ASUHAN KEBIDANAN
PADA NY ”L” GIIP10001 UK 08 MINGGU
DENGAN ABORTUS INKOMPLET DI POLI KANDUNGAN
RSI NASRUL UMAH-LAMONGAN
TANGGAL 19 – 30 NOVEMBER 2014
Oleh :
SITI SUNDARI
NIM : 12.10.1.149.0718
SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN NAHDLATUL ULAMA TUBAN PRODI DIII KEBIDANAN
JL. P. DIPONEGORO No. 17 Telp (0356) 321287 TUBAN
TAHUN AKADEMIK 2014/2015
BAB I
PENDAHULUAN
1.1. LATAR BELAKANG
Kematian maternal sering dipakai sebagai indikator kesejahteraan rakyat atau kualitas pembanguan Manusia (IPM/HDI), hal ini didasarkan angka kematian maternal sangat erat kaitannya dengan perubahan kondisi sosial ekonomi masyarakat.
Kematian maternal merupakan kematian dari setiap wanita selama masa kehamilan, bersalin atau dalam 42 hari sesudah berakhirnya kehamilan oleh sebab apapun, tanpa melihat usia dan lokasi kehamilan, oleh setiap penyebab yang berhubungan dengan atau diperberat oleh kehamilan atau penanganannya tetapi bukan oleh kecelakaan atau insidental (faktor kebetulan).
Hal ini sesuai dengan defenisi Internasional Statistical Classification of Disease and Related Health Problems (ICD). Angka kematian maternal kemudian didefenisikan sebagai jumlah kematian maternal selama satu periode waktu dalam 100.000 kelahiran hidup.
Data organisasi kesehatan dunia (WHO) memperkirakan bahwa setiap tahun sejumlah 500 orang perempuan meninggal dunia akibat kehamilan dan persalinan, fakta ini mendekati terjadinya satu kematian setiap menit. Diperkirakan 99% kematian tersebut terjadi di negara-negara berkembang(WHO,2007).
Indonesia adalah salah satu negara yang masih belum bisa lepas dari belitan angka kematian ibu (AKI) yang tinggi. Bahkan jumlah perempuan Indonesia yang meninggal saat melahirkan mencapai rekor tertinggi di Asia.
Berdasarkan Survei Demografi Kesehatan Indonesia (SDKI) tahun 2007, angka kematian maternal di Indonesia mencapai 248/100.000 kelahiran hidup, itu berarti setiap 100.000 kelahiran hidup masih ada sekitar 248 ibu yang meninggal akibat komplikasi kehamilan dan persalinan.
Propinsi di Indonesia dengan kasus kematian ibu melahirkan tertinggi adalah Propinsi Papua, yaitu sebesar 730/100.000 kelahiran hidup, diikuti Propinsi Nusa Tenggara Barat sebesar 370/100.000 kelahiran hidup, Propinsi Maluku sebesar 340/100.000 kelahiran hidup, sedangkan di Sulawesi Selatan berdasarkan profil kesehatan Sulawesi Selatan jumlah kejadian kematian maternal yang dilaporkan pada Tahun 2007 yaitu sebesar 104/100.000 kelahiran hidup, Sedangkan pada tahun 2010 menurun menjadi 92,89 per 100.000 kelahiran hidup ( dinas provinsi sul-sel 2010).
Seperti kita ketahui target Millenium Development Goal’s (MDG’s) salah satunya adalah mengurangi angka kematian ibu (AKI) di seluruh dunia sebesar 75% dari tahun 1900 ke 2015. Sebagai gambaran pada tahun 1990 AKI di Indonesia masih sekitar 408/100.000 kelahiran hidup, sesuai target MDG’s di tahun 2015 akan menjadi 102/100.000 kelahiran hidup. Di sisi lain berdasarkan analisis trend penurunan AKI periode 1900 – 2015 ternyata diperkirakan hanya akan mencapai 52-55% sehingga kemungkinan besar target MDG’s tetang AKI di Indonesia sulit tercapai (Bapenas, 2007).
Tingginya angka kematian maternal diatas dipengaruhi oleh banyak faktor dan sangat kompleks. Faktor medis/langsung disebabkan oleh komplikasi obstetrik atau penyakit kronik yang menjadi lebih berat selama masa kehamilan, sehingga berakhir dengan kematian, yaitu Perdarahan (28%), Eklampsia (24%), Infeksi (11%), Abortus (5%), partus lama, trauma obstetrik (5%), emboli obstetrik (3%).
Masalah abortus erat kaitannya dengan tingginya angka kematian Ibu. Menurut data WHO,presentasi kemungkinan terjadinya abortus cukup tinggi. Sekitar 15-40 % angka kejadian, diketahui pada ibu yang sudah dinyatakan positif hamil. dan 60-70 % abortus terjadi sebelum usia kehamilan 12 minggu ( Lestariningsih, 2009).
Menurut siswanto, lebih dari 90 % Abortus di negara-negara sedang berkembang, dilakukan tidak aman, sehingga berkontribusi 11-13% terhadap kematian maternal di dunia, di Asia Cina memegang rekor angka abortus tertinggi di dunia. Di Cina setiap tahunnya terdapat 13 juta kasus abortus. Demikian diumumkan salah satu surat kabar Cina.(wikipedia , di akses pada 17 juni 2012 ).
Abortus merupakan keluarnya hasil konsepsi sebelum mampu hidup di luar kandungan dengan berat badan kurang dari 500 gram atau umur kehamilan kurang dari 20 minggu. Kejadian abortus sulit di ketahui karena sebagian besar tidak dilaporkan dan banyak di lakukan atas permintaan .
Keguguran spontan diperkirakan sebesar 10%-15%.(Manuaba I.B.G 2009). Sedangkan data yang di peroleh di RSUD. Labuang Baji jumlah kasus abortus yang pernah di rawat dari bulan April – 2011 sampai dengan juni 2012, yaitu terdapat 270 kasus abortus dengan perincian. Abortus imminens 31 kasus, abortus inkomplit 200 kasus,abortus komplit 31 kasus,abortus insipiens 5 kasus,abortus provakatus 1 kasus, dan missed abortion 2 kasus. Dari ke jadian tersebut menunjukkan bahwa abortus inkomplit masih merupakan masalah yang memerlukan penanganan untuk menjadi suatu prioritas RSUD .Labuang Baji Makassar
Kenyataan inilah yang mendorong penulis untuk mengkaji permasalahan dan memaparkannya dalam bentuk karya tulis sebagai wujud perhatian dan tanggung jawab penulis dalam memberikan konstribusi pemikiran pada berbagai pihak yang berkompeten dengan masalah tersebut guna mencari solusi terbaik atas permasalahan diatas.
1.2. Ruang Lingkup Pembahasan
Adapun ruang lingkup dalam pembahasan karya tulis ini mencakup permasalahan pada pendekatan asuhan kebidanan Intra Natal Care patologi Ny. “D” gestasi 15 minggu 6 hari dengan Abortus Inkomplit di RSUD. Labuang Baji Makassar.
1.3. Tujuan Penulisan
Tujuan Umum
Melaksanakan pengkajian Asuhan Kebidanan Intra natal care dengan Abortus Inkomplit berdasarkan asuhan kebidanan dan sesuai dengan wewenang bidan di Poli Kandungan RSI Nasrul Umah Lamongan tanggal 20 November 2014
Tujuan Khusus
Dapat melaksanakan pengkajian data kemudian menganalisa data dasar pada Ny.”L” gestasi 8 minggu 2 hari dengan Abortus Inkomplit di Poli Kandungan RSI Nasrul Umah Lamongan
Dapat menganalisis dan menginterpretasikan data untuk menentukan diagnose/masalah aktual pada Ny.”L” gestasi 8 minggu 2 hari dengan Abortus Inkomplit di Poli Kandungan RSI Nasrul Umah Lamongan.
Dapat mengantisipasi timbulnya diagnosa/masalah potensial pada Ny.”L” gestasi 8 minggu 2 hari dengan Abortus Inkomplit di Poli Kandungan RSI Nasrul Umah Lamongan.
Dapat melaksanakan tindakan segera dan kolaborasi pada Ny.”L” gestasi 8 minggu 2 hari di Poli Kandungan RSI nasrul Umah Lamongan.
Dapat menyusun rencana tindakan asuhan kebidanan pada Ny.”L” gestasi 8 minggu 2 hari di Poli Kandungan RSI Nasrul Umah lamongan.
Dapat melaksanakan tindakan asuhan kebidanan secara langsung pada Ny.”L” gestasi 8 minggu 2 hari di Poli Kandungan RSI Nasrul Umah Lamongan.
Dapat melaksanakan evaluasi asuhan kebidanan yang telah diberikan pada Ny.”L” gestasi 8 minggu 2 hari di Poli Kandungan RSI Nasrul Umah Lamongan.
Dapat mendokumentasikan asuhan Kebidanan pada Ny.”L” gestasi 8 minggu 2 hari dengan Abortus Inkomplit di Poli Kandungan RSI Nasrul umah Lamongan.
1.4 . Manfaat Penulisan
Manfaat Ilmiah
Asuhan kebidanan ini merupakan pengalaman ilmiah yang berharga yang dapat meningkatkan dan menambah wawasan tentang asuhan kebidanan dengan abortus inkomplit.
Manfaat Praktis
Sebagai salah satu sumber informasi bagi penentu kebijakan dan pelaksanaan program, baik Departemen Kesehatan maupun pihak Poli Kandungan RSI Nasrul Umah Lamongan dalam menyusun perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi dalam menetapkan asuhan kebidanan dengan Abortus Inkomplit.
Manfaat Institusi
Sebagai salah satu persyaratan dalam menyelesaikan tugas praktek klinik dan sebagai tambahan literatur perpustakaan untuk mengembangkan pengetahuan mahasiswa mengenai abortus inkomplit.
1.5. Metode Penulisan
Dalam penulisan karya tulis ini, berdasarkan teori ilmiah yang dipadukan dengan praktek dan pengalaman penulis memerlukan data yang objektif dan relevan dengan teori-teori yang dijadikan dasar analisa dalam pemecahan masalah
Metode yang digunakan adalah sebagai berikut :
Studi Kepustakaan
Dengan membaca dan mempelajari literatur atau sumber yang ada kaitannya dengan masalah yang dibahas sebagai dasar teoritis yang digunakan dalam pembahasan karya tulis ini.
Studi kasus
Melaksanakan studi kasus pada Ny.”L” gestasi 8 minggu 2 hari dengan Abortus Inkomplit di Poli Kandungan RSI Nasrul Umah Lamongan tanggal 20 November 2014 dengan pendekatan asuhan kebidanan yang meliputi : pengumpulan data dasar, identifikasi diagnosa/masalah aktual, identifikasi diagnosa/masalah potensial, pelaksanaan tindakan, perumusan rencana tindakan, pelaksanaan tindakan dan evaluasi serta pendokumentasian dalam bentuk SOAP.
Tehnik pengumpulan data yang digunakan adalah ;
Anamnesis
Penulis memperoleh data dengan melakukan tanya jawab langsung pada Ny.”L” dengan Abortus Inkomplit di Poli Kandungan RSI Nasrul Umah Lamongan.
Observasi
Penulis memperoleh data dengan melihat secara langsung Ny.”L” di Poli Kandungan RSI Nasrul Umah Lamongan.
Pemeriksaan fisik dilakukan secara sistematis mulai dari kepala hingga kaki yang meliputi pemeriksaan inspeksi, palpasi, auskultasi, perkusi, pemeriksaan laboratorium, dan USG.
Studi Dokumentasi
Melakukan pengumpulan data atau informasi melalui catatan, arsip yang ada hubungannya dengan status kesehatan ibu.
Diskusi
Penulis menggunakan tanya jawab dengan dokter atau bidan yang menangani lansung serta berdiskusi dengan dosen pembimbing laporan praktik ini.
1.6 Pelaksanaan
Praktek lapangan di lakukan di Poli Kandungan RSI Nasrul Umah Lamongan pada tangal 17-30 November 2014.
1.7 Sistematika Penulisan
BAB I : Berisikan pendahuluan ynag terdiri dari latar belakang, tujuan, ruang lingkup,metode penulisan, pelaksanaan, dan sistematika penulisan.
BAB II : Berisikan tinjauan pustaka, yang terdiri dari konsep dasar kehamilan, konsep dasar abortus dan konsep dasar asuhan kebidanan menurut Hallen Varney.
BAB III : Berisikan tentang tinjauan kasus, pada bab ini yang dibahas adalah pengkajian, diagnosa/masalah-masalah potensial, intervensi, implementasi, dan evaluasi
BAB IV : Berisikan penutup yang terdiri dari kesimpulan dan saran.
DAFTAR PUSTAKA
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Tinjauan Umum Tentang Kehamilan
2.1.1 Pengertian kehamilan
Kehamilan merupakan fertilisasi atau penyatuan dari spermatozoa dan ovum dan dilanjutkan dengan nidasi atau implantasi. Bila dihitung dari saat fertilisasi hingga lahirnya bayi, kehamilan normal akan berlangsung dalam waktu 280 hari (40 minggu) atau 10 bulan atau 9 bulan 7 hari di hitung dari hari pertama haid terakhir (Saifuddin A.B,2002).
Kehamilan terbagi dalam 3 trimester, dimana timester kesatu berlangsung dalam 12 minggu, timester kedua 13 minggu (minggu ke-13 hingga ke-27), dan trimester ketiga 15 minggu (minggu ke-28 hingga ke-40). (Wiknjosastro, H, 2008, hal : 213).
2.1.2 Diagnosis Kehamilan
Tanda tidak pasti kehamilan
Amenorea (Tidak Dapat Haid)
Untuk menentukan usia kehamilan dan perkiraan persalinan yang akan terjadi dihitung dengan menggunakan rumus Naegele.
Mual muntah (nausea and vomiting)
Biasa terjadi pada bulan pertama kehamilan hingga akhir triwulan pertama.
Mengidam (ingin makanan khusus)
Tidak tahan suatu bau-bauan.
Pingsan, sering dijumpai bila berada di tempat ramai.
Tidak ada selera makan (anoreksia).
Lelah (fatique).
Payudara membesar, tegang dan sedikit terasa nyeri disebabkan pengaruh estrogen dan progesteron yang merangsang duktus dan alveoli payudara.
Sering buang air kecil, karena kandung kemih tertekan oleh rahim yang membesar akan hilang pada triwulan kedua kehamilan. Pada akhir kehamilan gejala ini kembali oleh karena kandung kemih tertekan oleh kepala janin.
Konstipasi/Obstipasi
Pengaruh dari progesteron dapat menghambat peristaltik usus mengakibatkan usus kesulitan untuk buang air besar.6
11) Pigmentasi kulit
Pengaruh hormon kortiko-steroid plasenta dijumpai pada muka, areola payudara, leher dan dinding perut.
12) Epulis : hipertropi dan papil gusi.
13) Pemekaran vena-vena (varices).(Wiknjosastro, 2005, hal. 125-126)
b. Kemungkinan hamil
1) Rahim membesar, sesuai dengan tuanya kehamilan.
2) Pada pemeriksaan dijumpai :
Tanda hegar.
Tanda Piscasek.
Tanda Chadwicks.
Teraba ballottment.
3) Pemeriksaan tes biologis kehamilan positif.
c. Tanda pasti kehamilan
1) Terlihatnya embrio atau kantong kehamilan melalui USG pada 4-6 minggu sesudah pembuahan.
2) Denyut jantung janin ketika usia kehamilan 10-20 minggu didengar dengan leanec, alat kardiotografi, alat dopler, atau dilihat dengan ultrasonografi.
3) Terasa gerakan janin dalam rahim. Pada primigravida bisa dirasakan ketika kehamilan berusia 18 minggu, sedangkan pada multigravida diusia 16 minggu. Terlihat atau teraba gerakan janin dan bagian-bagian janin.
4) Pada pemeriksaan dengan sinar rontgen tampak kerangka janin. (Asrinah dkk, 2010).
2.1.3. Perubahan-perubahan fisiologi selama kehamilan
a. Uterus
Uterus akan membesar pada bulan-bulan pertama dibawah pengaruh estrogen dan progesterone yang kadarnya meningkat. Pembesaran ini pda dasarnya disebabkan oleh hipertropi otot polos uterus.
Disamping itu serabut-serabut kolagen yang adapun menjadi higroskopik akibat meningkatnya kadar estrogen sehingga uterus dapat mengikuti pertumbuhan janin. Bila uterus normal lebih kurang 30 gram, pada akhir kehamilan (40 minggu) berat uterus ini menjadi 1000 gram, dengan panjang lebih kurang 20 cm dan dinding lebih kurang 2,5 cm.
Pada bulan-bulan pertama kehamilan bentuk uterus seperti buah advokat, agak gepeng. Pada kehamilan 4 bulan uterus berbentuk bulat, selanjutnya pada akhir kehamilan kembali seperti bentuk semula, lonjong seperti telur. (Wiknjosastro, 2005, hal. 89)
b. Serviks uteri
Serviks uteri pada kehamilan juga mengalami perubahan karena hormon estrogen. Jika korpus uteri mengandung lebih banyak jaringan otot, maka serviks banyak mengandung jaringan ikat, hanya 10 % jaringan otot. Jaringan ikat pada serviks ini mengandung kolagen. Akibat kadar estrogen meningkat, dan dengan adanya hipervaskularisasi maka konsistensi serviks menjadi lunak. (Wiknjosastro, 2005, hal. 94)
c. Vagina dan vulva
Vagina dan vulva akibat hormon estrogen mengalami perubahan pula. Adanya hipervaskularisasi mengakibatkan vagina dan vulva tampak lebih merah, agak kebiru-biruan (livide). Tanda ini disebut tanda chadwicks. (Wiknjosastro, 2005, hal. 95)
d. Ovarium
Pada permulaan kehamilan masih tedapat korpus luteum graviditas sampai terbentuknya plasenta pada kira-kira kehamilan 16 minggu. Korpus luteum graviditas berdiameter kira-kira 3 cm. Kemudian, ia mengecil setelah plasenta terbentuk. (Wiknjosastro, 2005, hal 95)
e. Mammae
Dibawah pengaruh progesterone dan somatomammotropin, terbentuk lemak disekitar kelompok-kelompok alveolus, sehingga mamma menjadi lebih besar. Papila mamma akan membesar, lebih tegang, dan lebih hitam seperti seluruh areola mamma hyperpigmentasi. Glandula mentgomery tampak lebih jelas menonjol dipermukaan aerola mamma. Pada kehamilan 12 minggu ke atas dari puting susu dapat keluar cairan berwarna putih agak jernih, disebut kolostrum. (Wiknjosastro, H, 2005, hal. 95)
f. Sirkulasi darah
Volume darah ibu dalam kehamilan bertambah secara fisiologik dengan adanya pencairan darah yang disebut hemodilusi. Volume darah akan bertambah banyak, kira-kira 25% dengan puncak kehamilan 32 minggu, diikuti dengan cardiac out put yang meninggi sebanyak kira-kira 30%.
Eritrosit dalam kehamilan juga meningkat untuk memenuhi keperluan transport zat asam yang dibutuhkan sekali dalam kehamilan. Meskipun ada peningkatan dalam volume eritrosit secara keseluruhan, tetapi penambahan volume plasma jauh lebih besar, sehingga konsentrasi hemoglobin dalam darah menjadi lebih rendah.
Hal ini tidak boleh dinamakan anemia fisiologi dalam kehamilan, oleh karena jumlah haemoglobin pada wanita hamil dalam keseluruhannya lebih besar dari pada sewaktu belum hamil. (Wiknjosastro, H, 2005, hal.96)
g. Sistem respirasi
Seorang wanita hamil pada kelanjutan kehamilannya tidak jarang mengeluh tentang rasa sesak dan pendek napas. Hal ini ditemukan pada kehamilan 32 minggu ke atas oleh karena usus-usus.(Wiknjosastro, H, 2005, hal 96)
h. Traktus digestivus
Pada bulan-bulan pertama kelahiran terdapat perasaan enek (nausea), mungkin ini akibat kadar hormon estrogen yang meningkat. Tonus otot-otot traktus digestivus menurun, sehingga seluruh traktus digestivus juga berkurang.
Makanan lebih lama berada di dalam lambung dan apa yang telah direncanakan lebih lama berada dalam usus-usus. Hal ini mungkin baik untuk resorpsi, akan tetapi menimbulkan pula obstipasi, yang memang merupakan salah satu keluhan utama wanita hamil. (Wiknjosastro, H, 2005, hal. 97)
i. Traktus urinarius
Pada bulan-bulan pertama kelahiran kandung kencing tertekan oleh uterus yang mulai membesar, sehingga timbul sering kencing. Keadaan ini hilang dengan makin tuanya kehamilan bila uterus gravidus keluar dari rongga panggul. Pada akhir kehamilan , bila kepala janin mulai turun ke bawah pintu atas panggul, keluhan sering kencing akan timbul lagi karena kandung kencing mulai tertekan kembali. (Wiknjosastro, H, 2005, Hal. 97)
j. Kulit
Pada kulit terdapat pigmen dan hyperpigmentasi alat-alat tertentu, pigmentasi ini disebabkan oleh pengaruh melanophore stimulating hormone (MSH) yang meningkat. Kadang-kadang terdapat deposit pigmen pada dahi, pipi dan hidung, dikenal sebagai kloasma gravidarum.
Di daerah leher sering terdapat hyperpigmentasi yang sama, juga aerola mamma. Linea alba pada kehamilan menjadi hitam, dikenal sebagai linea nigra. Tidak jarang dijumpai kulit perut seolah-olah retak-retak, warnanya berubah agak hiperemik dan kebiru-biruan, disebut livide. (Wiknjosastro, H, 2005, hal. 97)
2.1.4. Perubahan psikologi selama kehamilan
a. Trimester pertama (1-3 bulan)
1) Ibu merasa tidak sehat benci dengan kehamilannya
2) Kadang-kadang muncul penolakan, kekecewaan, kecemasan dan sedih.
3) Ibu akan selalu mencari tanda-tanda apakah ia benar-benar hamil, hal ibu dilakukan sekedar untuk meyakinkan dirinya.
4) Setiap perubahan yang terjadi dalam dirinya akan selalu mendapat perhatian dengan saksama
5) Oleh karena perutnya masih kecil,kehamilan merupakan rahasia seorang ibu yang mungkin akan diberitahukan kepada orang lain atau malah mungkin dirahasiakannya.
6) Hasrat untuk melakukan hubungan seks berbeda-beda pada tiap wanita, tetapi kebanyakan akan mengalami penurunan.
b. Trimester kedua (4-6 bulan)
1) Ibu merasa sehat, ibu sudah terbiasa dengan kadar hormon yang tinggi.
2) Ibu sudah bisa menerima kehamilannya
3) Merasakan gerakan anak
4) Hubungan sosial meningkat dengan wanita hamil lainnya atau pada orang lain yang baru menjadi ibu.
5) Ketertarikan dan aktivitasnya terfokus pada kehamilan, kelahiran dan persiapan untuk peran baru.
c. Trimester ketiga (7-9 bulan)
1) Rasa tidak nyaman timbul kembali, merasa dirinya jelek, aneh dan tidak menarik.
2) Merasa tidak menyenangkan ketika bayi lahir tidak tepat waktu.
3) Takut akan rasa sakit dan bahaya fisik yang timbul pada saat melahirkan khawatir akan keselamatannya.
4) Khawatir bayi akan dilahirkan dalam keadaan tidak normal, bermimpi yang mencerminkan perhatian dan kekhawatirannya.
5) Merasa sedih karena akan terpisah dari bayinya.
6) Merasa kehilangan perhatian.
7) Perasaan muda terluka (sensitif).
8) Libido menurun.(Ari Sulystiawati, S. Si. T 2009)
2.1.5. Penatalaksanaan kehamilan (Saifuddin, AB, 2002)
a. Jadwal kunjungan
Setiap wanita hamil menghadapi resiko komplikasi yang bisa mengancam jiwanya. Oleh karena itu, setiap wanita hamil memerlukan sedikitnya empat kali kunjungan selama periode antenatal :
1) Satu kali kunjungan selama trimester I (sebelum 14 minggu).
2) Satu kali kunjungan selama trimester II (antara minggu 14-28)
3) Dua kali kunjungan selama trimester III (antara minggu 28-36 dan sesudah minggu ke 36)
b. Informasi penting untuk ibu hamil
1) Kunjungan I (< 16 minggu) dilakukan untuk :
Penapisan dan pengobatan anemia.
Perencanaan persalinan.
Pengenalan komplikasi akibat kehamilan dan pengobatannya.
2) Kunjungan II (24-28 minggu) dan kunjungan III (32 minggu) dilakukan untuk :
Pengenalan komplikasi akibat kehamilan dan pengobatan.
Preeklamsia, gamelli, infeksi alat reproduksi dan saluran perkemihan.
Mengulang perencanaan persalinan.
3) Kunjungan IV (36 minggu) sampai lahir
Sama seperti kegiatan kunjungan II dan III.
Mengenali adanya kelainan letak.
Memantapkan rencana asuhan.
Mengenali tanda-tanda persalinan.
c. Konseling pada ibu hamil
1) Gizi
Peningkatan komsumsi makanan hingga 300 kalori perhari, mengkomsumsi makanan yang mengandung karbohidrat 2500 gram/hari, protein 6-7 gram, vitamin dan mineral.
2) Perubahan Fisiologis
Peningkatan berat badan ibu antara 6,5-13,5 kg selama hamil atau terjadi kenaikan berat badan sekitar ½ kg/minggu, perubahan pada payudara, tingkat tenaga yang bisa menurun, mual selama triwulan pertama, rasa panas, dan atau varices, hubungan suami istri boleh dilanjutkan selama kehamilan (dianjurkan memakai kondom).
3) Menganjurkan ibu untuk mencari pertolongan segera jika ia mendapat tanda-tanda bahaya berikut
a) Perdarahan pervaginam
b) Sakit kepala lebih dari biasa
c) Gangguan penglihatan
d) Pembengkakan pada wajah/tangan
e) Nyeri abdomen (epigastrik)
f) Janin tidak bergerak
g) Demam dan kejang
h) Keluar cairan ketuban sebelum waktunya
4) Menjelaskan cara merawat payudara terutama pada ibu yang mempunyai puting susu rata atau masuk kedalam. Dilakukan 2 kali sehari selama 5 menit
2.2. Konsep Dasar Asuhan Antenatal Care
2.2.1. Pengertian Antenatal Care
Antenatal care adalah upaya preventif program pelayanan kesehatan obstetri untuk optimalisasi luaran maternal dan neonatal melalui serangkaian kegiatan pemantauan rutin selama kehamilan.(Sarwono Prawirohardjo. 2008, hal 278).
2.2.2. Manfaat Antenatal
Antenatal memberikan manfaat untuk mengetahui kesehatan umum ibu, menegakkan secara dini penyakit yang menyertai kehamilan, menegakkan secara dini komplikasi kehamilan, dan menetapkan risiko kehamilan (risiko tinggi, risiko meragukan, risiko rendah).
Asuhan antenatal juga untuk menyiapkan persalinan, mempersiapkan perawatan bayi dan laktasi serta memulihkan kesehatan ibu yang optimal saat akhir kala nifas.
(Manuaba, 2010, hal 109).
2.2.3. Pentingnya Asuhan Antenatal
Pentingnya mendapatkan asuhan antenatal, yaitu:
a) Membangun rasa saling percaya antara klien dan petugas kesehatan.
b) Mengupayakan terwujudnya kondisi terbaik bagi ibu dan bayi yang dikandungnya.
c) Memperoleh informasi dasar tentang kesehatan ibu dan kehamilannya.
d) Mengidentifikasi dan menatalaksana kehamilan risiko tinggi.
e) Memberikan pendidikan kesehatan yang diperlukan dalam menjaga kualitas kehamilan dan merawat bayi.
f) Menghindarkan gangguan kesehatan selama kehamilan yang akan membahayakan keselamatan ibu hamil dan bayi yang dikandungnya.
2.2.4. Jadwal Kunjungan Asuhan Antenatal
Bila kehamilan termasuk risiko jadwal kunjungan harus lebih ketat, namun, bila kehamilan normal jadwal asuhan cukup 4 kali. Dalam bahasa program kesehatan ibu dan anak, kunjungan antenatal ini diberi kode angka K yang merupakan singkatan dari kunjungan.
Pemeriksaan antenatal yang lengkap adalah K1, K2, K3, dan K4. Hal ini berarti, minimal dilakukan sekali kunjungan antenatal hingga usia kehamilan 28 minggu, sekali kunjungan antenatal selama kehamilan 28-36 minggu dan sebanyak dua kali kunjungan untuk asuhan antenatal pada usia kehamilan di atas 36 minggu.(Sarwono Prawirohardjo, 2008, hal 279).
2.3. Tinjauan umum tentang abortus
2.3.1. Pengertian
Keguguran adalah pengeluaran hasil konsepsi sebelum janin dapat hidup di luar kandungan . di bawah ini di kemukakan beberapa definisi para ahli tentang abortus.
EASTMAN : Abortus adalah keadaan terputusnya suatu kehamilan dimana fetus belum sanggup hidup sendiri di luar uterus.belum sanggup diartikan apabila fetus itu beratnya terletak antara 400-1000 gram,atau usia kehamilan kurang dari 28 minggu.
JEFFCOAT : Abortus adalah pengeluaran dari hasil konsepsi sebelum usia kehamilan 28 minggu, yaitu fetus belum viable.
HOLMER : Abortus adalah terputusnya kehamilan sebelum minggu ke 16, dimana proses plasentasi belum selesai.
Abortus adalah ancaman atau pengeluaran hasil konsepsi sebelum janin dapat hidup diluar kandungan. Sebagai batasan adalah kehamilan kurang dari 20 minggu atau berat janin kurang dari 500 gram
( Sarwono Prawirohardjo ,2008).
Abortus adalah keluarnya janin sebelum mencapai viabilitas. Dimana masa gestasi belum mencaoai 20/22/28 minggu( berbeda tiap literatur) dan beratnya kurang dari 500 gram(Sujiyatini,M.keb,2009).
Abortus adalah berakhirnya suatu kehamilan (oleh akibat-akibat tertentu) sebelum kehamilan tersebut berusia 20 minggu dan berat janin kurang dari 500 gram atau buah kehamilan belum mampu untuk hidup di luar kandungan(Eni Nur Rahmawati, 2011).
Keguguran atau Abortus adalah dikeluarkannya hasil konsepsi sebelum mampu hidup diluar kandungan dengan berat badan kurang dari 1000 gram atau usia kehamilan kurang dari 28 minggu (Manuaba.I.B.G,2010).
2.3.2. Etiologi
Pada kehamilan muda abortus tidak jarang di dahului oleh kematian mudigah.sebaliknya pada kehamilan lebih lanjut biasanya janin di keluarkan dalam keaadaan masih hidup.
Kelainana pertumbuhan hasil konsepsi yang berat dapat menyebabkan kematian mudigah pada kehamilan muda.faktor- faktor yang dapat menyebabkan kelainan dalam pertumbuhan ialah sebagai berikut
a. Kelaianan kromoson kelainan yang sering di temukan pada abortus spontan adalah trisomi,poliploidi dan kemungkinan pula kelainan kromoson seks.
b. Lingkungan kurang sempurna
bila lingkungan di endometrium di sekitar tempat implantasi kurang sempurna sehingga pemberian zat- zat makanan pada hasil konsepsi terganggu.
c. Pengaruh dari luar Radiasi
virus,obat- obat, dan sebagainya dapat mempengaruhi baik hasil konsepsi maupun lingkungan hidupnya dalam uterus.
Pengaruh ini umumnya di namakan pengaruh teratogen.Zat teratogen yang lain misalnya tembakau,alkohol,kafein, dan lainnya.
d. Kelainan pada placenta
Endarteritis dapat terjadi dalam vili chorialis dan oksigen placenta terganggu,sehingga menyebabkan gangguan pertumbuhan dan kematian janin keadaan ini biasa terjadi sejak kehamilan muda misalnya karena hipertensi menahun
e. Penyakit Ibu
1) Penyakit infeksi dapat menyebabkan abortus yaitu;pneumonia,tifus bab dominalis,pielonefritis, malarie ,dan lainnya. Toksin, bakteri, virus, atau plasmodium dapat melalui placenta masuk ke janin, sehingga menyebabkan kematian janin, kemudian dapat terjadi abortus
2) Kelainan endokrin misalnya diabetes mellitus, berkaitan dengan derajat kontrol metabolik pada trimester pertama.selain itu juga hypotirodisme dapat meningkatkan resiko terjadinya abortus, dimana auto anti bodi tiroid menyebabkan peningkatan insidensi abortus walaupun tidak terjadi hipotiroidisme yang nyata.
3) . Kelainan traktus urogenital
mioma uteri , atau kelainan bawaan uterus dapat menyebabkan abortus.tetapi ,harus diingat bahwa hanya rertroversion uteri gravid inkarserata atau mioma sub mukosa yang memegang peranan penting.
Sebab lain abortus dalam trimester ke- 2 ialah serviks inkompeten yang dapat disebabkan oleh kelemahan bawaan pada serviks, dilatasi serviks berlebihan, konisasi,amputasi,atau robekan serviks luas yang tidak di jahit.
2.3.3. Patofisiologi terjadinya abortus
Pada awal abortus terjadi perdarahan dalam desidua basalis kemudian diikuti oleh nekrosis jaringan di sekitarnya.hal tersebut menyebabkan hasil konsepsi terlepas sebagian atau seluruhnya, sehingga merupakan benda asing dalam uterus. keadaan ini menyebabkan uterus berkontraksi untuk mengeluarkan isinya.
Pada kehamilan kurang dari 8 minggu hasil konsepsi biasanya di keluarkan seluruhnya karena villi koriales belum menembus desidua lebih dalam,sehingga hasil konsepsi mudah di lepaskan .pada kehamilan 8 sampai 14 minggu villi korialis menembus desidua lebih dalam sehingga umumnya plasenta tidak di lepaskan sempurna yang dapat menyebabkan banyak perdarahan.
Pada kehamilan 14 minggu ke atas umumnya yang di keluarkan setelah ketuban pecah adalah janin di susul dengan plasenta. Perdarahan jumlahnya tidak banyak jika placenta segera terlepas dengan lengkap.
Hasil konsepsi pada abortus dapat di keluarkan dalam berbagai bentuk. Ada kalanya kantong amnion kosong atau tampak di dalamnya benda kecil tanpa bentuk jelas( blighted ovum) atau janin telah mati dalam waktu yang lama ( missed abortion). apabila mudigah yang mati tidak di keluarkan secepatnya,maka akan menjadi mola karneosa.Mola karneosa merupakan suatu ovum yang di kelilingi oleh kapsul bekuan darah.Kapsul memiliki ketebalan bervariasi, dengan villi koriales yang telah bergenerasi tersebar diantaranya..
Rongga kecil di dalam yang terisi cairan tampak mennggepeng dan terdistorsi akibat dinding bekuan darah yang lama tebal.Bentuk lainnya adalah mola tuberosa,dalam hal ini amnion tampak berbenjol- benjol karena terjadi hematoma antara amnion dan korion.
Pada janin yang telah meninnggal dan tidak di keluarkan dapat terjadi proses mumifikasi.Mumifikasi merupakan proses pengeringan janin karena cairan amnion berkurang akibat di serap,kemudian janin menjadi gepeng (fetus kompresus).dalam tingkat lebih lanjut janin dapat menjadi tipis seperti kertas perkamen ( fetus papiraseus).kemungkinan lain pada janin mati yang tidak cepat di keluarkan adalah terjadinya maserasi.
Tulang –tulang tengkorak kolaps dan abdomen kembung oleh cairan yang mengandung darah. Kulit melunak dan terkelupas in utero atau dengan sentuhan ringan.organ- organ dalam mengalami degenerasi dan nekrosis.
2.3.4. Klasifikasi Abortus berdasarkan tindakan
Berdasarkan jenis tindakan, abortus di bedakan menjadi 2 golongan yaitu;
1) Abortus spontan
Abortus yang berlangsung tanpa tindakan. Kata lain yang di gunakan adalah keguguran ( miscarriage).
2) Abortus provokatus
Abortus provokatus adalah pengakhiran kehamilan sebelum 20 minggu akibat suatu tindakan.
Abortus provokatus di bagi menjadi 2 yaitu :
1) Abortus provokatus terapeutik/ artificialis
Merupakan terminasi kehamilan secara medis atau bedah sebelum janin mampu hidup (viabel). Beberapa indikasi untuk abortus terapeutik diantaranya adalah penyakit jantung persisten dengan riwayat dekompensasi cordis dan penyakit vaskuler hipertensi tahap lanjut. Yang lain adalah carsinoma serviks invasif. American College Obstetricians and gynecologists (1987) menetapkan petunjuk untuk abortus terapeutik:
a. Apabila berlanjutnya kehamilan dapat mengancam nyawa Ibu atau mengganggu kesehatan secara serius. Dalam menentukan apakah memang terdapat resiko kesehatan perlu di pertimbangkan faktor lingkungan pasien.
b. Apabila kehamilan terjadi akibat perkosaan atau incest. Dalam hal ini pada evaluasi wanita yang bersangkutan perlu di terapkan kriteria medis yang sama.
c. Apabila berlanjutnya kehamilan kemungkinana besar menyebabkan lahirnya bayi dengan retardasi mental atau deformitas fisik yang berat.
2) Abortus provokatus kriminalis
Abortus provokatus kriminalis adalah interupsi kehamilan sebelim janin mampu hidup atas permintaan wanita yang bersangkutan, tetapi bukan karena alasan penyakit janin atau gangguan kesehatan Ibu.sebagian besar abortus yang di lakukan saat ini termasuk dalam kategori ini.
Secara klinik abortus dapat di klasifikasikan menjadi :
1) Abortus imminens
Abortus imminens adalah peristiwa terjadinya perdarahan dari uterus pada kehamilan sebelum 20 minggu, dimana hasil konsepsi masih dalam uterus dan tanpa dilatasi serviks. Pada kondisi seperti ini, kehamilan masih mungkin berlanjut atau dipertahangkan.
2) Abortus insipiens
Abortus insipiens adalah peristiwa perdarahan uterus pada kehamilan sebelum kehamilan 20 minggu dengan adamya dilatasi serviks uterus yang meningkat,tetapi hasil konsepsi masih dalam uterus. Kondisi ini menunjukkan proses abortus sedang berlangsung dan akan berlanjut menjadi abortus inkomplit atau komplit.
3) Abortus inkomplit
Abortus inkomplit adalah pengeluaran sebagian hasil konsepsi pada kehamilan sebelum 20 minngu dengan masih ada sisa tertinggal dalam uterus.
4) Abortus komplit
Abortus komplit adalah pengeluaran seluruh hasil konsepsi pada kehamilan 20 minggu.
5) Abortus tertunda ( Missed abortion)
Abortus tertunda adalah kematian janin berusia sebelum 20 minggu,tetapi janin yang mati tersebut tidak di keluarkan selama 8 minggu atau lebih. Etiologi missed abortion tidak di ketahui,tetapi di duga adanya pengaruh hormon progesteron. Pemakaian hormon progesteron pada abortus imminens mungkin juga dapat menyebabkan missed abortion.
6) Abortus habitualis
Abortus habitualis adalah abortus spontan yang terjadi 3 kali atau lebih berturut- turut.etiologi abortus habitualis pada dasarnya sama dengan penyebab abortus spontan.selain itu telah di temukan sebab imunologik yaitu kegagalan reaksi terhadap antigen lymphocyte trophoblast cross reactiv (TLX). Pasien dengan reaksi lemah atau tidak ada akan mengalami abortus.
7) Abortus infeksiosa, abortus septik
Abortus infeksiosa adalah abortus yang disertai infeksi pada genetalia,sedangkan abortus septik adalah abortus infeksiosa berat disertai penyebaran kuman atau toksin ke dalam peredaran darah atau peritonium.
8) Abortus servikalis
Pada abortus servikalis keluarnya hasil konsepsi dari uterus di halangi oleh ostium uteri eksternum yang tidak membuka,sehingga semuanya terkumpul dalam kanalis servikalis,dan serviks uteri menjadi besar dengan dinding yang menipis.
2.3.5. Diagnosis
Abortus harus di duga bila seorang wanita dalam masa reproduksi mengeluh tentang perdarahan pervaginam setelah mengalami terlambat haid. Kecurigaan tersebut di perkuat dengan di tentukannya kehamianlan muda pada pemeriksaan bimanual dan dengan tes kehamilan secara biologis( Galli Manini) atau imonologik ( pregnosticon,Gravindex ).
Sebagai kemungkinan diagnosisi yang lain harus di pikirkan kehamilan ektopik terganggu,molahidatidosa,atau kehamilan dengan kelainan pada serviks. Kehamilan ektopik terganggu dengan hematokel retrouterina kadang sulit di bedakan dengan abortus di mana uterus posisi retroversi. Pada keduanya ditemukan amenorrhea di sertai perdarahan pervaginam, rasa nyeri di perut bagian bawah, dan tumor di belakang uterus. Tetapi keluhan nyeri biasanya lebih hebat pada kehamilan ektopik.
Apabila gejala- gejala menunjukkan kehamilan ektopik terganggu,dapat dilakukan kuldosintetis untuk memastikan diagnosanya. Pada molahidatidosa uterus biasanya lebih besar daripada lamanya amenorrea dan muntah lebih sering. Apabila ada kecurigaan terhadap molahidatidosa, perlu dilakukan pemeriksaan ultrasonografi.
Karsinoma servik uteri, polypus serviks dan sebagainya dapat menyertai kehamilan. Perdarahan dari kelainan ini dapat menyerupai abortus. Pemeriksaan dengan spekulum , pemeriksaan dengan sitologik dan biopsi dapat menentukan diagnosis dengan pasti.
Abortus imminens
Diagnosis abortus imminens di tentukan karena adanya perdarahan melalui ostium uteri eksternum, di sertai mules sedikit atau tidak sama sekali, uterus membesar sebesar tuanya kehamilan, serviks belum membuka, dan tes kehamilan positif.
Pada beberapa wanita hamil dapat timbul perdarahan sedikit pada saat haid yang semestinya datang jika tidak terjadi pembuahan. Hal ini di sebabkan oleh penembusan villi korialis ke dalam desidua,pada saat implantasi ovum. Perdarahan implantasi biasanya sedikit, darah berwarna merah, dan cepat berhenti, serta tidak di sertai mules.
Pemeriksaan penunjang yang dapat ,menegakkan diagnosa abortus imminens salah satunya adalah dengan pemeriksaan USG. Pada USG dapat di temukan buah kehamilan masih utuh,tetapi pulsasi jantung janin belum jelas.
Abortus insipiens
Diagnosis abortus insipiens ditentukan karena adanya perdarahan melalui ostium uteri eksternum, disertai mules atau adanya kontraksi uterus. Pada pemeriksaan dalam,ostium terbuka, buah kehamilan masih di dalam uterus,serta ketuban masih utuh dan dapat menonjol. Pada kehamilan lebih dari 12 minggu biasanya perdarahan tidak banyak dan bahaya perforasi pada kerokan akan lebih besar, maka sebaiknya proses abortus dipercepat dengan pemberian infus oksitosin.
Abortus Inkomplit
Diagnosis abortus inkomplit di tentukan karena adanya perdarahan melalui ostium uteri eksternum, disertai mules atau adanya kontraksi uterus. Apabila perdarahan banyak dapat menyebabkan syok dan perdarahan tidak akan berhenti sebelum sisa hasil konsepsi di keluarkan. Pada pemeriksaan vaginal, kanalis servikalis terbuka dan jaringan dapat di raba dalam kavum uteri atau kadang- kadang sudah menonjol dari ostium uteri eksternum.
Abortus inkomplit sering berhubungan dengan aborsi yang tidak aman, oleh karena itu periksa tanda- tanda komplikasi yang mungkin terjadi akibat abortus provokatus seperti perforasi, dan tanda – tanda infeksi atau sepsis.
Abortus komplit
Pada abortus komplit di temukan adanya perdarahan yang sedikit, ostium uteri telah menutup, dan uterus telah mengecil. Diagnosis dapat di permudah apabila hasil konsepsi dapat di periksa dan dapat dinyatakan bahwa semuanya sudah keluar dengan lengkap.
Abortus tertunda ( missed abortin )
Dahulu diagnosis biasanya tidak dapat di tentukan dalam satu kali pemeriksaan, melainkan memerlukan waktu pengamatan untuk menilai tanda-tanda tidak tumbuhnya atau bahkan mengecilnya uterus yang kemudian menghilang secara spontan atau setelah pengobatan. Gejala subyektif kehamilan menghilang, mammae agak mengendor lagi, uterus tidak membesar lagi bahkan mengecil, tes kehamilan menjadi negatif, serta denyut jantung janin menghilang.
Dengan ultra sonografi ( USG ) dapat di tentukan segera apakah janin sudah mati dan besarnya sesuai dengan usia kehamilan. Perlu di ketahui pula bahwa missed abortion kadang-kadang di sertai gangguan pembekuan darah karena hipofibrinogenemia, sehingga pemeriksaan ke arah itu perlu di lakukan.
Abortus habitualis
Diagnosis abortus habitualis tidak sukar ditentukan dengan anamnesis. Khususnya diagnosis abortus habitualis karena inkompetensi menunjukkan gambaran klinik yang khas yaitu dalam kehamilan triwulan kedua terjadi pembukaan serviks tanpa disertai rasa mules, ketuban menonjol dan pada suatu saat pecah. kemudian timbul mules yang selanjutnya diikuti dengan pemeriksaan vaginal tiap minggu. Penderita sering mengeluh bahwa ia telah mengeluarkan banyak lendir dari vagina.
Diluar kehamilan penentuan serviks inkompeten di lakukan dengan histero salfingografi yaitu ostium internum uteri melebar lebih dari 8 mm.
Abortus infeksiosa, abortus septik
Diagnosis abortus infeksiosa di tentukan dengan adanya abortus yang disertai gejala dan tanda infeksi alat genetalia, seperti panas, takikardi, perdarahan pervaginam yang berbau,uterus yang membesar, lembek serta nyeri tekan, dan adanya leukositosis.Apabila terdapat sepsis, penderita tampak sakit berat,kadang-kadang menggigil. Demam tinggi, dan tekanan darah menurun. Untuk mengetahui kuman penyebab perlu di lakukan pembiakan darah dan getah pada serviks uteri.
Abortus servikalis
Pada abortus servikalis keluarnya hasil konsepsi dari uterus di halangi oleh ostium uteri eksternum yang tidak membuka, sehingga semuanya terkumpul dalam kanalis sevikalis, dan serviks uteri menjadi besar dengan dinding yang menipis. Pada pemeriksaan di temukan serviks membesar dan diatas ostium uteri eksternum teraba jaringan.
2.3.6. Penanganan
1. Penilaian awal
Untuk penanganan yang memadai, segera lakukan penilaian dari:
Keadaan umum pasien
a) Tanda – tanda syok seperti pucat,berkeringat banyak,pingsan, tekanan sistolik < 90 mmhg, nadi > 112 x / menit. Bila syok disertai dengan massa lunak di adneksa, nyeri perut bawah, adanya cairan bebas dalam cavum pelvis, pikirkan kemungkinan kehamilan ektopik terganggu.
b) Tanda – tanda infeksi atau sepsis seperti demam tinggi,sekret berbau pervaginam, nyeri perut bawah, dinding perut tegang, nyeri goyang portio, dehidrasi, gelisah atau pingsan.
c) Tentukan melalui evaluasi medik apakah pasien dapat di tatalaksana pada fasilitas kesehatan setempat atau di rujuk (setelah di lakukan stabilisasi).
d) Penanganan spesifik
1. Abortus imminens
a. Tidak diperlukan pengobatan medis yang khusus atau tirah baring total
b. Anjurkan untuk tidak melakukan aktivitas fisik secara berlebihan atau melakukan hubungan seksual.
c. Bila perdarahan berhenti; lakukan asuhan antenatal terjadwal dan penilaian ulang bila terjadi perdarahan lagi
d. Bila perdarahan terus berlangsung; nilai kondisi janin (uji kehamilan /USG) lakukan konfirmasi kemungkinan adanya penyebab lain (hamil ektopik atau mola).
e. Pada fasilitas kesehatan dengan sarana terbatas,pemantauan hanya dilakukan melalui gejala klinik dan hasil pemeriksaan ginekologis
2. Abortu insipiens
a. Lakukan prosedur evakuasi hasil konsepsi. Bila usia gestasi ≤ 16 minggu,evakuasi dilakukan dengan peralatan aspirasi vakum manual (AVM ) Setelah bagian – bagian janin di keluarkan. Bila usia gestasi ≥ 16 minggu,evakuasi di lakukan dengan prosedur di latasi dan kuretase (D & K)
b. bila prosedur evakuasi tidak dapat segera dilaksanakan atau usia gestasi lebih besar dari 16 minggu, lakukan tindakan pendahuluan dengan:
Infus oksitosin 20 unit dalam 500 ml NS atau RL mulai dengan 8 tetes/menit yang dapat di naikkan hingga 40 tetes/menit,sesuai dengan kondisi kontraksi uterus hingga terjadi pengeluaran hasil konsepsi.
