terhadap infeksi yang menyebar melalui darah dan jaringan lain. Infeksi terjadi pada kurang dari 1% bayi baru lahir tetapi merupakan penyebab dari 30% kematian pada bayi baru lahir. Infeksi neonatus adalah infeksi yang terjadi pada neonatus yang dapat terjadi pada masa antenatal, perinatal, dan psot partum.
Infeksi neonatal dapat diklasifikasikan menjadi :
1.      Infeksi berat, yang meliputi :
a.       Sifilis congenital
b.      Sepsis neonatorium
c.       Meningitis
d.      Pneumonia congenital
e.       Pneumonia aspirasi
f.        Pneumonia karena airborn infection
g.       Pneumonia stafilokokus
h.       Diare epidemic
i.         Pielonefritis
j.        Ostis akut
k.      Tetanus neonatorium
2.      Infeksi ringan yang meliputi :
a.       Pemfrigus neonatorium
b.      Oftalmia neonatorium
c.       Infeksi pusat
d.      Moniliasis kandida albicans

4.2         Saran
4.2.1   Bagi mahasiswa
Diharapkan dengan pembuatan asuhan kebidanan neonatis ini mahasiswa mampu meningkatkan pengetahuan dan dapat mengembangkan antara teori dan praktek dalam menerapkan dan melaksanakan asuhan kebidanan pada neonatus aterm usia 2 hari dengan neonatus infeksi.
4.2.2   Bagi institusi
Diharapkan dengan adanya laporan asuhan kebidanan ini dapat menanmbah buku acuan tentang infeksi neonatus serta pengembangan penangananannya, supaya dapat menambah tinjauan pustaka dan pengetahuan yang baru bagi mahasiswa dalam menangani kasus neonatus infeksi.
4.2.3   Bagi lahan praktek
Diharapkan dengan dibuatnya makalha ini dapat lebih memajukan pelayanan dan memfungsikan sarana dan prasarana yang tersdia si tempat pelayanan praktel

















DAFTAR PUSTAKA

o   Mansjoer, Arifin, 2000. Kapita Selekta Kedokteran. Edisi 3 jilid 2. Jakarta : Media Aesculapis.
o   Manuaba, 1998. Ilmu Kebidanan Penyakit Kandungan dan KB untuk Pendidikan Bidan. Jakarta : EGC
o   Prawiroharjo, Sarwono. 2002. Buku Panduan Praktik Pelayanan Kesehatan Maternal dan Neonatal. Jakarta : YBP – SP
o   Prawiroharjo, Sarwono. 2006. Ilmu Kebidanan. Jakarta : YBP – SP
o   Dewi, Vivian Nanny Lia, 2010. Asuhan Neonatus Bayi dan Anak Balita. Jakarta : Salemba Media
o   Fauziah, Afruh dan Sudarti. 2012. Asuhan Kebidanan Neonatus, Bayi, dan Balita. Yogyakarta : Nuha Medika.
o   Rukiyah, Ali Yeyehdan Lia Yulianti. 2010. Asuhan Neonatus Bayi dan Balita. Jakarta : Penerbit Buku Kedokteran.
o   Deslidel, dkk. 2011. Buku Ajar Asuhan Neonatus, Bayi & Balita. Jakarta : EGC
o   Bobak. 2004. Keperawatan Matematis. Jakarta : EGC
o   Ngastiyah. 2001. Perawatan Anak Sakit. Jakarta : EGC

1 komentar: