KATA
PENGANTAR
Alhamdulillahirobbil’alamin,
puji syukur saya panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan tahmad,
taufik, serta hidayah-Nya, sehingga kami dapat menyelesaikan laporan tentang
Asuhan Kebidanan pada bayi “A” dengan neonates infeksi di ruang perinatologi
RSUD DR. R. Koesma Tuban
Dalam pembuatan laporan ini tentunya
tekah melibatkan banyak pihak, untuk itu saya mengucapkan terima kasih kepada
yang terhormat :
1. Bapak
H. Miftahul Munir, SKM. , M. Kes. Selaku direktur STIKES NU Tuban yang telah
memepercayakan anak didiknya untuk terjun langsung ke lahan praktek.
2. Bapak
Dr. Zainul Arifin, selaku Direktur RSUD Dr. R. Koesma Tuban yang telah
memberikan kesempatan untuk saya mengaplikasikan langsung teori yang saya
dapatkan di pendidikan ke lahan praktek.
3. Ibu
Sri Hariani, S.Kep. Ns selaku kepala ruangan perinatologi RSUD Dr. R. Koesma
Tuban.
4. Ibu
Tin Dwi K. , S.Kep. Ns selaku pembimbing praktek klinik ruangan perinalotogu
RSUD Dr. R. Koesma Tuban yang telah memberikan kesempatan dan membimbing saya
dalam melaksanakan praktek di RSUD Dr. R. Koesma Tuban.
5. Ibu
Erna Ika Wijayanti, S.ST selaku pembimbing akademik Prodi DIII Kebidanan yang
telah membimbing saya dalam melaksanakan praktek di ruangan bayi RSUD Dr. R.
Koesma Tuban.
6. Semua
pegawai di ruang perinatologi RSUD Dr. R. Koesma Tuban. Yang telah membantu
saya dalam melaksanakan praktek di ruang perinatologi RSUD Dr. R. Koesma Tuban.
7. Kedua
orangtua yang selalu mendukung dan mendo’akan atas kesuksesan saya.
Demikian
pembuatan laporan ini yang dapat saya buat dan saya menyadari bahwa laporan ini
jauh dari sempurna. Oleh sebab karena itu, saya sangat mengharapkan kritik
serta saran yang dapat membangun demi kesempurnaan laporan asuhan kebidanan
ini.
Tuban,
16 Agustus 2014
Penulis
BAB
I
PENDAHULUAN
1.1
Latar
Belakang
Berdasarkan
perkiraan World Health Organization (WHO) hampir semua (98%) dari lima juta
kematian neonatal terjadi di Negara berkembang. Lebih dari dua per tiga
kematian itu terjadi pada periode neonatal dini dan 42% kematian neonatal
disebabkan infeksi seperti : infeksi, tetanus neonatorum, meningitis,
pneumonia, dan diare (Imran chair, 2007).
Laporan
WHO tahun 2005 angka kematian bayi baru lahir di Indonesia adalah 20 per 1000
kelahiran hidup. Jika angka kelahiran hidup di Indonesia sekitar 5 juta per
tahun dan angka kematian bayi 20 per 1000 kelahiran hidup, berarti sama halnya
dengan setiap hari 246 bayi meninggal, setiap 1 jam 10 bayi di Indonesia
meninggal. Jadi setiap 6 menit 1 bayi
meninggal. (Roesli Utami, 2008)
Infeksi
pada neonates merupakan sebab yang penting terhadap terjadiny morbiditas dan
mortalitas selam periode ini yaitu kurang lebih 2 % janin dapat terinfeksi in
utero dan 10% bayi baru lahir terinfeksi selama persalinan atau dalam bulan
pertama kehidupan.
Infeksi
neonatus adalah infeksi yang terjadi pada neonatus, dapat terjadi pada masa
antenatal, perinatal, dan post partum. Angka kejadian infeksi neonatal masih
cukup tinggi dan merupakan penyebab kematian utama pada neonatus. Hal ini
dikarenakan neonatus rentan terhadap infeksi. Kerentanan neonatus terhadap
infeksi dipengaruhi oleh berbagai faktor, antara lain kulit dan selaput lendir
yang tipis dan mudah rusak, kemampuan fogositosis dan leukosit immunitas masih
rendah. Immunoglobilin yang kurang efisien ndan luka umbilicus yang belum
sembuh. (Surasmi, 2008).
Infeksi
pada neonatus lebih sering ditemukan pada BBLR. Infeksi sering ditemukan pada
bayi yang lahir di rumah sakit di bandingkan dengan bayi yang lahir di luar
rumah sakit. Dalam hal ini tidak termasuk bayi yang lahir dengn cara septic.
Segala bentuk infeksi pada bayi merupakan hal yang lebih berbahaya dibandingkan
dengan infeksi yang terjadi pada anak atau dewasa. Ini merupakan alas an
mengapa bayi baru lahir harus dirawat dengan ketat bila dicurigai mengalami
infeksi.
Infeksi
pada bayi baru lahir (BBL) sering sekali menjalar infeksi umum sehingga gejala
umum tidak menonjol lagi. Beberapa gejala tingkah laku BBL diatas adalah malas
minum, gelisah, atau mungkin tampak letargi, frekuensi pernapasan meningkat,
berat badan tiba-tiba menurun, muntah dan diare.
1.2
Tujuan
1.2.1 Tujuan umum
Setelah
mempelajari, memahami dan penggunaan managemen kebidanan ini diharapkan dapat
mengaplikasikan teori yang telah di dapatkan dengan kasusu yang ada di
lapangan, sehingga mampu memberikan pelayanan yang bermutu dan mendukung peran,
tugas dan tanggung jawab bidan pada neonatus dengan infeksi.
1.2.2 Tujuan khusus
·
Mahasiswa dapat melakukan pengkajian
terhadap\ kasus yang masih diambil.
·
Mahasiswa dapat menetapkan diagnosa dari
pengkajian yang dilakukan.
·
Mahasiswa dapat menetapkan tindakan yang
harus segera dilakukan sesuai dengan diagnosa yang ditetapkan.
·
Mahasiswa mampu melaksanakan asuahn yang
sudah direncanakan.
·
Mahasiswa dapat melakukan evaluasi
asuhan dilakukan berdasarkan SOAP.
1.3
Ruang
Lingkup
Dalam
laporan ini pembahasan dibatasi pada asuhan kebidanan pada bayi / neonatus
dengan infeksi atau infeksi neonatus di ruang bayi RSUD Dr. R. Koesma Tuban.
1.4 Metode Penulisan
1. Praktek
lapangan
Metode ini dibuat berdasarkan kasus
yang ditemukan pada praktek lapangan.
2. Teknik
pengumpulan data
a. Wawancara
/ anamnesa
Data diambil dengan melakukan Tanya
jawab dengan keluarga bayi.
b. Observasi
dan pemeriksaan fisik
Data diperoleh dari teknik
inspeksi, palpasi, auskultasi dan perkusi.
c. Pemeriksaan
penunjang
Data diperoleh dari hasil
pemeriksaan Laboratorium
3. Tinjauan
Pustaka
Dibuat berdasarkan sumber buku yang
ada dan disesuaikan dengan kasus lapangan.
1.5
Pelaksanaan
Praktek
lapangan dilaksanakan di ruang neonatus RSUD Dr. R. Koesma Tuban mulai tanggal
11 agustus 2014 sampai tanggal 23 agustus 2014.
1.6
Sistematika
Penulisan
|
BAB
I
|
Berisi
pebdahuluan yang terdiri atas latar belakang, tujuan umum, tujuan khusus,
ruang lingkup, dan sistematika penulisan.
|
|
BAB
II
|
Berisikan
tinjauan pustaka yang terjadi daei konsep dasar bayi dengan infeksi dan
konsep dasar asuhan kebidanan menurut Hellen Varney
|
|
BAB
III
|
Berisikan
tinjauan kasus yang terjadi dari pengumpulan data, identifikasi, diagnosa /
masalah, identifikasi diagnosa potensial, identifikasi tindakan segera atau
kolaborasi, intervensi, implementasi dan evaluasi.
|
|
BAB
IV
|
Terdiri
dari kesimpulan dan saran
|
|
DAFTAR
PUSTAKA
|
|
BAB
II
LANDASAN
TEORI
2.1 Konsep Dasar Infeksi Neonatus
2.1.1 Definisi
Infeksi
neonatus adalah infeksi yang terjadi pada neonatus, dapat terjadi pada masa
antenatal, perinatal dan post partum.
Infeksi
neonatorum atau infeksi adalah infeksi bakteri umum generalista yang biasanya
terjadi pada bulan pertama kehidupan yang menyebar ke seluruh tubuh bayi baru
lahir. Infeksi adalah sindroma yang dikarakteristikkan oelh tanda-tanda klinis
dan gejala-gejala infeksi yang parah yang dapat berkembang ke arah septisemia
dan syok septic (Doenges, Marlyn E, 2000). Septemia menunjukkan munculnya
infeksi sistemik pada darah bayi yang disebabkan oleh penggandaan mikroorganisme
secara cepat dan zat-zat racunnya yang mengakibatkan perubahan psikologis yang
sangat besar.
Infeksi
merupakan respon tubuh terhadap infeksi yang menyebar melalui darah dan
jaringan lain. Infeksi terjadi pada kurang dari 1% bayi baru lahir tetapi
merupakan penyebab dari 30% kematian pada bayi baru lahir.
2.1.2
Etiologi
a.
Menurut Blane (1961) infeksi pada neonatus bisa melalui beberapa cara :
1.
Infeksi antenatal
Kuman mencapai janin melalui
peredaran darah ibu ke placenta. Kuman melewati placenta dan mengadakan
intervilositas masuk ke vena umbilicus samapi ke janin kuman teresebut seperti
: virus : rubella, poliomelisis, koksakie, variola, dll. Spirokaeta : sifilis.
Bakteri : jarang sekali kecuali E. Colli dan listeria.
2.
Infeksi intranatal
· Pemeriksaan
vaginal yang terlalu sering
· Partus
yang lama
3. Infeksi
post partum
Penggunaan alat-alat perawatan yang tidak
steril
4. Cross
infection
Infeksi
yang telah ada di rumah sakit.
b.
Menurut jenis infeksi
1.Infeksi
bacterial
Banyak bakteri
yang dapat menyebabkan infeksi sistemik dengan infeksi dapat bersifat
congenital maupun di dapat seperti : Lysiteria app., Mycobacterium
tubercolosis, E. Collli, pnemokokus, enterokokus, streptokokus (sering grup B
stertococus / GBS) dan stofilococus, pseudomonas spp. Dan klesiella. Selain
menyebabkan infeksi sistematik, infeksipun dapat bersifat local seperti
terjadinya infeksi kulit, pneumonia, osteomielitis, artitis, ototis media,
infeksi pada saluran pencernaan dan uorgenital.
2.
Infeksi virus
Yang sering
menyebabkan infeksi congenital / transplacenta antara lain CMV / cytomegallo
virus, Rubella, parvo virus, HIV. Sedangkan yang sering menyebabkan infeksi
yang di dapat antara lain Herpes simplex virus, varicella zoster virus,
hepatitis B RSV / Respiratory Sycncial Virus.
3.
Infeksi parasit / jamur
Sering disebabka oleh kandida yang
dapat bersifat infeksi local maupun sistemik. Infeksi biasanya adalah infeksi
yang di dapat. Infeksi congenital yang sering ditemukan adalah toxoplasma dan
syphilis, keduanya sering menimbulkan kelainan/ cacat congenital.
2.1.3
Pembagian Infeksi
1.
Infeksi dini
Terjadi 7 hari pertama kehidupan
Karakteristik : sumber organisme
pada saluran genital ibu dan atau cairan amnion, biasanya fulminan dengan angka
mortalitas tinggi.
2.
Infeksi lanjutan / nosokomial
Yaitu terjadi setelah minggu
pertama kehidupan dan di dapat dari lingkungan pasca lahir.
Karakteristik : di dapat dari
kontak langsung atau tak langsung dengan organisme yang ditemukan dari
lingkungan tempat perawatan bayi, sering mengalami komplikasi.
2.1.4
Klasifikasi
1.
Infeksi berat (Major Infection)
a.
Sifilis Congenital
Biasanya terjadi pada masa antenatal, yang
di sebabkan oleh Treponemapallidum. Akibat sifilis terhadap ibu dan janin
tergantung pada berat infeksi pada ibu, bilamana pada masa kehamilan terjadi
infeksi, pengobatan yang diberikan selama hamil infeksi pada janin timbul
sesudah kehamilan 14 minggu karena spirokaeta tidak dapat melintasi lapisan sel
langhans pada placenta muda.
b.
Sepsis neonatorum
Dapat terjadi pada antenatal dan postnatal.
Sepsis merupakan keberadaaan mikroorganisme atau toksinnya di dalam darah atau
jaringan lainnya.
c. Meningitis
Biasanya di dahului sepsis, penyebab
utamanya adalah E. Colli pneumokokus, stafilococcus, dan sebagainya.
d. Pneumonia
congenital
Terjadi pada masa intranatal karena adanya
aspirasi likuor amnion yang septic. Pneumonia harus dicurigai kalau ketuban
pecah lama, air ketuban keruh berbau, dan terdapat kesulitan bernafas pada saat
bayi baru lahir.
e. Pneumonia
aspirasi
f. Terjadi
pada masa post natal, merupakan penyebab kematian utama pada BBLR, terjadi
aspirasi pada saat pemberian makanan karena reflek menelan dan batuk yang belum
sempurna.
g. Pneumonia
stafilokokus
Biasanya terjadi pada neonatus yang lahir
di rumah sakit. Penyebabnya yaitu stafilokokus yang terdapat di suatu tempat di
badan, kemudian menyebar ke paru.
h. Diare
epidemic
Infeksi yang menyebabkan kematian yang
tinggi, disebabkan oleh salmonelasisi, gastroenteristis E. Colli yang bersifat
pathogen.
i. Pidonefritis
Infeksi yang mengenai ginjal bayi.
j. Ostitis
akut
Disebabkan oleh metatastis sarang infeksi
stafilokokus
k. Tetanus
nenatorum
l. Disebabkan
oleh clostridium tetani nyang bersifat anaerob dan mengeluarkan eksotopin yang
neurotropik.
2.
Infeksi ringan
a.
Pemfrigus neonatorum
Gelembung jernih yang kemudian berisi nanah
lalu kemudian di kelilingi daerah kemerahan pada kulit disebabkan oleh
stafilokokus. Gelembung ini dapat terjadi berupa ganda menyebabkan
gejala-gejala umum yang berat, kadang-kadang kulit terkelupas dna terjadu
dermatitis.
b.
Oftalmia neonatorum
Infeksi ogenokokus pada konjungtiva waktu
melewati jalan lahir. Selain itu penyakit ini dapat ditularkan melalui tangan
perawat yang kadang terkontaminasi kuman.
c. Infeksi
pusat
Disebabkan oleh stafilokokus aereus
sehingga menimbulkan nanah, edema dan kemerahan pada ujung pusat.
d. Moniliasis
kandida albikans
Merupakan jamur yang sering ditemukan pada
bayi yang dapat menyebabkan stomatitis, diare, dermatitis, dan lain-lain. Jamur
ini secara cepat menimbulkan infeksi ketika daya tahan tubuh bayi turun.
2.1.5 Patofisiologi
Infeksi
dimulai dengan invasi bakteri dan kontaminasi sistemik. Pelepasan endoskrin
oleh bakteri menyebabkan perubahan fungsi miokardium, perubahan ambilan dan
penggunaan oksigen, terhambatnya fungsi mitokondria, dan kekacauan metabolic
yang progresif. Pada infeksi yang tiba-tiba dan berat, complement cascade
menimbulkan banyak kematian dan kerusakan sel. Akibatnya adalah penurunan
fungsi jaringan, asidosis metabolic dan syok. Yang menyebabkan disseminated
Intravaskuler Coagulation (DIC) dan kematian. Faktor-faktor
yang mempengaruhi kemungkinan infeksi secara umum berasal dari tiga kelompok,
yaitu :
1. Faktor
maternal
a. Status
social ekonomi ibu, ras dan latar belakang. Mempengaruhi kecenderungan
terjadinya infeksi dengan alas an yang tidak diketahi sepenuhnya. Ibu yang
berstatus social ekonomi rendah mungkin nutrisinya buruk dan tempat tinggalnya
padat dan tidak higienis.
b. Status
paritas
Wanita multipara atau gravid lebih
dari 3 dan umur ibu kurang dari 20 tahun atau lebih dari 30 tahun.
c. Kurangnya
perawatan prenatal
d. Ketuban
pecah dini
e. Prosedur
selama persalinan
2. Faktor
Neonatal
a. Prematuritas
(berat badan bayi kurang dari 1500 gram)
Merupakan faktor resiko utama untuk
infeksi neonatal. Umumnya immunitas bayi kurang bulan lebih rndah dari pada
bayi cukup bulan. Transfor immunoglobulin melalui placenta terutama terjadi
pada paruh terakhir trisemester ketiga. Setelah lahir, konsentrasi
immunoglobulin serum terus menurun, menyebabkan hipogamaglobulinemia berat.
Imaturitas kulit juga melemahkan pertahanan kulit.
b. Definisi
imun
Neonatus bisa mengalami kekurangan
IgG spesifik, khususnya terhadap streptokokus atau haemophilus influenza. IgG
dan IgA tidak melewati placenta dan hampir tidak terdeteksi dalam darah tali
pusat. Dengan adanya hal tersebut aktivitas lintasan komplemen terhambat, dan
C3 serta faktor B tidak diproduksi sebagai respon terhadap lipopolisakarida.
Kombinasi antara defisiensi imun dan penururnan antibodi total dan spesifik
bersama dengan penurunan fibronektin, menyebabkan sebagian besar penurunan
aktivitas opsonisasi.
c. Laki-laki
dan kehamilan kembar
Insiden infeksi pada bayi laki-laki
empat kali lebih besar dari pada bayi perempuan.
3. Faktor
lingkungan
a. Pada
defisiensi imun bayi cenderung mudah sakit sehingga sering memerlukan prosedur
invasive, dan memerlukan waktu perawatan dirumah sakit lebih lama. Penggunaan
kateter vena/arteri maupun kateter nutrisi parental merupakan tempat masuk bagi
mikroorganisme pada kulit yang luka. Bayi juga mungkin terinfeksi akibat alat
yang terkontaminasi.
b. Paparan
terhadap obat-obatan tertentu, seperti steroid, bisa menimbulkan resiko pada
nonatus yang melebihi resiko penggunaan antibiotic spectrum luas, sehingga
menyebabkan kolonisasi spectrum luas, sehingga menyebabkan resisten berlipat
ganda.
c. Kadang-kadang
di ruang perawatan terhadap epidemic penyebaran mikroorganisme yang berasal
dari petugas (infeksi nosokomial), paling sering akibat kontak tangan.
d. Pada
bayi yang minum ASI, spesies lactobacillus dan E. Colli di temukan hanya di
dominasi oleh E. Colli saja.
Mikroorganisme atau kuman penyebab
infeksi dapat mencapai neonatus melalui beberapa cara, yaitu :
·
Pada masa antenatal atau sebelum lahir
pada masa antenatal kuman dari ibu setelah melewati placenta dan umbrilikus
masuk ke dalam tubuh bayi melalui sirkulasi darah janin. Kuman penyebab infeksi
adalah kuman yang dapat menembus placenta, antara lain virus vubella, herpes,
sitomegalo, koksaki, hepatitis, influenza, parotitis. Bakteri yang dapat
melalui jalur ini antara lain malaria, sifilis, dan toxplasma.
·
Pada masa intranatal atau saat
persalinan infeksi saat persalinan terjadi karena kuman yang ada pada vagina
dan serviks naik mencapai korion dan amnion. Akibatnya, terjadi amnonitis dan
korionitis , selanjutnya kuman melalui umbilicus masuk ke tubuh bayi. Cara lain
yaitu saat persalinan, cairan amnion yang sudah terinfeksi dapat terinhalasi
oleh bayi dan masuk ke dalam traktus digestives dan traktus respiratoris,
kemudian menyebabkan infeksi pada lokasi tersebut. Selain melalui cara tersebut
diatas infeksi pada janin dapat melalui kulit bayi atau “ port de entre” lain
saat bayi melewati jalan lahir yang terkontaminasi oleh kuman (misal : herpes
genetalis, candida albican dan gonorrhea)
·
Infeksi pascanatal atau sesudah
persalinan. Infeksi yang terjadi sesudah persalinan/ kelahiran umunya terjadi
akibat infeksi nosokomial dari lingkungan di luar rahin (misal : melalui
alat-alat pengisap lendir, selang endotrakea, infus, selang nasagastrik, botol
minuman, atau dst). Perawat atau profesi lain yang ikut menangani bayi dapat
menyebabkan terjadinya infeksi nosokomial.
2.1.6
Tanda dan gejala
1.
Umum : panas, hipoermia, tampak tidak sehat, malas minum, letargi, sklerema.
2.
Saluran cerna : distensi abdomen, anoreksia, muntah, hipotomegali.
3.
Saluran nafas : apnea, dispnea, takspnea, retraksi, nafas cuping hidung,
merintih sianosis.
4.
Sistem kardiovaskuler : pucat, sianosis, kulit marmoratu, kulit lembab,
hipotensi, takikardi, bradikardia.
5.
Sistem saraf pusat : invitabilitas, tremor, kejang, hiporeflerksi, malas minum,
pernapasan tidak teratur, ubun-ubun menonjol, high pitched cry
6.
Hematologi : Ikterus, splenomegali, pucat, petekie, purpura, perdarahan
(Kapita Selekta Kedokteran Jilid
II)
Gejala
infeksi yang terjadi pada neonatus anatar lain, bayi tampak lesu, tidak kuat
menghisap, denyut jantung lambat, suhu tubuh naik turun. Gejala –gejala lainnya
dapat berupa gangguan pernapasan, kejang, jaundice, muntah, diare, dan perut
kembung,
Gejala
dan infeksi neonatorum juga tergantung kepada sumbber infeksi dan penyebaran :
-
Infeksi pada tali pusat (omfalitis)
menyebabkan keluarnya nanah atau
darah
dari pusar.
- Infeksi
pada selaput otak (meningitis) atau abses otak menyebabkan koma, kejang,
epsitotonus (posisi tubuh melengkung ke depan) atau penonjolan pada ubun-ubun.
- Infeksi
pada tulang (ostemiolisis) menyebabkan terbatasnya pergerakan pada lengan atau
tungkai yang terkena
-
Infeksi pada persendian menyebabkan
pembengkakan, kemerahan, nyeri
tekan
dan sendi yang terkena teraba hangat.
-
Infeksi pada selaput perut (perilositis)
menyebabkan pembengkakan perut
dan
diare berdarah.
2.1.7
Komplikasi
1. Meningitis
2. Hipogikemia, asidosis metabolic
3. Koagulopati, gagal ginjal,
disfungsi miokard, perdarahan intracranial
4.
Ikterus / kernik terus
2.1.8
Manifestasi klinis
Manifestasi
klinis dari infeksi neonatus dimulai tanpa gejala, tanda-tanda ringan,
menggigil, irirtabel,letargi, gelisah, dan keinginan menyusu yang kurang dapat
menjadi tanda-tanda utaam. Temperatur yang tidak stabil dapat meninggi atau
kurang dari normal (biasanya hipotermia pada BBLR). Perubahan warna kulit,
lambatnya waktu pengisian kapiler, perubahan denyut jantung, frekuensi napas,
berat badan tiba-tiba turun, pergerakan kurang, muntah dan diare menjadi nyata
pada keadaan penyakit yang progresif. Selain itu dapat terjadi edema, salerema
purpura atau perdarahan, ikterus, hepatosplenomegali, dan kejang umumnya dapat
dikatakan bila bayi itu “not doing well” kemungkinan besar dia menderita
infeksi. Manifestasi lainnnya adalah data laboratorium yang tidak stabil khususnya
hipoglikenial dan netropenia.
2.1.9
Diagnosa
Diagnosa
dapat dikonfirmasikanm dengan kultur darah yang positif. Kultu ini dapat
memakan waktu 48 jam. Sedangkan perjalanan sepsis dapat mengakibatkan kematian
dalam beberapa jam. Oleh karena itu kita harus memulai terapi antibiotic
secepatnya. Antibiotik dapat tidak dilanjutkan bila kultur darah negative atau
bayi tidak menunjukkan gejala sepsis.
Neonatus
teutama BBLR yang dapat tetap hidup selama 72 jam pertama bayi tersebut
menunjukkan gejala penyakit atau menderita penyakit congenital tertentu. Namun
tingkat lakunya berubah dapat dicurigai terjadi infeksi. (Hutchinson , 1972).
Penegakan
diagnosis sangat penting, yaitu disamping untuk kepentingan bayi itu sendiri
juga lebih penting lagi untuk kamar bersalin dan ruang perawatan nya. Diagnosis
infeksi perinatal tidaklah mudah. Tanda khas seperti yang terdapat pada bayi
sering kali tidak ditemukan.Biasanya diagnosis yang ditegakkan dengan observasi
yang teliti, serta akhirnya dengan pemeriksaan fisik laboratorium.
Infeksi
pada neonatus cepat sekali menjalar menjadi infeksi umum, sehingga gejala
infeksi local tidak menonjol lagi. Walaupun demikian, diagnosis dini dapat kita
tegakkan jika kita cukup waspada terhadap tingkah laku neonatus yang sebagai
pertanda awal dari permulaan infeksi umum. Menegakkan diagnosis sepsis perlu
dilakukan pemeriksaan penunjang sebagai berikut :
1.
Hitung darah lengkap dengan turunannya
Yang
terpenting adalah jumlah sel darah merah. Septic neonatus biasanya menunjukkan
penurunan jumlah cel darah putih, yaitu kurang dari 500 mm. Hitung jenis darah
juga menunjukkan banyak sel darah putih tidak matang dalam aliran darah.
Banyaknya darah tidak matang dihubungkan dengan total jumlah sel drah putih
diidentifikasikan bahwa bayi mengalamai respon signifikan.
2.
Platelet biasanya 150.000 sampai 300.000
pada keadaan sepsis platelet menurun, kultur darah gram negative atau positif ,
dan tes sensitivitas. Hasil dari kultur harus tersedia dalam beberapa jam dan akan mengidentifikasikan
juumlah dan jenis bakteri kultur darah atau sensitivitas membutuhkan waktu
24-48 jam untuk mengembangkan dan mengidentifikasikan jenis pathogen serta antibiotic
yang sesuai.
3. Lumbal
pungsi untuk kultur dan tes esnsitivitas pada cairan serebrospinal. Hal ini
dilakukan jika ada indikasi infeksi neuron.
4. Kultur
urinea Kultur permukaan (Surface culture) untuk mengidentifikasi kolonisasi,
tidak spesifik untuk infeksi bakteri.
2.1.10
Pencegahan Infeksi Pada Neonatus
Cara
pencegahan pada neonatus dapat dibagi menjadi sebagai berikut : Pencegahan
infeksi neonatus sudah harus dimulai dari :
1. Cara
umum periode antenatal
Infeksi ibu
harus diobati dengan baik, misalnya infeksi umum, lekorea dan lain-lain.
Dikamar bersalin harus ada pemisah yang sempurna antara bagian yang sepsis
dengan asepttik. Pemisah ini mencakup mangan, tenaga perawatan, serta alat
kedokteran dan alat keperawatan. Ibu yang akan melahirkan sebelumnya masuk
kamar bersalin. Pada kelahiran bayi, pertolongan harus dilakukan secara
aseptic. Suasan dikamar bersalin harus sama dengan suasana di kamar bayi yang
baru lahir. Apabila operasi alat yang digunakan harus steril. Harus ada pemisah
yang sempurna untuk bayi yang baru lahir dengan partus aseptic dan partus
septic. Pemisahan ini mencakup personalia, fasilitas keperawatan, dan alat yang
digunakan. Selain itu juga dilakukan pemisah terhadap bayi yang menderita
penyakit menular. Perawat harus mendapatkan pendidikan khusus dan mutu
pelayanan harus baik, apalagi bila kamar perawatan bayi berupa satu kamar
perawatan yang khusus. Sebelum dan sesudah memegang bayi harus cuci tangan.
Mencuci tangan dengan sabun antiseptic.
2.
Cara khusus pada beberapa keadaan,
misalnya ketuban pecah lama(lebih dari 12 jam) air ketuban keruh, infeksi
sistemik pada ibu, partus yang lama dan banyak manipulasi intraviginal.
Resusitasi dengan penggunaan antibiotic yang banyak dan tidak terarah dapat
menimbulkan jamur yang berlebihan, seperti kandida albikans. Sebaliknya bila
terlambat memberikan antibiotic pada
penyakit infeksi neonatus, sering berakibat kematian. Hal ini dapat disimpulkan
sebagai berikut : bila kemampuan pengawasan klinis dan laboratoirum cukup baik,
sebaiknya tidak memberikan antibiotic profilaksis, antibiotika baru diberikan
kalu sudah terdapat tanda infeksi.
2.1.11
Pelaksanaan
1.
Suportif
-
Lakukan monitoring cairan elektrolit dan
glukosa
-
Berikan koreksi jika terjadi hipovdemia,
hipokalsemia dan hipoglikemia.
-
Bila terjadi SIADN (Syndrome of
Inappropiate Anti Dieuretik Hormon) batasi cairan
-
Atasi syok, hipoksia, dan asidosis
metabolic
-
Awasi adanya hiperbilirubinemia
-
Lakukan transfuse tukar bila perlu
-
Pertimbangkan nutrisi parenteral bila
pasien tidak dapat menerima nutrisi enteral.
2. Kausatif
Antibiotik
diberikan sebelum kuman penyebab diketahui. Biasanya digunakan golongan
penicillin seperti ampicilin ditambah tminoglileosida seperti Gentamicin. Pada
infeksi nosokomial, antibiotic diberikan dengan mempertimbangkan flora di ruang
perawatan, namun sebagai terapi inisial biasanya di berikan van komisin dan
aminoglikosida atau sefalosforin
generasi ketiga.Setelah dapat hasil biakan dan uji sistematis di berikan
antibiotic yang sesuai. Terapi dilakukan selama 10 – 14 hari. Bila terjadi
meningitis, antibiotic diberikan selama 14 – 21 hari dengan dosis sesuai untuk
meningitis. Pada masa antenatal meliputi pemeriksaan kesehatan ibu secara
berkala, imunisasi, pengobatan, terhadap penyakit infeksi yang diderita ibu.
Asupan gizi yang memadai, penanganan segera terhadap keadaan yang dapat
menurunkan kesehatan ibu dan janin. Rujuk ke tempat pusat kesehatan bila
diperlukan. Pada masa persalinan, perawatan ibu selama persalinan dilakukan
secara akseptic. Pada masa pasca persalinan rawta gabung bila bayi normal,
pemberian ASI secepatnya, juag lingkungan dan peralatan tetap bersih, perawatan
lukan umbilicus secara steril.
2.2 Konsep
Dasar Oligohidramnion
2.2.1 Definisi
Oligohidramnion
adalah suatu keadaan dimana air ketuban kurang dari normal, yaitu kurang dari
500 cc.
Oligohidramnion
adalah kondisi dimana cairan ketuban terlalu sedikit, yang didefinisikan sebagai
indeks cairan amnion (AFI, Amnion Fluid Index), di bawah persentil. Volume
cairan ketuban meningkat selama masa kehamilan, dengan volume sekitar 30 ml
pada 10 minggu kehamilan dan puncaknya sekita 1 L di 34-36 minggu kehamilan.
2.2.2 Etiologi
Etiologi
belum jelas, tetapi disangka ada kaitannya dengan renal agenosis janin.
Etiologi primer lainnya mungkin karena amnion kurang baik pertumbuhannya dan
etiologi sekunder lainnya, misalnya pada ketuban pecah dini.
Oligohidramnion
biasanya dikaitkan dengan salah satu kondisi berikut :
1.
Pecahnya membrane ketuban
2.
Masalah congenital tidak adanya jaringan
ginjal fungsional atau uropati obstruktif seperti kondisi yang mencegah
pembentukan urine atau masuknya urine ke dalam kantung ketuban dan malformasi
saluran kemih janin.
3.
Penurunan perfusi ginjal yang
menyebabkan produksi urine berkurang
4.
Kehamilan post term
5.
Gangguan pertumbuhan janin
6.
Kelainan ginjal bawaan pada janin
sehingga produksi urin sedikit. Padahal
urine termasuk sumber utama air ketuban
7.
Kehamilan lewat waktu sehingga fungsi
placenta atau ari-ari menurun
8.
Penyakit ibu, seperti darah tinggi,
diabetes, gangguan pembekuan darah dan
penyakit otoimun seperti lupus.
2.2.3 Patofisiologis
Sindroma
potter dan fenotip potter adalah suatu keadaan kompleks yang berhubungan
denganoligohidramnion (cairan ketuban yang sedikit).
Fenotip
potter digambarkan sebagai suatu keadaan khas pada bayi baru lahir diman cairan
ketuban sangat sedikit atau tidak ada. Oligohidramnion menyebabkan bayi tidak
memiliki bantalan terhadap dinding rahim. Tekanan dari dinding rahim menyebabkan
gambaran wajah yang khas (wajah potter). Selain itu karena ruangan di dalam
rahim sempit,maka anggota gerakan tubuh menjadi abnormal atau mengalami
kontraktur dan terpaku pada posisi abnormal.
Oligohidramnionjuga
menyebabkan terhentinya perkembangan paru-paru (paru-paru hipoplastik).
Sehingga pada saat lahir paru-paru tidak berfungsi sebagaimana mestinya.
Pada
sindroma potter, kelainan yang utama adalah gagal ginjal bawaan, baik karena
kegagalan pembentukan ginjal ( agenesis ginjal bilateral) maupun karena
penyakit lain pada ginjal yang menyrbabkan ginjal gagal berfungsi.
Dalam
keadaan normal, ginjal membentuk cairan ketuban (sebagai air kemih) dan tidak
adanya cairan ketuban menyebabkan gambaran yang khas dari sindroma potter.
Gejala sindroma potter berupa :
1.
Wajah potter (kedua mata terpisah jauh,
terdapat lipatan epilenatus, pangkal hidung yang melebar, telinga yang rendah,
dan dagu yang tertarik ke belakang).
2.
Tidak terbentuk air kemih
3.
Gawat pernapasan, wanita dengan kondisi
berikut memiliki insiden olihidramnion yang tinggi :
a.
Anomali congenital ( misalnya : agenosis
ginjal, sindroma potter)
b.
Retardasi pertumbuhan intra uterin
c.
Ketuban pecah dini (24-36 minggu)
d.
Sindroma paska maturitas
2.2.4
Gambaran
klinis / gejala
a.
Uterus tampak lebih kecil dari usia kehamilan
dan tidak ada ballotemen
b.
Ibu merasa nyeri diperut pada setiap
pergerakan anak
c.
Sering berakhir pada partus prematurus
d.
Bunyi jantung anak sudah terdengar mulai
bulan kelima dan terdengar lebih jelas.
e.
Persalinan lebih lama dari biasanya
f.
Sewaktu his akan sakit sekali
g.
Bila ketuban pecah, air ketuban sedikit
sekali bahkan tidak ada yang keluar.
h.
Janin mudah berpindah tempat dan
perlambatan tinggi fundus
i.
Perlambatan tinggi fundus
2.2.5 Pemeriksaan Penunjang
Pemeriksaan
penunjang yang masa dilakukan :
1.
USG ibu (menunjukkan oligohidramnion
serta tidak adanya ginjal janin atau ginjal yang sangat abnormal)
2.
Rontgen perut bayi
3.
Rontgen paru-paru bayi
4.
Analisa gas darah
Cara mengeceknya :
Dengan memeriksa
indeks cairan ketuban, yakni jumlah pengukuran kedalaman gambar-gambar ait
ketuban di empat sisi kuadran perut ibu. Dilakukan lewat USG. Nilai nominalnya
berkisar antara 10-20 cm. Bila kurang dari 10 cm disebut air ketuban telah
berkurang jika kurang dari 5 cm, inilah yang disebut oligohidramnion.
2.2.6 Akibat Oligohidramnion
a.
Bila terjadi pada permulaan kehamilan
makan janin akan menderita cacat bawaan, keguguran, janin meninggal dan janin
pertumbuhannya dapat terganggu bahkan bisa terjadi partus prematurus yaitu
picak seperti kertas kusut karena janin mengalami tekanan dinding rahim.
b. Jika
terjadi pada trisemester kedua kehamilan, akan amat mengganggu pertumbuh
kembang janin
c. Bila
terjadi pada kehamilan yang lebih lanjut akan terjadi cacat bawaan seperti club
foot
d. Jika
terjadi pada menjelang persalinan meningkstkan resiko terjadinya komplikasi
selama kelahiran. Seperti tidak efektifnya kontraksi rahim akibat tekanan di
dalam rahim yang tidak seragam ke segala arah, yang berakir dengan persalinan
lama.
2.2.7 Tindakan Konservatif
1.
Tirah baring atau nistirahat yang cukup
2.
Hidrasi
3.
Perbaikan nutrisi
4.
Pemanfaatan kesejahteraan janin ( hitung
pergerakan janin, NST, BPP)]
5.
Pemeriksaan USG yang umum dari volume
cairan amnion
6.
Amnion infusion
7.
Induksi dan kelahiran
2.2.8 Prognosis
Prognosis
janin buruk pada oligohidramnion awitan dini dan hanya separuh janin yang hidup sering terjadi persalinan
premature dan kematian neonatus. Oligohidramnion dilaporkan berkaitan dengan
pelekatan antara amnion dan baggian-bagian janin serta dapat menyebabkan cacat
serius termasuk amputasi. Selain itu dengan tidak adanya cairan amnion, janin
mengalami tekanan dan semua sisi dan menunjukkan penampilan yang aneh disertai
cacat musculoskeletal seperti jari tubuh.
2.2.9
Diagnosis
Oligohidramnion
Untuk
mengetahui oligohidramnion dengan jelas dapat dilakukan tindakan omnioskopi
dengan alat khusus amnioskop
Indikasi
amnioskop adalah :
1.
Usia kehamilan sudah diatas 37 minggu
2.
Terdapat pre-eklampsia berat dan
eklampsia
3.
Bad obstetric history
4.
Terdapat kemungkinan IUGR
5.
Kelainan ginjal
6.
Kehamilan post date
Hasil yang diharapkan adalah :
1.
Kekeruhan air ketuban
2.
Pewarnaan dengan mekonium
Komplikasi
tindakan amnioskop adalah :
1.
Terjadi persalinan premature
2.
Ketuban pecah menimbulkan persalinan
premature
3.
Terjadi perdarahan perlukaan kanaks
serviks
4.
Terjadi infeksi asendens
2.3
Konsep
Dasar Kehamilan Lewat Waktu (Post date)
2.3.1 Definisi
Kehamilan
adalah pertemuan sel-sel telur dengan sperma ( konsepsi/pembuahan) yang
kemudian menempel pada endometrium (nidasi). Tumbuh dan berkembang menjadi
janin yang mana membutuhkan waktu selama 40 minggu.
Kehamilan
lewat waktu (post date) adalah kehamilan yang berlangsung selama lebih dari 42
minggu dihitugn berdasarkan rumus Neegle dengan siklus haid rata-rata 28 hari.
2.3.2 Etiologi
Etiologi
pasti belum diketahui. Faktor yang mempengaruhi adalah hormonal yaitu kadar
progesterone tidak dapat cepat turun walaupun kehamilannya telah cukup bulan
sehingga uterus terhadap oksitiosin berkurang. Faktor lain adalah faktor
heredite karena post maturitas sering dijumpai pada keluarga tertentu.
2.3.3 Diagnosis
a. Bila
HPHT di cacat dan diketahui wanita hamil diagnosis tidak sukar
b. Bila
wanita tidak tahu, lupa, atau tidak ingat atau sejak melahirkan yang lalu tidak
dapat haid dan kemudian menjadi hamil,
hal ini akan sukar memastikannya hanyalah dengan pemeriksaan antenatal yang teratur dapat diketahui tinggi dan
naiknya fundus uteri, mulai gerakan janin dan besarnya janin dapat membantu
diagnosis.
c. Pemeriksaan
BB ibu diikuti kapan menjadi berkurang begitu pula lingkaran perut dan jumlah
air ketuban apakah berkurang
d. Amnioskopi
: melihat derajat kekeruhan air ketuban
e. Kardiotografi
:mengawasi dan membaca denyut jantung janin
f. Uji
oksitosin
g. Pemeriksaan
estriol dalam urine
h. Pemeriksaan
Ph darah kepala janin
i. Pemeriksaan
sitologi vagina
2.3.4 Pengaruh terhadap ibu dan janin
a.
Terhadap ibu
Persalinan post matur dapat menyebabkan dostusia, karena
:
·
Aksi uterus tidak terkoordinir
·
Janin besar
·
Moulding (molage) kepala ruang
Maka akan
dijumpai partus lama, kesalahan letak, inersia uteri, distusia bahu dan
perdarahan post partum
b.
Terhadap janin
Jumlah kematian
janin/bayi pada kehamilan 43 minggu 3 kali lebih besar darikehamilan 40 minggu
karena psot maturitas / post date akan menambah bahaya pada janin, pengaruh
post date pada janin bervariasi : BB janin dapat bertambah besar, tetap, dan
ada yang berkurang sesudah kehamilan 42 minggu.
2.3.5 Manifestasi Klinis
a.
Keadaan klinis yang dapat ditemukan
jarang lalah gerakan janin yang jarang , yaitu secara subjektif kurang dari 7
kali per 30 menit atau secara objrktif dengan KTE kurang dari 10kali per 30
menit.
b.
Pada bayi akan ditemukan tanda-tanda
lewat waktu sebagai berikut :
· Stadium
I, kulit kehilangan vernik kaseola dan terjadi maserasi sehingga kulit kering,
rapuh dan mudah mengelupas.
· Stadium
II, seperti stadium I disertai pewarnaan mekonium, kehijauan dikulit.
· Stadium
III, seperti stadium I disertai pewarnaan kekuningan pada kuku, kulit dan tali
pusat.
2.3.6 Pemeriksaan Penunjang
a.
USG untuk menilai usia kehamilan,
oligohidramnion, dan derajat maturitas plasenta.
b.
Penilaian warna air ketuban dengan
amnioskopi atau amniotomi (tes tanpa tekanan dinilai apakah reaktif atau tidak
dan tes tekanan oksitosin).
c.
Pemeriksaan sitologi vagina dengan
indeks kanopiknotik > 20%
2.3.7 Penatalaksanaan
a.
Setelah usia kehamilan lebih dari 40 –
42 mg yang penting adalah monitoring janin sebaik-baiknya.
b.
Apabila tidak ada tanda-tanda infusiensi
placenta, persalinan spontan ditunggu dengan pengawasan ketat.
c.
Lakukan PD untuk melihat kematangan
serviks, kalau sudah matang boleh melakukan dengan induksi persalinan.
d.
Dapat juga dilakukan SC
2.4
Konsep
Dasar Manajemen Asuhan Kebidanan Menurut Hellen Varney
2.4.1 Pengkajian atau pengumpulan data
1.
Data subjektif
a.
Biodata / identitas klien :
1.
Nama pasien
Agar dapat mengenal atau memanggil sesuai
nama dan tidak keliru dengan yang lain
2.
Umur
Untuk mempermudah komunikasi, menentukan dosis
obat dan terapi
3.
Suku/bangsa
Untuk mempermudah komunikasi, kebiasaan dan
tradisi
4.
Pekerjaan
Mengetahui social ekonominya
5.
Pendidikan
Agar motivasi
yang diberikan petugas dapat sesuai dengan tingkat pengetahuaannya.
6.
Agama
Berhubungan dengan perawatan klien.
7.
Alamat
Untuk memperjelas kelengkapan identitas
klien
2.
Data Objektif
a.
Pemeriksaan umum meliputi TTU keadaan
umum
b.
Pemeriksaan kebidanan meliputi :
o Inspeksi
-
Rambut : bagaimana keadaan kulit kepala,
adakah kelainan
-
Wajah :
bagaimana keadaan wajahnya tampak pucat atau tidak
-
Hidung :
bagaimana hidungnya ada polip atau tidak
-
Mulut :
bagaimana mulutnya apa ada bibir kering dan berwarna
merah atau tidak
-
Telinga :
apakah ada serumen bagaimana kebersihannya
-
Leher :
adakah pembesaran pada kelenjar tiroid, limfe dan vena jugularis atau tidak
-
Dada :
adakah lajerasi atau tidak
-
Abdomen : bagaimana bentuk dari abdomen
-
Genetalia : adakah kelainan atau tidak
-
Ekstremitas : bagaimana keadaan ekstremitas atas dan bawah
o Palpasi
-
Paru-paru adakah nyeri tekan atau tidak
-
Abdomen adakah nyeri tekan atau tidak
-
Hidung adakah fraktur atau tidak, adakah
pernapasan cuping hidung atau tidak
-
Leher adakah pembesaran pada kelenjar
limfe tiroid vena jugularis atau tidak
o Auskultasi
-
Dada apa ada suara nafas rhonky,
whisisngstider atau tidak
2.4.2 Antisipasi diagnosa oleh masalah
potensial
Langkah ini berdasarkan diagnosa
masalah yang sudah teridentifikasi yaitu merupakan pencegahan atau penanganan
2.4.3 Identifikasi kebutuhan segera
Yaitu pelayanan yang segera dilakukan
demi keselamatan jiwa sang ibu dan anak.
2.4.4 Intervensi
Langkah ini lanjutan setelah diagnosa
kebidanan ditegakkan yang mencakup tujuan, criteria, langkah-langkah yang akan
dilakukan serta rasional tindakan dalam melakukan untervensi untuk memecahkan
masalah klien dan criteria yang dicapai.
2.4.5 Implementasi
Implementasi merupakan penyelesaian
suatu rencana kebidanan yang dilakukan bidan secara mandiri, kolaborasi maupun
rujukan selama bidan mengawasi dan memonitor kemajuan klien
2.4.6 Evaluasi
Adakah tindakan pengukuran antara
keberhasilan dan rencana tindakan yang brtujuan untuk mengetahui sejauh mana
keberhasikan tindakan kebidanan yang dilakukan sesuai criteria yang di
tetapkan.
Berdasarkan evaluasi selanjutnya asuhan kebidanan di
tuliskan dalam catatan peerkembangan yang mencakup SOAP :
o S
(Subjektif) : data yang didapat dari
pertanyaan klien secara langsugn maupun keluarga
o O
(Obyektif) : data yang diperoleh dari
hasil observasi dan pemeriksaan
o A
(Assesment) : pernyataan gangguan yang
terjadi atas data 1 dan data 0
o P
(Planing) : Perencanaan yang
ditentukan sesuai dengan masalah
yang terjadi.
BAB
III
TINJAUAN
KASUS
3.1
Pengkajian
Data
Anamnesa tanggal : agustus 2014 jam : Oleh : Siti Sundari
3.1.1
Pengumpulan
Data (Subjektif)
1. Identitas
/ Biodata
Nama bayi :
bayi A
Umur bayi :
Tgl/jam/lahir :
12 agustus 2014 jam : 16.15 wib
Jenis kelamin :
Perempuan
No. reg :
10.14.61
Berat badan :
4100 gram
Panjang badan :
51 cm
Nama Ibu :
Ny. A Nama Ayah : Tn. I
Umur :
35 tahun Umur : 3 tahun
Suku/bangsa :
Jawa/Indonesia Suku/bangsa : Jawa/Indonesia
Agama :
Islam Agama : Islam
Pendidikan : Pendidikan :
Pekerjaan : Pekerjaan :
Alamat :
Jl. Hayam Wuruk Alamat : Jalan Hayam Wuruk
RT. 03 RW. 04 RT. 03 RW. 04
DS.
Bejagung DS.
Bejagung
Semanding Tuban
Semanding Tuban
2. Keluhan
utama
Ibu pasien mengatakan bahwa anaknya
telah lahir pada hari selasa tanggal 12 agustus 2014 jam 16.15 wib di RSUD dr.
R. Koesma Tuban dengan kehamilan lewat waktu
3. Riwayat
pengakuan kehamilan
Perdarahan : tidak ada
Pre-eklampsia : tidak ada
Eklampsia : tidak ada
Penyakit kelamin : tidak ada
Lain-lain : tidak ada
4. Kebidanan
waktu hamil
Makan : nasi, sayur, lauk pauk, makan 3x sehari
dengan porsi sedang
Minum obat-obatan /
jamu : Ibu mengatakan tidak pernah minum obat-
obatan/ jamu selain
dari bidan.
Merokok : tidak pernah
Lain-lain : tidak ada
5. Riwayat
persalinan sekarang
§
Jenis persalinan : spontan
§
Ditolong oleh : bidan
§
Lama persalinan
- Kala
I :
- Kala
II :
§
Ketuban pecah :
Warna : kehijauan bau
: tidak
§
Komplikasi persalinan
§ Ibu :
Oligohidramnion
Bayi :
§
Keadaan bayi baru lahir
Nilai APGAR : 8-9
6. Riwayat
penyakit yang pernah di derita
Ibu
mengatakan tidak menderita penyakit kronis seperti jantung, hipertensi, asma,
hepatitis, dan DM
7. Riwayat
penyakit keturunan/keluarga
Ibu
mengatakan dari keluarga Ibu tidak pernah menderita penyakit kronis seperti
diabetes militus, jantung, asma, hipertensi, dan tidak ada riwayat keturunan
kembar.
8. Pola
kebiasaan
a. Pola
nutrisi : bayi A minum ASI + susu formula +
60 ml / 3 jam
b. Pola
eliminasi : BAB 2x dalam 7 jam
BAK 4x dalam 7 jam
c. Istirahat/
tidur : bayi sering tidur dan
bangun saat lapar dan haus
serta saat BAK/BAB
d. Personal
Hygiene : bayi dimandikan 2x sehari
setiap pagi dan sore
hari
e. Aktivitas :
bayi bergerak aktif, emnangis
9. Riwayat
imunisasi
Bayi A telh mendapatkan injeksi vitamin K pada paha
kiri sesat setelah lahir (IM), Hbo dan salep mata.
3.1.2
Data
obyektif
1. Pemeriksaan
umum
KU : Cukup GDA :
48 mg/dl
Suhu :
37 °C
RR : 40 x / menit
HR : 140 x / menit
BB : 4100 gram
PB : 51 cm
JK : Perempuan
2. Peemriksaan
fisik secara sistematik
a. Inspeksi
§
Kepala dan wajah : Ukuran proporsional dengan bentuk ubuh tidak
terdapat
benjolan, waran rambut hitam, ubun-
ubun
belum menutup, wajah tidak pucat.
§
Mata :
Simetris antara kanan dan kiri, konjungtiva
tidak
anemis, sclera tidak ikterus
§
Telinga :
Simetris antara kanan dan kiri, serumen tidak
ada
§
Hidung :
Lubang hidung sebelah kanan dan kiri
simetris,
tidak ada polip.
§
Gigi dan mulut : tidak ada stomatitis, bibir tidak kering, lidah
tidak
kotor.
§
Leher :
Tidak ada pembesaran kelenjar limfe, kelenjar tiroid dan vena jugularis
§
Dada :
simetris
§
Tali pusat dan abdomen : Belum lepas, masih basah, tidak ada
tanda-tanda infeksi tali pusat, abdomen silindris
§
Punggung :
Simetris, tidak ada kelainan tulang punggung, seperti spina bivida, skoliosis,
lordosis, kifosis, dan lanugo.
§
Ekstremtas : Tidak ada kelainan jumlah jari (anadaktili, sindaktili, poli
daktili)
§
Genetalia : Labia mayora menutup labia minora, klitoris sudah terbentuk
sempurna
§
Anus :
tidak ada kelainan (atresia ani)
b. Palpasi
§
Hidung :
tidak ada fraktur, tidak ada pernapasan cuping
hidung
§
Leher :
tidak ada pembesaran vena tugularis, kelenjar limfe
dan kelenjar tiroid
§
Dada :
tidak ada pembesaran jantung, pada paru-paru tidak
ada nyeri tekan
§
Abdomen :
tidak ada nyeri tekan, tidak ada pembengkakan hepar
(hepatomegali)
§
Ekstremitas : akral hangat, tidak ada odema
§
Kulit :
turgor kulit baik
c. Auskultasi
§
Dada :
- Jantung : ritme terdengar keras dan cepat, terdengar
bunyi lup dup
-
Paru-paru : tidak ada bunyi rhonky,
whising dan stledor
§
Abdomen :
tidak ada bising usus
3. Pemeriksaan
khusus
a. Antropometri
·
Lingkar kepala :
·
SOB :
·
MO :
·
FO :
·
Lingar dada :
·
Lingkar lengan atas :
b. Reflek
Reflek
moro : bayi kaget dan bergerak
aktif saat diberi
rangsangan
Reflek
rooting : bayi menoleh kearah
sentuhan saat wajah diberi
rangsangan
Reflek
graphs/plantar : bayi menggenggam
saat diberi rangsangan
sentuhan
Reflek
siching : bayi segera menghisap
Refleck
tonic neck : bayi melawan arah saat
salah satu sisi kepala
ditolehkan
c. Perkembangan
anak
·
Gerakan motorik kasar : belum tampak
·
Gerakan motorik halus :
·
Komunikasi pasif :
·
Komunikasi aktif :
·
Kecerdasan : belum tampak
·
Menolong diri sendiri : bayi mnangis ketika lapar/haus dan ketika
BAB dan BAK
·
Tingkah laku social : belum tampak
4. Pemeriksaan
penunjang
Tanggal : 13
agustus 2014
GDA : 48 ml/dl
3.2
Intresprestasi
Data
Diagnosa : Neonatus
aterm + BMK + neonatus infeksi
DS :
DO : KU : Cukup
Pemfis : # TTV
: S :
37°C
HR :
140 x / menit
RR :
40 x / menit
# BB bayi : 4100 gram
# PB bayi : 51 cm
# bayi sering
menangis
#Perut tidak
kembung
#Akral teraba
hangat
·
Masalah :
bayi rewel dan sering menangis
Riwayat kehamilan : PD + Oligohidramnion
Riwayat partus : partus sama +lilitan tali pusat
2x, ketuban keruh.
3.3
Antisipasi
Diagnosa / Masalah Potensial
Diagnosa : Neonatus aterm + BMK + neonatal infeksi
DS : -
DO : - PD UK 41 – 42 minggu
- Oligohidramnion
- Partus
lama + lilitan tali pusat 2x
- Ketuban
keruh
3.4
Tindakan
Segera
-
Kolaborasi dengan dokter SP.A
-
Injeksi ampicillin 2 x 210 mg
-
Berikan ASI
3.5
Rencana
Asuhan yang Intervensi / Menyeluruh
Tujuan : Neonatal, infeksi dapat teratasi
Ktiteria : KU bayi baik
Tanda-tanda vital dalam batas normal
|
INTERVENSI
|
RASIONAL
|
|
ü Cuci
tangan sebelum dan sesudah melakukan tindakan
|
ü Mencegah
terjadinya infeksi yang lebih parah
|
|
ü Berikan
nutrisi pada bayi
|
ü Memenuhi
kebutuhan nutrisi pada bayi
|
|
ü Jaga
personal Hygiene
|
ü Untuk
menjaga kebersihan bayi
|
|
ü Observasi
TTV
|
ü Memantau
keadaan pasien
|
|
ü Observasi
intake dan output
|
ü Agar
kebutuhan nutrisi terpenuhi
|
|
ü Lakukan
perawatan tali pusat
|
ü Mencegah
tejadinya infrksi pada tali pusat
|
|
ü Lakukan
kolaborasi dengan dokter untuk memberikan terapi :
# Injeksi ampicillin
2 x 210mg
# Foto terapi
|
ü Memberikan
penanganan dan perawatan yang tepat sesuai kebutuhan bayi
|
|
ü Lakukan
pencatatan hasil pemeriksaan
|
ü Agar
setiap pemeriksaan dapat diketahui dan dapat di pantau perkembangannya
|
3.6
Implementasi
/ Pelaksanaan
Tanggal : 14 agustus
2014
|
No
|
Tanggal / jam
|
Implementasi
|
TTD
|
|
1
|
14 agt 2014
Jam : 04.00
|
Mencuci tangan dengan
sabun dan air mengalir dengan 7 langkah
|
|
|
2
|
04.15
|
Mencuci botol susu
bayi dengan air DDT
|
|
|
3
|
05.00
|
Memandikan bayi dan
mengganti popok
Serta baju bayi dan
perwawatna tali pusat
|
|
|
4
|
05.10
|
Menghangatkan bayi
dan mengembalikan ke box
|
|
|
5
|
05.30
|
Observasi TTV dan
keadaan umum bayi
|
|
|
6
|
05.40
|
Menyiapkan susu dalam
botol
|
|
|
7
|
06.00
|
Memberikan susu dalam
bayi
|
|
|
8
|
06.10
|
Mencatat semua hasil
pemeriksaan:
· TTU
: S : 37°C
HR : 140 x / menit
RR : 40 x / menit
· Berikan
ASI : 30 – 60 ml / 3 jam
· Timbang
feces : 50 cc
|
|
|
9
|
08.00
|
Berikan injeksi
ampicillin 2 x 210 mg
|
|
3.7
Evaluasi
Tanggal 14
agustus 2014 jam :
14.00 wib
S : -
O : KU : baik
S :
37°C
HR : 140 x / menit
RR : 40 x / menit
Bayi tidak muntah
BAB dan BAK lancer
Bayi menghisap dengan kuat
Bayi tenang
Aliral hangat
A : NA + BMK +
Neonatal infeksi usia 2 hari
P : # jam 14.30
: - memandikan bayi
- Mengganti
popok
- Observasi
ttu
- Berikan
dif (ASI)
#Terapi lanjutan : - Injeksi ampicillin 2
x 210 mg jam :
20.00 wib
- Foto
terapi 1 x 24 jam
- Berikan
ASI
3.8
Catatan
Perkembangan
Tanggal : 14
agustus 2014 jam : 20 wib
S : -
O : KU : baik
S :
37°C
HR : 140 x / menit
RR : 40 x / menit
Bayi menghisap dengan kuat
Bayi tidak muntah
Bayi tidak kembung
BAB / BAK lancer
Injeksi ampicillin 2 x 210 mg sudah di
berikan dan foto terapi
A : NA + BMK +
Neonatal infeksi usia 2 hari
P : # jam 21.30
: - Mengganti popok
-
Observasi ttu
-
Berikan dif (ASI)
# jam 05.00 : - memandikan bayi
- Observasi
ttu
- Berikan
dit (ASI)
3.9
Catatan
Perkembangan
Tanggal 15
agustus 2014 jam : 06.00 wib
S : -
O : KU : baik
S
: 36,9°C
HR : 140 x / menit
RR : 40 x / menit
Bayi tidak muntah
BAB dan BAK lancer
Bayi menghisap dengan kuat
A : NA + BMK +
Neonatal infeksi usia 3 hari
P : # jam 08.00
: - Mengganti popok
-
Observasi ttu
-
Berikan dif (ASI)
- Injeksi ampicillin 2 x 210 mg jam : 20.00 wib
-
Foto terapi 1 x 24 jam
3.10
Catatan
Perkembangan
Tanggal 15
agustus 2014 jam :
14.00
S : -
O : KU : baik
S :
36,9°C
HR : 140 x / menit
RR : 40 x / menit
Bayi menghisap dengan kuat
Bayi tidak muntah
BAB / BAK lancar
A : NA + BMK + Neonatal infeksi +
ikterus neonatorum
P : # jam 14.30 : - memandikan bayi
-
Mengganti popok
-
Observasi ttu
-
Berikan dif (ASI)
- Injeksi
ampicillin 2 x 210 mg jam : 20.00 wib
# jam 16.00 : - injeksi ampicillin 2 x 210 mg dihentikan
- Foto
terapi dihentikan
- Berikan
dit (ASI)
- Bayi
pulang jam 17.00 wib
- Kontrol
ulang 3 hari lagi tanggal 18 agustus 2014 di poli anak RSUD dr. R. koesma Tuban
BAB
IV
PENUTUP
4.1
Kesimpulan
Oligohidramnion adalah suatu keadaan dimana air
ketuban kurng dari normal, yaitu kurang dari 500 cc. Kehamilan lewat waktu
adalah kehamilan yang berlangsung lebih lama dari 42 minggu dihitung
berdasarkan rumus neegle deengan siklus haid rata-rata 28 hari.
Infeksi
merupakan respon tubuh terhadap infeksi yang menyebar melalui darah dan
jaringan lain. Infeksi terjadi pada kurang dari 1% bayi baru lahir tetapi
merupakan penyebab dari 30% kematian pada bayi baru lahir. Infeksi neonatus
adalah infeksi yang terjadi pada neonatus yang dapat terjadi pada masa
antenatal, perinatal, dan psot partum.
Infeksi
neonatal dapat diklasifikasikan menjadi :
1. Infeksi
berat, yang meliputi :
a. Sifilis
congenital
b. Sepsis
neonatorium
c. Meningitis
d. Pneumonia
congenital
e. Pneumonia
aspirasi
f.
Pneumonia karena airborn infection
g. Pneumonia
stafilokokus
h. Diare
epidemic
i.
Pielonefritis
j.
Ostis akut
k. Tetanus
neonatorium
2. Infeksi
ringan yang meliputi :
a. Pemfrigus
neonatorium
b. Oftalmia
neonatorium
c. Infeksi
pusat
d. Moniliasis
kandida albicans
4.2
Saran
4.2.1 Bagi mahasiswa
Diharapkan
dengan pembuatan asuhan kebidanan neonatis ini mahasiswa mampu meningkatkan
pengetahuan dan dapat mengembangkan antara teori dan praktek dalam menerapkan
dan melaksanakan asuhan kebidanan pada neonatus aterm usia 2 hari dengan
neonatus infeksi.
4.2.2
Bagi
institusi
Diharapkan
dengan adanya laporan asuhan kebidanan ini dapat menanmbah buku acuan tentang
infeksi neonatus serta pengembangan penangananannya, supaya dapat menambah
tinjauan pustaka dan pengetahuan yang baru bagi mahasiswa dalam menangani kasus
neonatus infeksi.
4.2.3 Bagi lahan praktek
Diharapkan
dengan dibuatnya makalha ini dapat lebih memajukan pelayanan dan memfungsikan
sarana dan prasarana yang tersdia si tempat pelayanan praktel
DAFTAR
PUSTAKA
o
Mansjoer,
Arifin, 2000. Kapita Selekta Kedokteran.
Edisi 3 jilid 2. Jakarta : Media Aesculapis.
o
Manuaba,
1998. Ilmu Kebidanan Penyakit Kandungan
dan KB untuk Pendidikan Bidan. Jakarta : EGC
o
Prawiroharjo,
Sarwono. 2002. Buku Panduan Praktik
Pelayanan Kesehatan Maternal dan Neonatal. Jakarta : YBP – SP
o
Prawiroharjo,
Sarwono. 2006. Ilmu Kebidanan.
Jakarta : YBP – SP
o
Dewi,
Vivian Nanny Lia, 2010. Asuhan Neonatus
Bayi dan Anak Balita. Jakarta : Salemba Media
o
Fauziah,
Afruh dan Sudarti. 2012. Asuhan Kebidanan
Neonatus, Bayi, dan Balita. Yogyakarta : Nuha Medika.
o
Rukiyah,
Ali Yeyehdan Lia Yulianti. 2010. Asuhan
Neonatus Bayi dan Balita. Jakarta : Penerbit Buku Kedokteran.
o
Deslidel,
dkk. 2011. Buku Ajar Asuhan Neonatus,
Bayi & Balita. Jakarta : EGC
o
Bobak.
2004. Keperawatan Matematis. Jakarta
: EGC
o
Ngastiyah.
2001. Perawatan Anak Sakit. Jakarta :
EGC
terima kasih ya ka, sangat membantu
BalasHapus