Ergometrin 0,2 mg IM yang di ulangi 15 menit kemudian.
Misoprostol 400 mg peroral dan apabila masih diperlukan, dapat diulangi dengan dosis yang sama setelah 4 jam dari dosis awal.
c. Hasil konsepsi yang tersisa dalam kavum uteri dapat di keluarkan dengan AVM atau D&K (hati-hati resiko peforasi )
3. Abortus komplit
a. Apabila kondisi pasien baik,cukup di beri tablet ergometrin 3x1 tablet/ hari untuk 3 hari
b. Apabila pasien mengalami anemia sedang,berikan tablet sulfas ferosus 600 mg/ hari selama 2 minggu di sertai dengan anjuran mengkomsumsi makanan bergizi.untuk anemia berat berikan transfusi darah.
c. Apabila tidak terdapat tanda-tanda infeksi tidak perlu di beri antibiotika, atau apabila khawatir akan infeksi dapat di beri anti biotik profilaksis.
1). Abortus infeksiosa
a. Kasus ini beresiko tinggi untuk terjadi sepsis,apabila fasilitas kesehatan setempat tidak tidak mempuyai fasilitas yang memadai, rujuk pasien ke RS.
b. Sebelum merujuk pasien lakukan restorasi cairan yang hilang dengan NS atau RL melalui infuse dan berikan antibiotik( misalnya ampicillin 1gr dan metronidazole 500 mg).
c. Jika ada riwayat abortus tidak aman,beri ATS dan TT.
d. Pada fasilitas kesehatan yang lengkap, dengan perlindungan antibiotik berspektrum luas dan upaya stabilisasi hingga kondisi pasien memadai, dapat di lakukan pengosongan uterus dengan segera (lakukan secara hati-hati karena tingginya kejadian perforasi pada kondisi ini).
Tabel 1. Kombinasi antibiotika untuk abortus infeksiosa
Table 2 Antibiotika parenteral untuk abortus septik
Kombinasi antibiotika
Dosis oral
Catatan
Ampicillin dan metronidazole 3x1 gr oral
dan 3x500 mg Berspektrum luas dan mencakup untuk gonorrhea dan bakteri anaerob
Tetrasiklin dan klindamisin 4x 500 mg
dan 2x 300 mg Baik untuk klamidia,gonorrhea,
bakteroidesfragilis
Trimethoprim dan sulfamethoksazol 160 mg
dan 800 mg Spectrum cukup luas dan harganya relatif murah
Antibiotika Cara pemberian Dosis
Sulbenisillin
gentamicin
metronidazole
IV 3x1 gr
2x80 gr
2x1gr
Ceftriaksone IV 1x1 gr
Amoksicillin +
Klavulanik acid klindamisin IV
I V 3 x500 mg
3x600 mg
4. Abortus tertunda (missed abortion)
Missed abortion seharusnya ditangani di rumah sakit atas pertimbangan :
a. Placenta dapat melekat erat di dinding rahim, sehingga prosedur evakuasi (kuretase)akan lebih sulit dan resiko perforasi lebih tinggi.
b. Pada umunya kanalis serikalis dalam keadaan keadaan tertutup sehingga perlu tindakan dilatasi dengan batang laminaria selama 12 jam.
c. Tingginya kejadian komplikasi hipofibrinogenemia yang berlanjut dengan gangguan pembekuan darah.
5. Abortus habitualis
a. Penyebab dari abortus habitualis sebagian besar tidak di ketahui oleh karena itu penanganannya terdiri dari: memperbaiki keadaan umum,pemberian makanan yang sempurna ,menganjurkan untuk istirahat yang cukup, larangan koitus dan olahraga.
b. Terapi dengan hormon progesteron,vitamin,hormon tiroid, dan lainnya mungkin hanya mempunyai pengaruh psikologis karena penderita mendapat kesan penderita diobati
c. Apabila pada pemeriksaan histerosalpingografi yang di lakukan di luar kehamilan menunjukkan kelainan miom submukosa atau uterus bikornus maka kelainan tersebut dapat di perbaiki dengan pengeluaran miom atau penyatuan kornu uterus dengan operasi menurut strassman
d. Pada serviks inkompeten, apabila penderita telah hamil sebaiknya di lakukan pada kehamilan 12 minggu atau lebih sedikit. Dasar operasi adalah memperkuat jaringan serviks yang lemah dengan melingkari daerah ostium uteri internum dengan benang sutera atau dakron yang tebal.
Bila terjadi gejala dan tanda abortus insipiens,maka benang harus segera di putuskan,agar pengeluaran janin tidak terhalangi.apabila operasi berhasil, maka kehamilan dapat dilanjutkan sampai hampir cukup bulan dan benang dipotong pada kehamilan 38 minggu. Operasi tersebut dapat di lakukan menurut cara Shirodkar atau cara Mac Donald.
6. Abortus servikalis
Terapi terdiri atas dilatasi serviks dengan busi Hegar dan kerokan untuk mengeluarkan hasil konsepsi dari kanalis servikalis.
2.3.7. Komplikasi
Komplikasi yang berbahaya pada abortus adalah perdarahan, perforasi, infeksi, dan syok.
a. Perdarahan
perdarahan dapat di atasi dengan pengosongan uterus dari sisa- sisa hasil konsepsi dan jika pelu diberikan transfusi darah,kematian karena perdarahan dapat terjadi apabila pertolongan tidak di berikan pada waktunya.
b. Perforasi
Perforasi uterus pada kerokan dapat terjadi terutama pada uterus dalam posisi hiperretrofleksi.jika terjadi peristiwa ini, penderita perlu di amati dengan teliti.jika ada tanda bahaya,perlu segera di lakukan laparatomi dan tergantung dari luas dan bentuk perforasi,penjahitan luka perforasi atau perlu histerektomi
c. Infeksi
Infeksi dalam uterus dan adneksa dapat terjadi dalam setiap abortus tetapi biasanya di dapatkan pada abortus inkomplet yang berkaitan erat dengan suatu abortus yang tidak aman( unsafe abortion).
d. Syok
Syok pada abortus dapat terjadi karena pendarahan (syok hemoragik) dan karena infeksi berat (syok endoseptik).
2.4. Tinjauan umum tentang abortus inkomplit.
2.4.1. Pengertian Abortus Inkomplit
Abortus inkomplit adalah pengeluaran sebagian hasil konsepsi pada kehamilan sebelum 20 minggu dengan masih ada sisa yang yang tertinggal dalam uterus.sehingga sisanya memberikan gejala klinis.( Sujiyatini,M.Keb,2009)
Abortus inkomplit adalah pengeluaran sebagian hasil konsepsi dari kavum uteri pada kehamilan kurang dari 20 minggu atau berat janin kurang dari 500 gram.( Sarwono Prawirohardjo,2008)
2.4.2. Gejala klinis yang dapat terjadi:
a) Perdarahan memanjang, sampai terjadi keadaan anemis.
b) Perdarahan mendadak banyak menimbulkan keadaan gawat.
c) Terjadi infeksi dengan di tandai suhu tinggi.
d) Dapat terjadi degenerasi ganas (korio karsinoma).
Pada pemeriksaan di jumpai gambaran :
a) Kanalis servikalis terbuka
b) Dapat diraba jaringan dalam rahim atau di kanalis servikalis atau kadang- kadang sudah menonjol dari ostium uteri eksternum.
c) Kanalis servikalis tertutup dan perdarahan berlangsung terus
d) Dengan pemeriksaan sonde perdarahan bertambah.
e) Pada USG di dapatkan endometrium yang tipis dan irreguler.
f) Abortus yang baru terjadi didapati serviks terbuka serta uterus yang berukuran lebih kecil dari kehamilan dan kantong gestasi sulit untuk di kenali
2.4.3. Penanganan abortus inkomplit :
Bila terjadi perdarahan yang hebat dapat di pasang infus dan transfusi darah untuk memulihkan keadaan umum. di anjurkan segera melakukan pengeluaran sisa hasil konsepsi secara digital agar jaringan yang mengganjal terjadinya kontraksi uterus segera di keluarkan,kontraksi uterus dapat berlangsung baik dan perdarahan bisa berhenti,selanjutnya di lakukan tindakan kuretase langsung pada umur kehamilan kurang dari 14 minggu. Dan dengan induksi pada umur kehamilan diatas 14 minggu.
Pengobatan yang di berikan yaitu uterustonika dan anti biotika untuk menghindari terjadinya infeksi.
Penanganan spesifik :
a) Tentukan besar uterus ( taksir usia gestasi),kenali dan atasi setiap komplikasi ( perdarahan hebat, syok, infeksi atau sepsis).
b) Hasil konsepsi yang terperangkap pada serviks yang disertai dengan perdarahan hingga ukuran sedang,dapat di keluarkan secara di gital atau cunan ovum. Setelah itu evaluasi perdarahan. Bila perdarahan terus berlangsung,evakuasi sisa hasil konsepsi dengan AVM atau D& K( pilihan tergantung dari usia gestasi,pembukaan serviks dan keberadaan bagian – bagian janin.Bila perdarahan berhenti, beri ergometrin 0,2 mg IM atau misoprostol 400 mg peroral.
c) Bila tidak ada tanda-tanda infeksi, beri antibiotik profilaksis ( ampisilin 500 mg oral atau doksisiklin 100 mg )
d) Bila terjadi infeksi ,beri ampisillin 1gr dan metronidazole 500 mg setiap 8 jam.
e) Bila terjadi perdarahan hebat dan usia gestasi dibawah 16 minggu,segera lakukan evakuasi dengan AVM.
f) Bila pasien tampak anemik, berikan sulfas ferosus 600 mg perhari selama 2 minggu (anemi sedang) atau transfusi darah (anemi berat).
Pada beberapa kasus ,abortus inkomplit erat kaitannya dengan abortus tidak aman,oleh sebab itu perhatikan hal-hal berikut
Pastikan tidak ada komlikasi berat seperti sepsis,perforasi uterus,atau cidera intra abdomen(mual/muntah,nyeri punggung,demam,perut kembung,nyeri perut bwah,dinding perut tegang,nyeri ulng lepas).
Bersihkan ramuan tradisional, jamu,bahan kaustik,kayu,atau benda- benda lainnya dari region genitalia.
Berikan boster tetanus toksoid 0,5 ml bila tampak luka kotor pada dinding vagina atau kanalis servikalis dan pasien pernah diimunisasi.
Bila riwayat pemberian imunisasi tidak jelas, berikan serum anti tetanus (ATS) 1500 unit IM diikuti dengan pemberian tetanus toksoid 0,5 ml setelah 4 minggu.
Konseling untuk kontrasepsi pasca keguguran dan pemantauan lanjut.
2.5. Konsep Dasar Asuhan Kebidanan (Tinjauan Teori Menurut Varney)
2.5.1.Pengkajian
Data Subyektif
Identitas Klien dan Suami
Nama : untuk membedakan dengan pasien yang lain
Umur : untuk mengetahui keadaan pasien sesuai dengan umur
Suku/bangsa : mengetahui kebudayaan / adat istiadat daerahnya
Agama : mempermudah dalam memberikan dukungan spiritual
Pendidikan : mengetahui status pengetahuan
Alamat : mengetahui tempat tinggal
No. Register : mempermudah pencarian data
Alasan Kunjungan Saat Ini / Keluhan Utama
Mengetahui masalah yang dirasakan pada ibu hamil saat ini sehingga mempermudah asuhan dan untuk menegakkan diagnosa.
Riwayat Menstruasi
Mengetahui status kesehatan reproduksi pada ibu hamil serta dapat menentukan tafsiran persalinan dan HPHT.
Riwayat Kehamilan, Persalinan dan Nifas Yang Lalu
Mengetahui riwayat obstetrik pada ibu hamil yang dapat mengganggu kehamilan, persalinan dan nifas lalu.
Riwayat Kehamilan Sekarang
Untuk mengetahui usia kehamilan sekarang / saat ini, kapan mulai dirasakan gerakan janin, berapa kali periksa kehamilan, imunisasi TT.
Riwayat Kesehatan / Penyakit Keluarga
Untuk mengetahui apakah dalam keluarga ada yang menderita penyakit yang sama atau penyakit menular dan keturunan gemeli.
Riwayat Psikososial
Untuk mengetahui apakah pasien mengalami kecemasan atau tidak selama hamil.
Pola Kehidupan Sehari-hari
Untuk mengetahui bagaimana pola istirahat sehari-hari pasien, nutrisi yang diasup ibu, frekuensi BAB/BAK, kebersihannya, aktivitasnya dan bagaimana hubungan seksualnya sebelum hamil maupun selama hamil.
Data Obyektif
Pemeriksaan Umum
Meliputi kesadaran, keadaan umum, tinggi badan, berat badan, respirasi, nadi, suhu dan tekanan darah.
Pemeriksaan Obstetrik
Ukuran panggul luar :
Distansia spinarum : 23-26 cm
Distansia cristarum : 26-29 cm
Boudeloque : 18-20 cm
Lingkar panggul : 80-90 cm
Pemeriksaan Fisik
Inspeksi
Rambut : Mengetahui tingkat kesehatan dan kebersihan
Muka : Mengetahui perubahan karena kehamilan / setelah melahirkan, apakah ada cloasma gravidarum
Mata : mengetahui apakah ada anemia yang dapat dilihat dari konjungtiva
Mulut : mengetahui kebersihan, kesehatan adanya caries gigi, gigi berlubang stomatitis, bibir kering
Leher : mengetahui adanya kelainan dan pembesaran kelenjar tyroid, kelenjar vena jugularis
Payudara : mengetahui keadaan payudara untuk mendeteksi bila ada kelainan
Perut : melihat adanya tanda-tanda perubahan fisiologis atau patologis dan lihat apakah ada luka bekas jahitan, linea, striae
Vulva : mengetahui keadaan normal / abnormal pada pasien
Anus : mengetahui apakah ada hemoroid
Ekstremitas : apakah ada kelainan, odem, trombophelebitis
Palpasi
TFU : untuk menentukan tinggi fundus uteri dan mengetahui usia kehamilan (cm)
Leopold I : untuk mengetahui bagian apa yang berada di fundus dan mengetahui usia kehamilan, normalnya teraba lunak, agak bulat, kurang melenting (bokong)
Leopold II : untuk menentukan bagian samping kanan atau kiri para perut ibu, normalnya teraba panjang, keras, seperti papan (punggung)
Leopold III : untuk menentukan bagian terendah janin dan apa yang berada dibagian terendah janin, normalnya teraba keras, bulat dan melenting (kepala).
Leopold IV : untuk menentukan bagian terendah janin sudah masuk PAP atau belum dan sudah berapa bagian yang masuk PAP
Auskultasi : DJJ terdengar jelas disebelah kanan/kiri di daerah pusat normal DJJ adalah 120-160x/mnt
Perkusi : reflek patella antara kanan dan kiri apakah +/+.
Pemeriksaan Penunjang
Menentukan diagnosa yang dapat meliputi Hb, albumin, reduksi, USG, rontgen
2.5.2 Interpretasi Data Dasar
Dengan mengidentifikasi diagnosa masalah, kebutuhan
Diagnosa : G …… P …… UK …… T/H, intra uterin, letkep, keadaan ibu dan janin baik
Ds : Adanya penyakit yang didapat dari data dasar yaitu data subyektif dan data obyektif.
Do : penatalaksanaan yang dilakukan untuk memperbaiki kesehatan klien
2.5.3 Mengidentifikasi Diagnosa atau Masalah Potensial
Meliputi : dioagnosa potensial, masalah potensial dan dasar
Diagnosa potensial : yang mungkin terjadi dalam diagnosa dan dasar kita untuk mengetahui tingkat keparahan klien tersebut
Masalah potensial : masalah yang timbul dan berhubungan dengan penyulit.
2.5.4 Identifikasi Tindakan Segera
Tindakan yang dilakukan segera mungkin terdapat klien agar masalah / penyulit yang dihadapi dapat terselesaikan dengan baik dan jika tidak bisa ditangani bisa dilakukan kolaborasi dengan dokter / tenaga kesehatan lain
2.5.5. Merencanakan Asuhan yang Menyeluruh
Menyusun rencana sistematis untuk memberikan pengobatan secara tepat, baik dan sesuai dengan kebutuhan
2.5.6 Implementasi / Pelaksanaan
Pelaksanaan diagnosa yang telah diterapkan sehingga petugas kesehatan memberikan pengobatan secara tepat, benar dan sesuai dengan kebutuhan
2.5.7 Evaluasi
Kesimpulan dari semua data diatas yang telah dikaji ulang untuk mengetahui tindakan apa saja yang telah dilakukan dan diberikan kepada pasien.
S : ………………………………
O : ………………………………
A : ….............................
P : ………………………………
BAB III
TINJAUAN KASUS
3.1 Pengkajian
Tanggal : 20 November 2014 Jam : 11.00 WIB Oleh : Siti Sundari
Data Subyektif
Identitas
Nama klien : Ny. “L” Nama suami : Tn “W”
Umur : 27 tahun Umur : 35 tahun
Bangsa/suku : Indonesia/Jawa Bangsa/suku : Indonesia/Jawa
Agama : Islam Agama : Islam
Pendidikan : SLTA Pendidikan : SLTA
Pekerjaan : IRT Pekerjaan : Swasta
No. Register : 05.50.49 Alamat : Jl. Mayong RT/RW ¾ Karang Binangun Lamongan
Alasan Kunjungan Saat Ini / Keluhan Utama
Ibu mengatakan mengalami perdarahan banyak dan sejak kemarin maghrib perut terasa mulas dan panas.
Riwayat Menstruasi
Siklus menstruasi : 28 hari Menarche : 13 tahun
Lama : 7 hari HPHT : 23-09-2014
Warna : merah TP : 02-07-2015
Bau : Anyir
31
Riwayat Kehamilan, Persalinan dan Nifas yang Lalu
No Suami ke UK Jns. Persal Penol Penyul BB/PB Jns. Kel H / M Meneteki
1
2
1 36 mg
hamil Spt. B
ini Bidan
-
2500 kg
L
9 th
2 th
Riwayat Kehamilan Ini / ANC / TT
Ibu mengatakan bahwa kehamilan yang ke-2 dengan usia kehamilan 8 minggu . Ini adalah kunjungan yang pertama di Poli Kandungan RSI Nasrul Umah Lamongan, status imunisasi TT sebanyak 2 kali, keluhan saat ini mengalami perdarahan banyak dan sejak kemarin maghrib perut terasa mules dan panas.
Riwayat Kesehatan
Riwayat penyakit yang pernah atau sedang diderita
Ibu mengatakan tidak pernah menderita penyakit menular kronis maupun penyakit menurun.
Riwayat penyakit keluarga / keturunan
Ibu mengatakan bahwa dalam keluarga tidak pernah menderita penyakit menular, kronis maupun penyakit menurun.
Perilaku kesehatan
Ibu mengatakan bahwa tidak memiliki kebiasaan-kebiasaan yang dapat mempengaruhi kesehatan seperti merokok atau minum-minuman beralkohol budaya tarak masih ada dalam keluarganya.
Riwayat Psikososial
Ibu mengatakan kehamilan ini sangat diharapkan dan keluarganya juga menerima dengan senang hati.
Pola Kehidupan Sehari-hari
Pola Nutrisi
Sebelum hamil : Ibu mengatakan makan dan minum 2-3x/hari dengan porsi sedang dengan menu nasi, sayur, lauk pauk dan minum 8-9 gelas/hari
Selama hamil : Ibu mengatakan makan 3x/hari dengan porsi lebih banyak menunya seperti nasi, lauk pauk, sayur dan kadang-kadang buah, minum 7-8 gelas sehari ditambah susu 1 gelas.
Pola Eliminasi
Sebelum hamil : Ibu mengatakan BAB 1x/hari, konsistensi lunak BAK 4x/hari
Selama hamil : Ibu mengatakan makan 3x/hari dengan porsi lebih banyak menunya seperti nasi, lauk pauk, sayur dan kadang-kadang buah, minum 7-8 gelas sehari ditambah susu 1 gelas.
Pola Aktivitas
Sebelum hamil : Ibu mengatakan melakukan aktivitas seperti biasa mencuci, masak, nyapu dan lain-lain.
Selama hamil : Ibu mengatakan bekerja seperti biasa hanya saja sedikit dikurangi untuk pekerjaan yang berat-berat.
Pola Istirahat / Tidur
Sebelum hamil : Ibu mengatakan tidur malam 8-9 jam/hari dan tidur siang 1-2 jam / hari
Selama hamil : Ibu mengatakan tidur malam 6-7 jam/hari dan tidur siang 1-2 jam/hari.
Data Obyektif
Pemeriksaan Umum
Kesadaran : Composmentis
KU : Baik
TB / BB : 155 cm / 59 kg
Tensi / Nadi / Suhu : 105/72 mmHg, 93x/mnt, 37 0C
Pemeriksaan Obstetrik
Ukuran panggul luar
Distansia spinarum : tidak dikaji
Distansia cristarum : tidak dikaji
Bodeloque : tidak dikaji
Lingkar panggul : tidak dikaji
Pemeriksaan Kehamilan
Inspeksi
Rambut : bersih, hitam, tidak berketombe, dan tidak mudah rontok
Muka :
Cloasma gravidarum : tidak ada
Conjungtiva : merah muda
Sclera : putih
Leher :
Pembesran : normal, tidak ada pembesaran kelenjar tyroid dan vena jugularis
Struma : tidak ada
Dada
Payudara
Bentuk : simetris
Areola : hiperpigmentasi
Putting susu : erektil
Keluaran : colostrum belum keluar
Perut
Strie : albicans
Linea : linea nigra
Pembesaran : sesuai dengan usia kehamilan
Vulva
Warna : kuning langsat
Luka parut : tidak ada
Keluaran : tidak ada
Varices : tidak ada
Odema : tidak ada
Anus : normal, tidak ada hemoroid
Ekstremitas atas / bawah : tidak ada odema atau varices
Palpasi
TFU : belakang sympisis
Leopold I : -
Leopold II : -
Leopold III : -
Leopold IV : -
Auskultasi
DJJ : Negativ
Perkusi
Reflek patella : +/+
4. Pemeriksaan Penunjang
Darah
HB :
Urine
Albumin : -
Reduksi : -
USG : Abortus Inkomplit
Gsn 8 minggu
3.2 Interpretasi Data
Diagnosa : GIIP10011UK 8 minggu dengan Abortus Inkomplit
Masalah : Perdarahan banyak dan perut mulas di sertai panas
3.3 Mengidentifikasi Diagnosa atau Masalah Potensial
Identifikasi diagnosa dan masalah potensial sesuai dengan diagnosa dan masalah potensial yang sudah diidentifikasi.
Diagnosa / Masalah potensial : Perdarahan, perforasi,infeksi, dan syok
3.4. Identifikasi Tindakan Segera
Kuretase
3.5. Merencanakan Asuhan yang Menyeluruh
Tujuan : setelah dilakukan Asuhan kebidanan selama 30 menit di harapkan dapat mengatasi masalah/keluhan klien
Kriteria :
Klien paham dengan penjelasan petugas
Klien kooperatif dengan tindakan petugas
Menemukan diagnosa yang tepat/sesuai berdasarkan keluhan klien
NO INTERVENSI RASIONAL
1 Jalin komunikasi terapeutik dengan klien Agar klien kooperatif dengan tindakan yang akan di lakukan
2 Lakukan anamnesis dengan klien mencakup seluruh keluhan klien Untuk mengetahui masalah klien dan menentukan diagnosis sementara berdasarkan apa yang dirasakan klien
3 Lakukan pemeriksaan TTV Untuk mengetahui tanda-tanda vital klien apakah dalam batas normal atau tidak
4 Kolaborasi dengan dokter Sp.oG Untuk memberikan terapi yang tepat dan sesuai
5 Berikan dukungan dan motivasi Agar ibu tidak sedih dan berputus asa
3.6 Implementasi / Pelaksanaan
Tanggal : 20 November 2014 Jam : 11.15 Wib
NO IMPLEMENTASI TTD
1 Menjalin komunikasi terapeutik dengan klien
2 Melakukan anamnesis (tanya jawab) dengan klien sesuai dengan keluhan-keluhan klien
3 Melakukan pemeriksaan TTV
TD : 105/72 mmHg
Nadi : 93x/menit
Suhu : 370C
5 Melakukan kolaborasi dengan dokter Sp.oG untuk memberikan terapi yang tepat dan sesuai, yaitu : Kuretase
6 Memberikan dukungan dan motivasi kepada ibu bahwa ibu akan dapat kembali hamil setelah rahimnya bersih dan cukup kuat untuk menerima buah kehamilan yang kurang lebih sekitar 6 bulan pasca kuretase, pindahkan ke ruang VK bersalin
3.7 Evaluasi
Tanggal : 20 November 2014 Jam : 11.30wib
S : Ibu mengatakan paham dengan penjelasan yang telah diberikan dokter dan petugas serta bersedia untuk di lakukan kuretase jam 15.00 wib
O : Ibu bersedia di lakukan kuretase
TTV = TD 105/72 mmHg, Nadi 93x/mnt, Suhu 370C
Hasil USG : Abortus Inkomplit
Gsn : 8 minggu
A : GIIP1001 UK 8 minggu dengan Abortus Inkomplit
P : - Kuretase jam 15.00 wib
- Berikan antibiotik profilaksis (ampicillin 500 mg/oral)
- Sulfas ferosus 600 mg/hari selama 2 minggu (bila TD masih dibawah batas normal)
- Berikan HE tentang :
Nutrisi
Aktivitas/istirahat
Seksual
KB
BAB IV
PENUTUP
Kesimpulan
Kehamilan merupakan fertilisasi atau penyatuan dari spermatozoa dan ovum dan dilanjutkan dengan nidasi atau implantasi. Bila dihitung dari saat fertilisasi hingga lahirnya bayi, kehamilan normal akan berlangsung dalam waktu 280 hari (40 minggu) atau 10 bulan atau 9 bulan 7 hari di hitung dari hari pertama haid terakhir (Saifuddin A.B,2002).
Abortus adalah berakhirnya suatu kehamilan (oleh akibat-akibat tertentu) sebelum kehamilan tersebut berusia 20 minggu dan berat janin kurang dari 500 gram atau buah kehamilan belum mampu untuk hidup di luar kandungan(Eni Nur Rahmawati, 2011).
Abortus inkomplit adalah pengeluaran sebagian hasil konsepsi pada kehamilan sebelum 20 minggu dengan masih ada sisa yang yang tertinggal dalam uterus.sehingga sisanya memberikan gejala klinis.( Sujiyatini,M.Keb,2009)
Abortus inkomplit adalah pengeluaran sebagian hasil konsepsi dari kavum uteri pada kehamilan kurang dari 20 minggu atau berat janin kurang dari 500 gram.( Sarwono Prawirohardjo,2008)
yangdi tandai dengan gejala-gejala :
a) Perdarahan memanjang, sampai terjadi keadaan anemis.
b) Perdarahan mendadak banyak menimbulkan keadaan gawat.
c) Terjadi infeksi dengan di tandai suhu tinggi.
d) Dapat terjadi degenerasi ganas (korio karsinoma).
Saran
Bagi Mahasiswa
Mahasiswa mampu untuk melakukan asuhan pada klien dengan menerapkan teori yang diperoleh dibangku perkuliahan dengan masalah yang ada di lahan praktek.
Bagi Lahan Praktek
Diharapkan dengan pembuatan makalah ini dapat lebih untuk memajukan pelayanan dan memfungsikan sarana serta prasarana yang tersedia di tempat pelayanan praktek
DAFTAR PUSTAKA
Mansjoer, Arif. 2000. Kapita Selekta Jilid I, Jakarta : Media Aesculapius
Prawirohardjo, Sarwono. 2002. Ilmu Kebidanan. Jakarta : YBP-SP
Mochtar, Rustam. Prof. Dr. 1998. Sinopsis Obstetri Jilid I. Jakarta : EGC
Prawirohardjo, Sarwono. 2002. Pelayanan Kesehatan Maternal dan Neonatal. Jakarta : EGC
Sastrawinata, Prof, Sulaiman. 1993. Obstetri Fisiologi. Bandung : Eleman.
Prawirohardjo, 2008,Ilmu kebidanan, Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo,2007 Jakarta.
Manuaba I.B.G, 2010, Ilmu Kebidanan, Penyakit Kandungan dan Keluarga Berencana, EGC. Jakarta.
Varney Helen, 1997, Midwifery Text Book Third Edition, Jones and Bartlett. London.
Wijono, 2009, Pengaruh Aborsi, http://www.Pikiranrakyat.com diakses 20 November 2014
Wiknjosastro Hanifa, dkk, 2008, Ilmu Kebidanan, Edisi III. Cetakan VI. YBP SP. Jakarta.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar